Kontemplasi dalam Isolasi dan Emosi di Paradance ke-19

oleh : Dinu Imansyah*

Detak metronome yang lirih berusaha menyesaki ruang Balai Budaya Minomartani yang malam itu dijejali ratusan penonton. Seorang gadis mungil berambut kriting bergerak mengalir perlahan mengikuti ritme metronome yang konstan seolah beban yang begitu berat menghujam dadanya. Seorang gadis lain yang tak kalah mungil berbaju kuning berdiri di belakangnya sembari terus “memaki” salah satu tiang dengan jemarinya. Di ruang yang sama pula seorang gadis menorehi lantai panggung dan gadis tubuh lainnya dengan pita isolasi.

Min Mol, karya Yurika Meilani di Paradance #19. Foto : Centrum C-Art.

Selain Yurika Meilani yang memanfaatkan pita isolasi sebagai propertinya dalam repertoire “Min Nol”, ada pula Antha Albietwo yang juga menggunakannya sebagai repertoire penutup Paradance yang sudah menginjak seri ke-19 malam itu, “Nama Kamu”. Meski hanya ditampilkan oleh dua dari delapan penampil pada Minggu penghujung Februari itu, pita isolasi menjadi properti yang cukup merepresentasikan nuansa festival mini seni gerak dan tari dua bulanan itu: ketertindasan.

Ya, meski tak pernah menggunakan satu tema khusus dalam setiap pertunjukannya, disadari atau tidak, setiap pergelaran Paradance seolah selalu menyepakati tema yang sama. Hampir sebagian besar penampil pada malam itu berusaha merepresentasikan kegundahan mereka atas berbagai problema yang mereka miliki dengan emosional. Tidak melulu masalah pribadi seperti yang dibawakan oleh Yurika di atas tapi juga permasalahan sosial seperti ketertindasan oleh teknologi komunikasi (gadget) yang dibawakan oleh Hangga Uka dengan “Generasi Menunduk”nya.

Salah satu penari dalam karya “Nama Kamu”oleh Anta Albitwo. Foro : Centrum C-Art

Hal yang hampir sama disajikan oleh Densiel Lebang dengan “Quiet Time”nya. Meski berusaha merepresentasikan hasrat akan saat-saat tenang—di mana MC sempat kurang tepat dalam melafalkan kata “Quiet” menjadi terdengar seperti “Quit” atau “Quick”—namun gerak yang ditampilkan lebih mendekati seseorang yang tersiksa atau sakau. Dengan berguling-guling di antara kepungan lilin, Enci (panggilan akrab Densiel Lebang) mematikan satu per satu nyala lilin dengan meniup atau mengibaskan rambutnya dengan gerak yang terasa begitu berat. Meski bisa jadi penari asal Makassar ini memang ingin menggambarkan pelarian akan kebisingan dan hingar bingar rutinitas keseharian.

Sebuah upaya melawan “ketertindasan” yang agak berbeda dihadirkan oleh Greatsia Yobel Yunga melalui “Taki”nya yang kental sekali bernuansa tarian khas Maluku. Greats, panggilan akrabnya, berusaha merepresentasikan perjalanan hidupnya dalam menapaki lika-liku kehidupan tanpa meninggalkan identitas kebudayaan aslinya. Ritme lagu yang dominan bernuansa house music itu ditingkahi Greats dan kawan-kawan dengan jejakan kaki yang tegas namun tetap mengalir konstan tanpa emosi yang berlebihan, sebuah gerakan yang sangat pekat nuansa Malukunya.

Tiga penari yang lain berangkat dari eksplorasi mereka atas gerak-gerak khas tarian tradisi mereka masing-masing seperti Ferry Cahyo Nugroho yang mencomot idiom-idiom Tari Topeng Malangan, Muchamad Yusuf yang menggulati tari Lengger Banyumasan, dan Widi “Clepret” Pramono yang mengembangkan karakter tokoh “Bancak” dari petilan salah satu gaya tari Yogyakarta. Meski sudah awam diketahui bahwa kesenian tradisi saat ini mengalami ketertindasan atas serbuan budaya asing di era Globalisasi yang serba ambigu ini, ketiga koreografer ini tidak ingin merengek-rengek meminta ketertindasan tradisi mereka diperhatikan. Mungkin mereka sadar, satu-satunya jalan melawan ketertindasan adalah dengan melakoni dan menjaganya sendiri, alih-alih menuntut pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang harus bertanggungjawab atas permasalahan ini.

Greatsia Yunga, menampilkan karya “Taki” dengan nuansa gaya gerak khas Maluku. Foto : Centrum C-Art
Dance of The Oppressed

Ketertindasan adalah salah satu tema yang cukup awam ditemui dalam perkembangan tari kontemporer Indonesia saat ini. Tidak hanya di Paradance, rata-rata hampir setiap penari dan koreografer kontemporer kita saat ini gemar sekali dengan tema ini. Tidak ada yang salah dengan tema ketertindasan. Merasa tertindas merupakan salah satu penanda kesadaran kita akan situasi ketidakadilan yang terjadi, di saat masyarakat terlena dengan keadaan yang sebenarnya perlahan-lahan menggerogoti diri kita secara tidak sadar ini. Bukankah sebagai seniman tugas kita memang menyadarkan masyarakat akan situasi yang tengah terjadi saat ini? Dulce et utile, menyenangkan dan bermanfaat—meminjam istilah dalam sastra.

Yang menjadi masalah adalah saat merepresentasikan kata “tertindas” itu dengan cara yang cukup seragam: gerakan yang serba lambat; menyiksa diri macam membentur-benturkan tubuh, menjatuhkan diri, menampar dan lain sebagainya; belum lagi raungan atau umpatan-umpatan verbal (maupun gestural) hingga tata rias dan tata busana yang serba dramatis dan kelam seperti serba merah, hitam atau gabungan keduanya; belum lagi iringan tata suara yang serba mencekam atau melankolis. Tema yang sama tidak harus dieksekusi dengan cara yang sama pula bukan?

Setiap orang pasti memiliki masalah. Tapi kedewasaan dan kematangan seseorang bukan dilihat dari seberapa besar masalah yang dia terima tapi bagaimana dia merespon permasalahan tersebut. Ikut terbawa aruskah atau malah bermain-main dengan masalah tersebut? Dalam dunia komedi, seorang pelawak yang paling jenaka bukanlah pelawak yang tidak memiliki masalah dalam hidupnya. Sebaliknya, orang-orang paling jenaka adalah orang yang memiliki masalah yang begitu melimpah dalam hidupnya. Tapi mereka tidak mau terpuruk dalam permasalahan yang mereka miliki, sebaliknya, masalah-masalah itulah yang menjadi “asset” bagi mereka untuk menjadi bahan lawakan.

Ketertindasan pula yang kemudian dimanfaatkan oleh seorang teatrawan asal Brazil, Augusto Boal untuk menciptakan metode dan bentuk pertunjukan yang kini mulai digunakan oleh banyak teatrawan Indonesia, Teater Pemberdayaan. Alih-alih mendramatisir permasalahan yang dialami oleh sebuah komunitas, Boal malah mengajak komunitas itu untuk bermain-main dengan permasalahan yang mereka alami demi menemukan solusi yang tepat. Komunitas itu kemudian mampu memberikan jarak dengan permasalahan yang mereka miliki dan (dihaharapkan) mempermudah mereka dalam menganalisis masalah dan menemukan pemecahannya. Inilah yang dikenal dengan Teater Orang-Orang Tertindas (Theatre of the Oppressed).

Ucup Dance dengan karya berangkat dari tradisi Lengger Banyumas. Foto : Centrum C-Art

Mungkin dari Anda ada yang berpikir, “Itu kan di teater yang bisa lebih bebas dalam mengekspresikan diri, khususnya melalui verbal, lalu bagaimana dengan tari yang lebih banyak dibatasi oleh bahasa tubuh?” Justru keterbatasan bahasa tubuh inilah yang seharusnya malah semakin memicu kreatifitas untuk terus menemukan ragam pengekspresian diri.

Ambil contoh dalam musik. Jazz lahir di era di mana musik hanya menjadi monopoli kalangan borjuis. Jazz bukan lahir di kalangan kaum elit, sebaliknya, kaum buruhlah yang menemukan musik yang sangat kaya akan variasi ritme dan nada ini. Alih-alih berkubang dalam melankolisnya ketertindasan yang mereka alami, mereka balas “memaki” melalui lagu-lagu Jazz yang rancak dan ritmis.

Tentu di sini saya bukan mengajak para penari dan koreografer muda untuk menyikapi ketertindasan dengan main-main. Sebaliknya, saya mengajak kita semua untuk lebih matang dan “enjoy” dalam menyikapi permasalahan. Tidak semua masalah harus disikapi dengan keserbalambatan atau dramatisasi yang berbuncah-buncah. Sadarilah selalu ada jalan keluar di balik setiap permasalahan.

Mari kita melepaskan diri dari isolasi pemaknaan akan problema yang itu-itu saja. Masalah hadir untuk membuka mata kita akan hal-hal yang indah di sebalik itu semua, bukan malah menutup mata kita dari luasnya kekayaan semesta.

Selamat berproses terus untuk rekan-rekan Paradancer.

Tabik.

 

*Dinu Imansyah. Mahasishwa Sekolah Pascasarjana UGM, bergiat di Kalanari Theatre Movement.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *