LABORAN GERAK Pasar Tari 2500

oleh: Renee Sari Wulan.

Ke mana tubuhmu?

Pertanyaan ini adalah pemicu kegelisahan Wawa Saptarini, penari-koreografer-pelaku tari komersial, ketika ia berjumpa dengan pengajar di institusi akademiknya di Bandung. Pertanyaan itu muncul sebagai semacam ‘gugatan’ atas hilangnya “tubuh Jaipong” dari Wawa — menurut kacamata pengajar tersebut — ketika Wawa sedang banyak melakukan praktik tari komersial sebagai penari klasik Sunda. Di sini ia merasakan adanya semacam ‘benturan’ ketika laku tubuhnya di wilayah tari komersial berhadapan dengan tari di ruang akademik maupun penciptaan di ranah tari kontemporer.  Hal tersebut berlanjut dengan munculnya keinginan menelusuri lebih jauh apa yang sesungguhnya terjadi dalam laku ketubuhan ketika ia berada di dua dunia: tari komersial dan tari kontemporer. Penelusuran ini berwujud sebuah proyek yang ia dan kelompoknya sebut sebagai Laboran Gerak, Pasar Tari 2500. Program-program di dalamnya meliputi:

  • Riset tubuh tari komersial di Solo, Yogya, dan Surabaya. Periset mengikuti perjalanan kerja penari komersial di wilayahnya, mencatat dan mengumpulkan data lapangan dan referensi berkaitan dengan konteks yang dihadapi.
  • Diskusi hasil riset di tiga kota tersebut.
  • Melakukan uji coba transaksi gerak di pasar Tjihapit Bandung. Di sini mereka membagikan pada publik pengunjung pasar pola-pola gerak yang mereka kumpulkan dari riset gerak tari komersial di tiga kota sebelumnya. Pola-pola gerak itu mereka susun dalam sebuah katalog gerak. Pola gerak yang dipilih akan  langsung ditarikan di hadapan pengunjung pasar, dan mereka akan memberlakukan tarif transaksi sebesar Rp. 2500,- Angka ini adalah simbol cara pandang “khalayak seni”, yang mereka tafsirkan, terhadap tari komersial yang kerap tidak dianggap sebagai bagian dari “seni” tersebut. Harga Rp. 2500,- adalah pencerminan dari pandangan terhadap tari komersial yang dianggap tidak berharga, rendah, kelas “recehan”, dsb. Selanjutnya pola-pola gerak yang dipilih pengunjung pasar Tjihapit akan mereka kumpulkan untuk mereka proses dalam ruang penciptaan studio, di mana Wawa bertindak sebagai koreografernya.
Pasar Tari 2500

Pada diskusi yang saya ikuti di pendopo Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) 10 Desember 2018, muncul beragam tanggapan hasil dari refleksi memori yang memicu pernyataan-pernyataan dan temuan-temuan. Yang utama adalah tari kontemporer dan tari komersial sebagai dua ruang yang memiliki standard, gaya, karakter dan profesionalitas masing-masing. Di dua ruang itu pun terdapat “jenjang karier” sesuai ukuran masing-masing. Menarik mengetahui dari hasil riset ini di Yogya, terdapat kompetisi Penari Gambyong yang diadakan setiap tahun, sehingga tiap tahunnya ada Penari Gambyong tahun ini (Gambyong Dancer of the year). Tari Gambyong adalah salah satu tarian dalam ranah tari komersial. Lalu ada tari Karonsih, salah satu tari tradisi Jawa, yang dari sejarahnya memang sejak awal diciptakan sebagai tari komersial. Karenanya masing-masing, antara tari komersial dan tari kontemporer memiliki “ukuran” keberhasilan dan kegagalannya sendiri. Namun bukan berarti keduanya tak bersentuhan sama sekali. Pada praktiknya hampir semua pelaku tari mengalami dua ruang tersebut. Ada yang kemudian memutuskan untuk cenderung pada salah satu dari dua ruang itu, ada yang menjalani keduanya bersamaan. Dari diskusi terungkap bahwa ruang tari komersial memberi peran ‘peningkatan jam terbang’ bagi proses kepenarian dan profesionalisme kerja tari. Pengalaman dari beberapa koreografer menunjukkan bahwa penari yang sering peye (akronim dari payu = laris dalam bahasa Jawa ; istilah untuk praktik tari komersial) lebih mudah dan cepat menerima materi koreografi yang diberikan. Tentu saja ini bukan hal mutlak, karena di sisi lain ada fenomena “dance camp”, yaitu semacam karantina yang dilakukan koreografer pada penari-penarinya, bertujuan membentuk karakter tubuh penari sesuai tuntutan koreografi yang sedang berproses.

BACA JUGA:  Aktor di Atas Panggung Perang
Suasana diskusi di Unesa, 10 Desember 2018

Dalam konteks ruang tari komersial sebagai ruang peningkatan ‘jam terbang’ kepenarian, ada saling-silang dan ‘poros mondar-mandir’ antara ruang tari komersial dan ruang tari kontemporer.  Di sini ruang tari komersial menjadi bagian dari proses berlatih dan mengalami.

Selanjutnya, berdasarkan hal tersebut, ruang tari komersial bisa dilihat berada dalam satu ruang yang sama dengan ruang tari kontemporer; ada hirarki di sini di mana ruang tari komersial menjadi media penari untuk berlatih-mengalami dalam kerangka ketrampilan dan kreativitas, yang selanjutnya pengalaman tersebut ia bawa ke proses kerja karya kontemporer.

Adakah penciptaan dan kreativitas dalam ruang tari komersial?

Di forum diskusi terungkap bahwa tari komersial terjadi ketika ada pesanan. Ragam dari pesanan inilah yang menentukan terjadi-tidaknya penciptaan dan kreativitas. Ada pesanan yang menginginkan suguhan nomor-nomor tari tradisi yang sudah ada. Di sini ruang penciptaan dan kreativitas kurang mendapat tempat karena pelaku tinggal menarikan saja tarian yang sudah ada. Kreativitas yang terjadi sifatnya lebih artifisial, misalnya pola lantai, tata busana, tata rias. Berbeda halnya jika pemesan memberi tema. Maka ruang penciptaan dan kreativitas terjadi ketika pelaku merespon tema tersebut. Misalnya penciptaan karya tari komersial dengan tema hutan. Berdasarkan tema ini dibuatlah koreografi , tata panggung, tata busana, tata rias, dan tata cahaya yang menafsir tema tersebut. Melalui hal-hal seperti ini, ruang tari komersial sebagai media berlatih (ketrampilan-kelenturan tubuh dan kreativitas ) menjadi lebih kaya.  

Ketika diskusi diawali dengan kisah yang menyodorkan pertanyaan: kemana tubuhmu? Serta merta saya teringat  kasus “tubuh tari yang hilang” yang terjadi pada seorang teman di Institut Kesenian Jakarta  (IKJ). Teman ini memasuki dunia senam Aerobik di mana ia mengajar di sana. Setelah berselang beberapa waktu, ia kembali sejenak ke tubuh tari, lalu  ia menyadari ia telah kehilangan tubuh itu. Artinya tubuhnya tak lagi mampu mengikuti tuntutan kualitas bentuk, gaya, maupun teknik gerak tari. Ia lalu memutuskan melanjutkan aktivitasnya di ruang Aerobik, dan meninggalkan tari.

BACA JUGA:  Puisiku Berjalan Menuju Naskah Teater

Di sisi lain saya menjumpai beberapa tubuh yang mengalami kendala dalam mengikuti irama gerak tertentu, maupun tuntutan bentuk teknik gerak. Akhirnya mereka memutuskan memasuki dunia riset dan pengkajian tari, meninggalkan ruang praktik kepenarian.

Di Jakarta saya saksikan betapa iklim sebuah kota sebagai ruang urban dan megapolitan memiliki daya yang besar untuk mempengaruhi “tubuh-tubuh lokal” yang mendatanginya sehingga bergeser menjadi “tubuh Jakarta”. Itu artinya, pertama, tubuh-tubuh lokal luar Jakarta yang datang dan menetap di Jakarta mau tidak mau akan terseret mengikuti pola percepatan/ritme/irama hidup keseharian Jakarta. Bagaimana ketika mereka harus beranjak dari satu titik ke titik lain, ia harus memperhitungkan jarak, kemacetan, dan “attitude profesionalitas disiplin datang tepat waktu — yang jika tidak ditetapkan sebagai habit, maka mereka akan kehilangan banyak hal (kepercayaan, relasi, kesempatan, uang, pekerjaan, dll). Hal ini berlaku pula pada ranah kerja tari komersial di Jakarta dengan beragam batasan profesionalitas yang ada.

Kedua, menukik pada tubuh tari, Jakarta mampu membuat tubuh-tubuh tari menjadi sangat adaptif. Tubuh-tubuh itu tidak kehilangan karakter lokalnya, namun memiliki karakter baru. Mereka mampu melakukan pergeseran sedemikian cepat, dari satu ragam tari ke beberapa ragam lain di satu hari yang sama, dalam waktu yang berdekatan. Mulai dari tari klasik Jawa gaya Surakarya atau Yogyakarta, sampai pada Capueira, Salsa, dan Hip Hop; atau campur aduk sebaliknya.

Saya yakin hal semacam ini pun terjadi di wilayah lain, di mana iklim/ruang membentuk karakter tubuh tari. Perlu riset lebih lanjut untuk menelusuri hal itu.

Ketika tari komersial dicoba ‘dibenturkan’ dengan tari kontemporer, melalui riset dan uji coba projek Laboran Gerak ini, saya pun tak menemukan ada sesuatu yang menarik untuk dibicarakan. Ketika yang coba dipakai adalah sudut pandang “mengolok-olok” tari kontemporer, saya tak menemukan apa yang harus diolok-olok dan mengapa perlu diolok-olok. Yang justru lebih menarik adalah ketika terbaca bagaimana ‘tubuh ulang-alik’ yang melakoni dua ruang itu memunculkan ragam negosiasi, model kreativitas, konflik tubuh, pertanyaan-pertanyaan, keputusan-keputusan, kehadiran kecenderungan tubuh, maupun ‘tubuh  antara’, dll.

BACA JUGA:  Teks, Aktor dan Sutradara : Catatan Mengenai Proses Transformasi Teks

Pada akhirnya, tari sebagai ruang penciptaan diperlukan sebagai media pembacaan dan penyuaraan proses saling-silang tubuh dan uji coba terhadapnya.

Proses penyusunan katalog gerak untuk Pasar Tari 2500

Berikut uraian gagasan proyek ini :

LABORAN GERAK: praktik ekonomi tari dan ketubuhannya

Sesi diskusi kali ini akan membahas mengenai telusur riset dari proyek ‘pasar tari dua ribu lima ratus/2500’. Sebuah proyek pertunjukan kolaborasi yang melibatkan penari/koreografer perempuan yang melihat tari sebagai tempat mencari uang, arena ekonomi, sekaligus juga tempat mengekspresikan kebertubuhannya dalam lingkungan.  

Pasar Tari Dua Ribu Lima Ratus mengadopsi  pemikiran dan kebiasaan transaksi jasa di dalam karya atau bentuk pesanan tari untuk kemudian dijadikan muasal penyajian karya. Berangkat dari pengalaman Wawa Saptarini dan beberapa koreografer lulusan akademisi tari yang punya keinginan membuat dan mengkomunikasikan sesuatu melalui karya tari, tapi di sisi lain juga mengharuskan diri untuk tetap bertahan demi kehidupan sehari-hari yang bukan hanya saja persoalan kebutuhan sandang, pangan, dan papan, tapi juga persoalan yang menyangkut tubuh kami sebagai perempuan yaitu perihal kecantikan, pernikahan, dan gaya hidup.

Usaha dalam diskusi ini ingin membuka percakapan tentang bagaimana peristiwa ekonomi yang sehari-hari dilakukan praktisi tari – juga dijadikan bahan pengamatan, untuk kemudian dapat menggerakkan kemungkinan penciptaan, bermain di antara batas seni pesanan, rutinitas, cara bertahan hidup, kepengrajinan tari, ‘template’ tari, domestik dan publik, hingga berbagai hal yang bertautan di balik motif ‘mencari uang’, bagaimana semesta tari terbentang dari modus konsumsi – produksi dalam medan ekonomi keseharian.

Renee Sari Wulan, penulis dan pengamat seni pertunjukan. Tinggal di Malang, Jawa Tirmu.

Renee Sariwulan

Renee Sariwulan, penulis, kurator dan pengamat seni pertunjukan. Tinggal di Malang, Jawa Timur.

Renee Sariwulan

Renee Sariwulan, penulis, kurator dan pengamat seni pertunjukan. Tinggal di Malang, Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan