Mahabarata 3 : Kurusetra War

Oleh : Ficky Tri Sanjaya
Mabaharata 3 : Kurusetra War. Foto : tamanbudayayogyakarta.com

Mahabharata Part 3 adalah salah satu dari program seni pertunjukan yang digagas oleh Hiroshi Koike Bridge Project (HKBP) dengan tujuan untuk menciptakan jembatan antara batas kebudayaan, waktu, dan negara sebagai proyek seni, yang berlangsung di Jepang dan Asia. Dimulai dari tahun 2012 antara lain ada tiga macam yaitu Trilogy “Kenji Miyazawa” series (2012-),  PAN ASIA Mahabharata project (2013-), SEKAI series (2016-). Selain pertunjukan panggung Hiroshi juga melakukan melakukan workshop, pameran seni, dengan dan dalam berbagai media seperti film, fotografi dan penulisan (http://kikh.com/english/profile.html). Hiroshi Koike adalah direktur artistik, penulis, koregrafer, statge disigner, fotografer, berasal dari Hitachi, Ibaraki Perfecture Jepang. Setelah bekerja menjadi sutradara di TV, ia mendirikan kelompok seni pertunjukan “Pappa TARAHUMARA” pada tahun 1982. Dia telah menyutradarai 55 karya dan bekerja dengan banyak seniman di banyak negara. Dia menjadi salah satu seniman penting di Jepang karena memegang banyak pos komite seni.

Kali ini melalui proyek PAN ASIA dia menggarap proyek Mahabarata yang dalam pengantar buku pertunjukan disebut bahwa proses penciptaan pertunjukan ini dibagi dalam 5 bagian, kemudian diperas menjadi 2 bagian awal dan akhir. Proyek ini dikerjakannya berkolaborasi dengan seniman seni tradisi. Menururut Hiroshi kerjasama dengan seniman tradisi memiliki kaitan dinamis ruang dan waktu masa lalu, kini dan depan terkait dengan Mahabharata. Penggarapan proses pertunjukan dan pementasaanya juga dilakukan di beberapa negara–Vietnam, India, Indonesia, Malaysia, Thailand, Shanghai, Manila dengan mengerjakan perbagian hingga puncaknya seluruh bagian akan dipentaskan saat pembukaan Olimpiade Tokyo, Jepang 2020. Aktor-aktor yang terlibat antara lain Carlon Matobato (Filipina), Gunawan Maryanto, Riyo Tulus Pernado, Sandhidea Cahyo Nerpati, Suryo Purnomo, Wangi Indria (Indonesia) Kayano Tetsuro, Shirai Sachiko (Jepang), Lee Swee Keong (Malaysia). Pertunjukan Mahabarata Part 3 Kurusetra War Tanggal 24 – 25 November 2016, digelar Taman Budaya Yogyakarta, bekerjasama dengan Kelola dan Teater Garasi.

Sore itu kursi penonton nampak penuh. Penonton yang hadir menonton telah memesan tiket jauh hari sebelum acara dimulai, juga ada undangan untuk tamu-tamu bagi komunitas-komunitas seni pertunjukan. Panggung pertunjukan Societet Militer Taman Budaya tampak luas dan lengang. Setting panggung berada di belakang berjajar selang-seling terbuat dari besi-besi yang dengan ukuran sedang kira-kira ukuran dada orang dewasa, bermotif aneka bentuk dan warna tumbuhan maupun binatang, berfungsi sekaligus untuk menaruh pakaian pemain, desain set panggung tersebut oleh Agung Kurniawan seorang perupa Jogja. Di depannya kosong kurang lebih 2,5 meteran. Lampu panggung sangat mencolok dan kuat memenuhi setiap ruang disertai asap yang memperkuat garis-garis jatuh lampu pada spot-spot panggung, dengan warna yang aneka macam, ditata oleh Ignatius Sugiarto penata lampu Teater Garasi.

Temaram dan kuat saat pemain-pemain melintas satu persatu perlahan dengan gerak tempo dan pola lantai beragam. Membuat garis putus-putus atau cepat, jatuh dan bangun, ada yang terkena panah, ada yang masih berperang, berkejaran, lari atau melompat serta berguling. Itulah suasana kekacauan perang Kurusetra. Konstum-kostum unik bermotif campur garis-garis lurik dan motif bunga, dominasi warna tua didesain Lulu Lutfi Labibi seorang perancang busana. Wajah dengan topeng-topeng karakter mencolok dan kuat, nampaknya percampuran macam berasal dari beberapa negara. Muncul Tokoh Destrarata kebingungan dan ketakutan akan perang besar yang telah terjadi menimpa kehancuran keluarganya. Dia seperti kehilangan arah dan pegangan. Sekelompok moyet mengerumuni dan mengganggunya. Datanglah beberapa orang prajurit yang menyelamatkannya, mengusir monyet-moyet nakal tersebut. Hingga busur panah besar keluar dari atas, panah tersebut hadir seperti mimpi buruk Destrarata menuju arahnya, lampu padam. Begitulah pembukaan dan penutupan pertunjukan sore itu, begitulah alur umum yang dibuat, sebagai cara bertutur logis sutradara memahami Mahabharata. Perang adalah mimpi buruk yang mengancam jika tidak dapat dihindari atas nama apapun, banyak korban akan berjatuhan.

“Apa yang lebih penting daripada moral?”

“Dharma”

Perang sudah dimulai. Korban tewas sudah tak terhitung lagi.

Dan dimanakah kita sekarang? Kemana kita menuju?

(salah satu petikan dari sinopsis cerita Part III )

Screen di atas bagian depan panggung, di sisi kosong lengkungan hitam samping kanan dan kiri atas depan panggung muncul cahaya membawa susunan huruf narasi-narasi cerita Mahabharata. Dimulai saat keluarga Pandawa setelah masa pengasingannya dari hutan, ingin meminta janji hak kerajaan miliknya yang dikuasi Kurawa. Namun ditolak oleh Duryudana, sehingga hal tersbut memulai api pertikaian yang memuncak menjadi perang besar. Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam cerita muncul silih berganti mendapat peran bagian visual dalam adegan tari koreografi, dialog, maupun lagu. Seperti Krisna sebagai juru Damai, Dorna sebagai guru Pandawa dan Kurawa, Karna, Arjuna, Nakula dan Sadewa, Drupadi, Destrarata dan Sanjaya. Penggarapan pertunjukan dengan dialog berbagai bahasa bercampur seperti Jawa, Indonesia, Ingris, jepang dan lain-lain. Banyak menggunakan gerak pelan, sedang dan cepat, tatanan koregrafi dan posisi letak pemain yang rapi serta rampak. Beberapa adegan perang bergerombol, kuda kepang, gajah kepang, busur panah, pedang, dan visual lautan darah saat perang akan dimulai, diiringi musik kotemporer dan tradisi oleh Kensuke Fuji dan Peni Candra Rini. Penggarapan sutradara cukup rapi dan detail dalam format koregrafi panggung, semua aktor posisinya dan geraknya dapat terlihat dalam ruang panggung pertunjukan konvensional.

Yang menarik dari gagasan peristiwa ini adalah keberanian dan pengalaman Hiroshi sebagai sutradara dalam mewujudkan gagasan proyek besar ini dengan kerjasama banyak pihak terutama untuk kawasan Asia. Selain juga menggarap beberapa proyek lain dalam kurun waktu panjang tentu membutuhkan manajemen yang baik. PAN ASIA ini dibuat dengan tujuan konteks kritik atas cara pikir barat yang dominan hampir di seluruh dunia seperti saat ini. Oleh karenanya Epos cerita Mahabharata diambil sebagai pijakan atau jembatan aktivitas artistik dalam menciptakan jembatan filososfi antar seni dan kehidupan untuk melawan ketakutan, ketiadaan rasa hormat, terhadap sesama.

Proyek garapan dan program besar pertunjukan yang digagas oleh Hiroshi Koike dengan pengalaman penciptaan, kemampuan baik kerjasama dalam menggalang kerjasama banyak pihak, membangun wacana, gagasan, workshop, pamera seni berbagai media yang ia bangun sebagai wujud eksistensi kelompoknya. Tentu jalan dan strategi yang ditempuh setiap kelompok bermacam-macam, tergantung pada visi dan cita-cita, dengan atau tanpa bantuan negara adalah pilihan. Proses kreatif terhadap pemeliharaan gagasan dan ide baik kecil maupun besar harus terus disirami, kecil dan besar hanya ukuran, baik dan buruk adalah nilai. Perang telah dimulai dan kehidupan kota tetap berjalan seperti adanya.

Yogyakarta 2 Desember 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *