Li Tu Tu: Peristiwa Estetis?

oleh : Renee Sariwulan

Apakah koreografi sebagai sebuah peristiwa? Bagi saya ia adalah desain estetis yang sengaja dibuat, berangkat dari gagasan tertentu, namun tidak dipertahankan sebagai suatu produk yang final. Desain estetis tersebut terbuka untuk berinteraksi dengan beragam hal dalam presentasinya, yang (sebagai konsekuensinya) mengarahkan karya itu menyerap beragam pengalaman dalam setiap pementasannya.

Itulah yang saya tangkap pada karya terbaru Ayu Permata Sari, Li Tu Tu. Karya ini ia tampilkan di Jogja National Museum (JNM) selama lima hari, 11-15 Oktober 2018.  Ayu berangkat dari penelitian dia terhadap Suku Semendo di Lampung. Suku Semendo memiliki tari komunal yang disebut tari Kuadai. Tari ini berupa tari piring yang ditarikan oleh perempuan. Li Tu Tu adalah akronim dari Lingkaran Tunggu Tubang. Tunggu Tubang merupakan sebutan bagi anak perempuan pertama dalam sebuah keluarga Suku Semendo. Ia diberi kuasa mengelola perekonomian keluarga besarnya berikut segala persoalan yang mereka hadapi. Spirit dan kuasa Tunggu Tubang menjadi salah satu gagasan Ayu dalam karya ini. Selain itu ia juga mengambil dua motif gerak tari Kuadai, sebagai dasar pengembangan gerak maupun motivasi gerak di karya ini. Motif pertama adalah dua ibu jari tangan sebagai tumpuan piring. Motif kedua adalah piring di tangan kanan dilempar ke tangan kiri lawan, dan sebaliknya.

“Lingkaran” dalam judul karya bermakna lingkaran kehidupan Tunggu Tubang. Posisi penonton dipilih melingkar agar penari menyadari bahwa seluruh tubuh dari arah manapun harus “dihidupkan”, sehingga penari mengaktifkan seluruh tubuh. Di samping itu koreografer juga ingin melahirkan kemungkinan-kemungkinan interpretasi penonton dari arah yang berbeda-beda, sehingga masing-masing penonton memiliki pengalaman yang berbeda.

Di posisi penonton saya merasakan kedekatan, saya merasa terlibat dalam proses penari. Intensitas gerak dan tubuh yang terjadi dalam lingkaran penonton begitu kuat getarannya saya rasakan di tubuh saya sendiri. Ketegangan yang meningkat maupun mengendur ; ruang pergerakan yang menyempit disertai kecepatan yang meningkat, lalu kembali ke kondisi sebaliknya. Tangan yang memegang piring dan tangan yang berimajinasi memegang piring … semuanya seakan memberi pengalaman “berayun-bergoyang” yang berbeda pada “tubuh penonton” saya. Hal serupa dirasakan oleh penonton lain. Ia mengemukakan bahwa intensitas gerak penari dan posisi penonton yang melingkari arena pentas membuatnya merasa sangat dekat dengan karya ini. Hal tersebut menimbulkan ketidaknyamanan dan membuat ia ingin menjauh, menjadi penonton yang berjarak sebagaimana yang ia rasakan sebagai penonton tari pada pertunjukan-pertunjukan sebelumnya.

Seorang penari perempuan berdiri di atas tumpukan piring. Kedua tangannya terangkat setinggi kepala dengan ibu jarinya menyangga piring. Rambutnya disanggul ke atas. Ia mengenakan gaun hitam. Penari lain adalah sepasang perempuan dan laki-laki. Keduanya berdiri saling berhadapan. Masing-masing memegang satu piring lalu saling melempar dan menangkap piring dengan irama sedang. Penari laki-laki mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana hitam, berdasi hitam, bersepatu, rambut tersisir licin. Penari perempuan pasangannya mengenakan gaun hitam, bersepatu, rambut disanggul ke atas. Sikap, posisi dan gerak tiga penari seperti itu mendominasi hampir seluruh pertunjukan berdurasi satu jam.

Awal menyelam di pentas ini saya merasakan adanya semacam ritual yang sedang berlangsung khusyuk. Di tengah kekhusyukan itu piring yang tengah berada dalam lemparan penari seperti ingin menempuh jalan di luar pola yang dibentuk penari. Ia seperti ingin bicara sendiri di luar pola yang ada. Kemudian terasa pula peran yang silih berganti antara piring dan penari, antara yang mengendalikan dan yang dikendalikan. Ritual itu kemudian seakan “dirusak” ketika piring dipecahkan, atau pecah tanpa disengaja. Namun sebelumnya, di antara gerak yang muncul nampak semacam keengganan gerak penari di tengah ritual itu, yang menyebabkan piring jatuh. Di kesempatan lain piring jatuh di tengah gerak penari yang intens. Jika piring jatuh, penari mengambil piring lain di sudut arena pentas. Interaksi gerak lempar-tangkap piring itu disisipi gerak kepala tengadah, juga mengarah diagonal, lalu kembali ke posisi netral.

Kemudian ada kalanya penari bergerak dalam pola yang sama tanpa piring. Tubuh yang dibiarkan bergerak tanpa piring itu bergerak cepat-lambat, merapat-melebar, rendah-tinggi, lalu berhenti. Sepasang penari juga berjalan di atas pecahan piring. Di kesempatan lain penari bergerak ke arah penonton, mengajak salah satu penonton bergerak lempar-tangkap piring. Penonton ada yang merespon, ada yang tidak. Salah satu jari di tangan kanan penari memakai cincin, ketika menangkap piring pertemuan cincin dan piring menimbulkan bunyi. Lempar-tangkap piring juga dilakukan penari dengan variasi pose-pose tertentu : mengangkat salah satu kaki, jongkok, merunduk. Tubuh berhenti bergerak ketika ia merasa harus berhenti.

Lalu apa yang terjadi dengan penari perempuan yang berdiri di atas tumpukan piring? Posisi saya berhadapan dengan punggung/bagian belakang badannya. Di posisi itu saya merasakan vibrasi kaki dan tangannya. Pada satu kesempatan ia bergerak pelan, torsonya condong ke depan, lalu kembali lagi ke posisi semula. Di kesempatan lain, piring tangan kirinya jatuh. Kemudian ada waktu tertentu di mana pandangan saya ke tubuhnya dihalangi/ditutup oleh tubuh penari laki-laki sehingga memunculkan kesan yang berbeda.

Jika ia berdiri sebagai Tunggu Tubang, maka saya menangkap sosok perempuan rentan sekaligus kokoh. Ia berdiri berjam-jam di atas tumpukan piring dengan membawa tanggungjawab di kedua ibu jarinya yang berpotensi hancur. Saya tidak tahu apakah ini menggambarkan kondisi Tunggu Tubang saat ini di tempatnya? Atau ini berkaitan dengan tiga konsep yang diujicobakan koreografer di karya ini : komunikasi, respon, kepercayaan. Ayu mencoba mengembangkan konsep “kepercayaan” pada tubuh, kostum, interaksi penari dengan penonton dan situasi. Konsep kepercayaan ini pula yang mendasari arah pertunjukan ini sebagai sesuatu yang terbuka, bahwa pertunjukan ini adalah proses. Saya menyebutnya : peristiwa. Dalam konteks “peristiwa”, Li Tu Tu hadir sebagai bagian dari proses perjalanannya sendiri di ruang kreatif. Selain itu ia juga hadir sebagai bagian dari proses besar realita yang tak tertata dan tak bisa diperkirakan. Karenanya ia siap bergerak bersama arus realita, membiarkan segala sesuatu di luar pentas hadir di luar kendali maupun penataan estetis. Berkaitan dengan ini Ayu mengatakan: “Li Tu Tu memiliki bagian-bagian, tapi dalam melakukan setiap bagian kami membuka diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Pada setiap pementasan karya ini kami merasakan kejutan-kejutan / hal-hal yang tak terduga. Di sini respon, komunikasi, kepercayaan pada partner-tubuh-pikiran-properti sangat penting. Ada beberapa penonton yang merencanakan menonton beberapa kali untuk melihat peristiwa-peristiwanya.”

Maka, kehadiran suara musik yang sedang cek sound di ruang lain pada hari pertama, kehadiran pentas live musik di panggung lain pada hari kedua, pecahan-pecahan piring yang berbeda, penonton yang berbeda, respon tubuh terhadap kejutan-kejutan, adalah segala “desain tak terduga” yang menemani karya ini berproses bersama.

Namun, kembali ke Tunggu Tubang, apakah proses yang ia alami di panggungnya sendiri? Sebagai penyangga, sebagai perempuan, sebagai manusia … ?

Anyway Ayu, tulisan ini kupersembahkan pada kerja keras dan kerja cerdasmu, bersama para penari hebatmu, dan pelaku tari lain di negeri ini yang melakukan kerja kreatif di ruang sunyi masing-masing dengan kesungguhan. SELAMAT.

Renee Sariwulan, penulis dan pengamat seni pertunjukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *