Jam Tua Pak Yohan di Dinding Keempat dalam “D>S/S>D : Invisible Costs”.

oleh : M Dinu Imansyah.

Ulasan atas pertunjukan Forum Aktor Yogyakarta “D>S/S>D: Invisible Costs”- part 2, Jum’at 20 April 2018 di IFI Yogyakarta

SEJARAH (tidak) selalu berulang. Setiap orang memiliki masa-masa keemasannya sendiri. Selalu ada titik di mana kita ingin mengulang kembali masa-masa tertentu, betapapun kita tahu beberapa hal haruslah tetap menjadi sejarah tanpa perlu dijalani lagi. Setidaknya ada kenikmatan ketika berkubang dalam kenangan maupun harapan—yang mungkin masih belum tercapai—dari masa lampau. Manusia selalu ingin berlari. Ini adalah naluri untuk menggali hakikat diri dan bertahan hidup.

Kubangan-kubangan masa lalu inilah yang dimetaforakan dalam sebuah jam dinding tua kesayangan Pak Yohan (diperankan Alex Suhendra), mantan pimpinan tertinggi PT. Tandang Makmur di bagian kedua pertunjukan dari Forum Aktor Yogyakarta ini. Meski tahu jam dinding ini rusak, Pak Yohan tetap meminta karyawannya untuk memasangnya di dinding ruang rapat dengan alasan Feng Shui. Jam dinding yang sama pula digunakan sebagai pemungkas pertunjukan bagian pertama yang dipentaskan dua bulan lalu di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja—yang juga kembali dipentaskan sehari sebelumnya di Institut Francais Indonesia (IFI) Yogyakarta, tempat bagian kedua juga digelar.

Alex Suhendra memerankan Pak Yohan – Foto by Gabriella Nareswari

Setidaknya metafora itulah yang saya tangkap dari pertunjukan berdurasi kurang lebih satu setengah jam ini. Meski lebih panjang dari pertunjukan bagian pertama, intensitas permainan dari para aktornya yang cukup baik ini membuat saya sangat menikmati setiap detik permainan dari pertunjukan arahan Verry Handayani ini. Walau tentu saja ada bagian-bagian yang terasa cukup membuat saya harus sedikit mengernyitkan dahi dan mengangkat salah satu alis, tapi overall, Forum Aktor Yogyakarta sudah mampu membuat saya cukup gemas (dalam artian yang baik) dalam menyikapi ensembel permainan antaraktornya yang ciamik.

Forum Aktor Yogyakarta (selanjutnya akan disingkat: FAY) mengajak penonton untuk bergulat dengan isu tentang pembangunan ruang laktasi (menyusui) di sebuah perusahaan yang memproduksi susu formula untuk bayi ini—setidaknya itu yang saya tangkap, mohon koreksi jika kurang tepat. Sebuah isu yang bisa jadi kurang akrab di penonton yang sebagian besar masih cukup muda itu. Meski isu yang digulirkan masih belum terlampau akrab, FAY mampu membuat isu itu sebagai pemantik permainan seni peran para aktornya yang mampu membangun chemistry yang cukup baik satu sama lain. Alih-alih memikirkan terlalu mendalam mengenai permasalahan yang ingin diangkat, saya diajak untuk melihat sebuah peristiwa yang mencekam. Peristiwa pergulatan antartokoh yang berlomba untuk memenangkan kepentingannya sendiri-sendiri. Bukankah itu roh dari pertunjukan teater? Menghadirkan peristiwa.

Meski tidak semua tokoh mendapatkan porsi presentasi yang sama, tapi jalinan peristiwa yang terbangun dengan baik ini membuat saya jadi tidak sempat lagi memikirkan: apakah tokoh ini lebih dominan dari tokoh yang lain, apakah tokoh ini hanya “mampir”, apakah tokoh ini tidak relevan dengan isu yang digulirkan, apakah aktor ini permainannya tidak sebagus biasanya dan lain sebagainya. Tapi bukankah dalam kehidupan memang begitulah adanya? Selalu ada karakter yang lebih dominan dibanding yang lain, selalu ada tokoh, yang entah disengaja atau tidak, selalu menjadi bulan-bulanan tokoh yang lain dan selalu ada tokoh yang tidak bisa menentukan kemana dia harus berpihak. Keragaman karakter inilah yang ditawarkan oleh pertunjukan “D>s/s>d; Invisible Costs” oleh FAY ini.

Post Power Syndrome kah?

Sebagai sebuah pertunjukan yang (kiranya) diniatkan untuk menjadi sequel, “D>s/s>d: Invisible Costs” Part 2 ini sebenarnya tetap bisa dinikmati dengan atau tanpa menikmati bagian pertama terlebih dahulu. Meski tentu saja ada sensasi yang berbeda ketika kita menyaksikan bagian yang digelar dua bulan sebelumnya di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja atau yang digelar sehari sebelumnya di tempat yang sama di mana bagian kedua dilangsungkan.

Elisabeth Lespirita Veani dan Alex Suhendra – Foto by Gabriella Nareswari

Bagi penonton yang belum menyaksikan bagian pertama dan langsung menonton bagian kedua mungkin ada yang bertanya kenapa Pak Yohan kok tampak selalu “antagonis”—terlepas dari pemeranan Alex Suhendra yang memang selalu cakap dan kerap memainkan karakter-karakter intimidatif semacam ini, kenapa isu laktasi yang harus diangkat, apa peran masing-masing aktor dan posisi mereka di perusahaan, ada apa dengan jam dinding dan Pak Yohan, hingga kenapa para anggota rapat masih bisa mengijinkan Bening untuk bertahan di ruang rapat betapapun seringnya dia membikin onar dengan melontarkan celetukan-celetukan yang distraktif.

Mungkin beberapa pertanyaan di atas sempat terlintas juga di pikiran penonton yang sudah pernah menyaksikan bagian pertama. Khususnya tentang pendalaman karakter masing-masing tokohnya. Di pertunjukan bagian kedua ini, narasi digerakkan oleh perdebatan akan pembangunan isu laktasi, tidak seperti di bagian pertama di mana latar belakang masing-masing tokohnya diungkapkan dengan jelas. Untuk bisa menikmati part 2 beserta kedalaman tokohnya ini memang dibutuhkan pengalaman menyaksikan bagian pertama.

Part 1 dan Part 2 dari pertunjukan ini sebenarnya bisa berdiri sendiri-sendiri. Bahkan pasca menyaksikan pertunjukan part 1, saya rasa pertunjukan tersebut sudah “tuntas”, tanpa part 2 pun bagi saya sudah tampak sekali permasalahan post-power-syndrome yang dialami Pak Yohan. Secara sederhana post power syndrome dapat dimaknai sebagai kegelisahan yang dialami oleh orang-orang yang sudah melewati masa produktifnya, seperti para pensiunan. Meski tentu saja terasa terlalu reduktif jika menyebut lapisan-lapisan yang dimiliki oleh Pak Yohan ini mentah-mentah sebagai sindrom ini. Masih ada sisi-sisi dari Pak Yohan yang tidak sekedar ingin bernostalgia akan masa-masa keemasannya tapi ada sebuah peristiwa dan nilai mulia yang membuat dia bertahan pada kekerashatiannya menolak pembangunan ruang laktasi, alih-alih sekedar menyebutnya sebagai pensiunan gila kekuasaan.

Bahkan kalau mau menyambungkannya dengan bagian pertama, konflik batin yang dialami Pak Yohan, pun dengan yang dialami oleh peserta rapat lainnya, di bagian dua ini terasa tidak lebih tajam. Bagian dua ini lebih banyak karakter yang berlomba-lomba mengajukan aksi, alih-alih reaksi. Peristiwa berjalan berdasarkan kolase aksi-aksi, minim reaksi. Padahal kematangan dan kualitas seorang manusia dilihat dari bagaimana dia merespon sebuah peristiwa, bukan sekedar menciptakan peristiwa.

Di satu sisi, dominasi “aksi yang lebih banyak di bagian kedua ini turut menajamkan sindrom-pasca-kuasa ini. Bukankah orang-orang pengidap sindrom ini memang ingin lebih banyak beraksi ketimbang bereaksi? Meski sayangnya aksi-aksi ini jadi mereduksi kedalaman karakter tokoh-tokoh yang lain.

 

Boal Mampir di PT Tandang Makmur

Tidak banyak grup teater di Indonesia yang masih konsisten untuk menghadirkan pertunjukan realis dengan penggarapan yang cukup baik seperti yang dihadirkan oleh FAY ini. Meski tentu saja ini pilihan, kembali ke selera masing-masing, setiap seniman punya hak untuk mengekspresikan karya kesenimanannya dalam bentuk apapun. Tapi buat saya pribadi, realisme bukan hanya perkara gaya, pun bukan basic dari pertunjukan seabsurd apapun—seperti yang diyakini oleh beberapa teatrawan. Realisme adalah perkara memahami peristiwa-peristiwa dalam kehidupan dan menghadirkannya di atas panggung. Realisme adalah upaya untuk memahami diri dan mengalami peristiwa apapun di saat ini dan sekarang (here and now).

Sekali lagi ini bukan perkara mengagung-agungkan realisme sebagai salah satu aliran dalam berteater. Ini adalah perkara penghadiran diri dalam sebuah peristiwa pertunjukan. Menghadirkan diri juga bukan sekedar aktualisasi diri untuk menyampaikan kepentingan pribadi, tapi kerja kolektif dengan pihak manapun yang terkait dengan pertunjukan untuk menghadirkan peristiwa di atas panggung, kepentingan bersama. Bersama dengan pihak-pihak penyelenggara pertunjukan maupun bersama dengan penonton yang hadir. Bukankah hakikat dari peristiwa adalah kelindan antara penampil dan penonton?

Mungkin sadar akan chemistry yang baik antaraktornya saja tidak cukup untuk menghadirkan peristiwa, FAY berupaya mengajak penonton untuk terlibat langsung dalam pertunjukan dengan memosisikan penonton sebagai dewan komisaris yang beberapa dipilih untuk maju ke panggung dan memberikan pendapatnya terkait pengadaan ruang laktasi di PT Tandang Makmur. Bagian ini pula yang menjadi pembeda dengan pertunjukan bagian pertama yang digelar dua bulan lampau. Melalui name tag yang dibagikan di pintu masuk pertunjukan, beberapa penonton dipilih untuk merasakan langsung terlibat dalam rapat dewan pimpinan.

Bagian ini pula yang kemudian bagi saya terasa sempat melemahkan bangunan emosi yang dibangun FAY sejak awal pertunjukan. Keterlibatan penonton untuk menentukan apakah harus membangun ruang laktasi atau tidak ini menjadikan posisi penonton terasa ambigu. Di beberapa kesempatan di awal pertunjukan, para aktor terlihat begitu intens berperan sehingga penonton sendiri juga sangat asyik menikmati peristiwa rapat melalui “dinding keempat”. Tapi pasca penonton disadarkan bahwa mereka diposisikan sebagai dewan komisaris yang sebenarnya berperan penting pula dalam rapat, penonton kembali “dicueki” dengan para aktor yang kemudian kembali asyik dengan pergulatan peristiwa mereka sendiri. Hal ini berulang beberapa kali. Akibatnya, ketika menjelang akhir pertunjukan, di saat penonton benar-benar diajak untuk voting penentuan pembangunan ruang laktasi malah terasa anti-klimaks. Kebetulan semua penonton yang hadir saat itu memutuskan untuk setuju dengan pembangunan ruang laktasi sehingga ini pula yang kemudian menjadi senjata pamungkas untuk membuat Pak Yohan, mantan pimpinan utama yang sedari awal menolak dengan ide pembangunan ruang laktasi demi menekan pengeluaran, semakin merasa gagal untuk kembali berkuasa dan membawa perusahaan ke kedigdayaan. Bagaimana seandainya ada (atau semua) penonton memilih untuk menolak pembangunan ruang laktasi? Apakah ini bakal memengaruhi keputusan rapat? Apakah ini bakal merubah ending?

Pola permainan seperti ini mengingatkan saya pada salah satu metode pertunjukan yang digagas oleh Augusto Boal, sutradara asal Brazil, yang terkenal dengan pemikirannya akan “Teater Orang-Orang Tertindas” (Theatre of the Oppressed). Entah kebetulan atau tidak, salah satu metodenya yang juga menggunakan kata “Forum” yakni “Teater Forum”—kata yang sama digunakan oleh Forum Aktor Yogyakarta sebagai nama komunitas ini—juga menggunakan teknik serupa dalam melibatkan penonton. Jadi pertunjukan digelar seperti biasanya lalu di tengah-tengah pertunjukan akan dihentikan untuk meminta penonton memberikan masukan tentang solusi terhadap permasalahan yang digulirkan dalam pertunjukan tersebut. Bahkan tidak hanya memberikan solusi, di Teater Forum ala Boal, penonton juga diperkenankan untuk bermain dan menggantikan karakter tertentu untuk menuntaskan pertunjukan sesuai dengan jalan cerita yang diinginkan.

Rapat Direksi Pembangunan Ruang Laktasi – Foto by Gabriela Aritonang

Tentu saja Forum Aktor Yogyakarta bukanlah Augusto Boal. Jika di Teater Forumnya Boal, para pemerannya adalah orang-orang yang benar-benar dari komunitas tertentu yang bergulat dengan permasalahan mereka sendiri seperti misalnya ibu-ibu RT yang dibingungkan dengan masalah arisan, kaum buruh yang dipusingkan masalah tunjangan, atau para guru yang dihantui kurikulum yang tidak jelas sasaran dan implikasinya itu, maka Forum Aktor Yogyakarta digerakkan para aktor yang notabene sudah cukup banyak mengantongi pengalaman berteater di Yogyakarta seperti Febrinawan Prestianto (Giant), Siti Fauziah, Alex Suhendra, Elisabeth Lespirita Veani, Verry Handayani dan lain sebagainya. Apa yang dilakukan oleh para aktor FAY murni seni peran—meski bisa jadi permasalahan tentang isu laktasi ini sempat dialami juga oleh beberapa aktornya.

Jika di Teater Forumnya Boal, penonton diperlakukan setara dengan pemain—bahkan Boal sendiri sebenarnya benci dengan istilah “penonton” (spectator) karena dianggap lebih rendah dari pemain, manusia yang direduksi. Boal kemudian menawarkan istilah spect-actor (penonton-yang-aktor), di mana penonton juga bisa turut berperan bahkan menggantikan peran aktor tertentu seperti yang telah disinggung sebelumnya.

Sebenarnya upaya yang sama telah berusaha dilakukan oleh FAY, tentang bagaimana menempatkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan. Walau sayangnya, seperti yang sebelumnya saya katakan, upaya ini masih terasa tanggung dan canggung. Ada ambiguitas dari bagaimana FAY bermain-main dengan keberadaan “dinding keempat”. Hemat saya, pilihannya hanya ada dua: Satu, jika ingin melibatkan penonton sebagai bagian dari pertunjukan, ada kesadaran intensitas dan proyeksi permainan bahwa penonton memang “hadir” di rapat itu. Sehingga ketika terjadi konflik atau perdebatan sengit di rapat, penonton merasa turut dianggap “ada” di sana. Keterlibatan penonton juga mungkin bukan sekedar memberikan voting di antara dua pilihan, tapi ada opsi untuk memberikan pendapat yang lebih bebas terhadap isu yang digulirkan di rapat, sehingga permainan bisa lebih dinamis—walau tentu saja dibutuhkan kekuatan untuk menjaga permainan agar tidak chaos. Kedua, para aktor cukup tetap intens berkelindan di dalam “ruangan” tanpa perlu membobol dinding keempat. Interaksi tidak melulu harus dalam bentuk komunikasi langsung, tapi dengan menawarkan peristiwa yang dibangun dengan cukup kuat sehingga memunculkan empati dan simpati penontonnya.

Tentu saja saya tak bermaksud untuk membanding-bandingkan Teater Forumnya Ausgusto Boal dengan FAY, apalagi bertendensi untuk mem-Boal-Boal-kan FAY. Bisa jadi ini memang upaya FAY untuk terus bereksperimen memperbarui pola interaksi antara penonton dan penampil, upaya untuk terus menghidupkan peristiwa teater. Bukankah itu sekarang yang bisa ditawarkan oleh teater: peristiwa pertemuan antarmanusia. Kalau sekedar menawarkan hura-hura, visual yang memukau, atau ruang-ruang “ganjil”, banyak multimedia lain yang bisa menawarkan lebih. Dengan sekali klik, berbagai keunikan belahan dunia bisa diakses dengan sebelah tangan saja.

Tidak seperti Pak Yohan yang berasyik masyuk dengan kedigdayaan masa lalu melalui jam dinding tua kesayangannya, peristiwa pertemuan antarmanusia melalui teater masih memiliki harapan di tengah mabuknya kita akan dunia maya. Ruang nyata itu masih ada, puan-puan dan tuan-tuan, sekalian. Percayalah!

Selamat untuk FAY dan terima kasih atas pertunjukannya yang ciamik, mari terus berperistiwa!!

 

 

*M Dinu Imansyah, aktor, saat ini menjalani studi pascasarjana pengkajian seni di Universitas Gadjah Mada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *