Hukum Memodifikasi Naskah Drama untuk Pementasan

oleh : Ahmad Jalidu*

Di dalam produksi teater berbasis teks, naskah drama atau kita sebut akrabnya dengan “naskah” saja, adalah pijakan utama dalam proses produksi. Banyak penonton teater juga mendasarkan keputusan menonton atau tidak suatu pertunjukan berdasarkan naskah yang diangkat. Namun demikian, tak jarang kita mendapati suatu pertunjukan yang melakukan sedikit modifikasi terhadap naskah yang dipanggungkan. Hak kreatif sutradara dianggap cukup untuk melakukan sedikit perubahan dialog, bahkan susunan babak demi tercapainya sebuah pertunjukan yang lebih kontekstual atau lebih baik dalam sudut pandang tertentu. Di Indonesia, hal semacam ini sedekat pengamatan saya masih dianggap hal yang biasa. Ya, Kreativitas sutradara memang penting dan patut dijunjung. Namun demikian, praktik modifikasi naskah drama ini seringpula tidak dilakukan atas persetujuan penulis. Sepertinya, penulis naskah dianggap sudah selesai pekerjaanya sejak naskah diberikan ke sutradara (atau khalayak), sehingga perwujudan naskah ke atas panggung bukan lagi hak kreatif si penulis. Bahkan, melakukan permintaan ijin atau setidaknya konfirmasi kepada penulis naskahpun banyak yang tidak melakukannya.

Drama musikal Nyanyian Rimbayana karya Ahmad Jalidu, dipentaskan oleh Teater Kodok, Jakarta

Suasana semacam ini sepertinya dianggap bukan masalah di Indonesia. Setau saya, saya belum pernah mendengar penulis naskah senior seperti Putu Wijaya atau N Riantiarno, mengeluh karena naskahnya dimainkan tanpa ijin. Mungkin ini juga demi membangkitkan semangat berkarya panggung, sehingga hal-hal yang menghambat proses dikesampingkan dulu. Namun demikian, ada beberapa penulis yang pernah berusaha menegakkan haknya sebagai penulis. Sebut saja WS Rendra yang menghendaki pembayaran royalti tertentu apabila naskah karya beliau dimainkan oleh kelompok atau seniman lain di luar kelompoknya. Saya sendiri pernah mencoba melakukannya. Meski naskah karya saya baru sebatas hitungan jari satu tangan, namun saya mencoba mengunggah naskah saya ke internet dengan mencantumkan email dan nomer HP disertai permohonan agar siapa saja yang akan menggunakan naskah saya terlebih dahulu menghubungi saya. Tentu banyak yang kemudian bersedia menghubungi saya lebih dulu. Biasanya saya akan meminta royalti sebesar 10% dari jumlah tiket yang terjual. Tentu saja saya bersedia di”nego” dan hasilnya seringpula mereka menyatakan tidak mampu membayar royalti karena pendanaan yang minim dan hasil penjualan tiket digunakan untuk menutup biaya artistik dan produksi. Saya tidak keberatan jika memang demikian keadaaanya.

Hal sedikit mengecewakan pernah saya alami juga. Suatu kali seorang sutradara dari seberang pulau mengontak saya dan berniat memproduksi pertunjukan teater menggunakan naskah saya. Namun, berkaitan dengan pendanaan yang belum begitu aman, dia menego untuk hanya membayar royalti dengan jumlah pasti sekian ratus ribu. Sayapun bersedia mengijinkan dan menyepakati nilai royalti yang dijanjikan. Namun, bulan-demi bulan berikutnya tidak ada kabar. Sampai suatu saat saya “browsing” dan menemukan berita online tentang telah suksesnya pertunjukan kelompok tersebut. Lalu saya mengontak sutradaranya untuk menagih janji. Namun, jawabannya adalah mereka tidak akan membayar royalti kepada saya, karena dua hal. Satu, secara keuangan tim produksi mengalami kerugian sekian puluh juta karena gagalnya sponsorship. Dua, (ini yang agak bikin keki), dia mengatakan “Tidak Jadi” memakai naskah saya, tetapi membuat naskah baru yang didasarkan pada naskah saya. Padahal dari beberapa berita online yang saya baca, jelas-jelas sinopsisnya sama, hanya mereka menambah beberapa adegan opening dan melakukan modifikasi untuk mengkontekstualkan dengan persoalan di daerah mereka. Dan lagi, nama-nama tokoh yang mereka pentaskan tetap sama seperti nama-nama tokoh dalam naskah saya tersebut. Daripada meributkan ratusan ribu tersebut, saya putuskan untuk “ya sudah kalao begitu.”

Nah, praktik memodifikasi naskah seperti ini menjadi terasa “bermasalah” karena terkait urusan “doku” :P. Sementara mungkin saya tidak mempersoalkan modifikasi naskah saya ini andai saja tidak membuat batalnya perjanjian royalti.

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel tentang praktik pengubahan naskah dan kaitannya dengan hak cipta di Amerika Sertikat. Berikut saya sampaikan terjemahan versi saya. Semoga menjadi bahan wacana kita di Jogja dan Indonesia.

Diterjemahkan dari artikel Knowledge Base di website AACT (American Association of Community Theatre). :

PENGUBAHAN NASKAH?

Undang-undang Hak Cipta mewajibkan permohonan ijin. Berikut caranya agar berhasil.

 

Tidaklah aneh bagi sutradara yang menjadikan naskah sebagai titik pijaknya–membolehkan beberapa pengubahan yang perlu agar supaya pertunjukan lebih pas bagi lokasi, aktor dan penontonnya. Mereka bisa saja mempertimbangkan untuk memotong dialog, mengganti jenis kelamin tokoh utama, atau nama tokohnya, mengeset ulang lokasi peristiwa atau kurun waktu, atau menghilangkan istilah atau bahasa tertentu.

Dengan karya-karya Shakespeare tentu tak ada masalah–karya-karyanya sudah termasuk public domain (milik publik). Namun jika naskah (atau terjemahan versi baru dari naskah lama) dilindungi oleh UU Hak Cipta, tidak satupun pengubahan itu dibolehkan tanpa ijin tertulis dari penulis atau yang mewakilinya (biasanya penerbit atau lembaga agen lisensi).

Beberapa penulis naskah keras menolak pengubahan pada karya mereka. Namun, banyak pula yang setidaknya bersedia mempertimbangkan kemungkinannya–jika Anda melakukannya dengan benar.

Kata-kata yang hilang

UU Hak Cipta lahir dari konsep dasar bahwa penulis memiliki hak untuk meminta agar karya mereka dipresentasikan sebagaimana ia ditulis dan dimaksudkan. Tidak mengindahkan hukum dapat menempatkan sebuah kelompok teater kepada masalah.

Pada 2003, sebuah dinner theatre (teater berpentas di resto dan mengiringi acara makan-pen) di Utah, memulai produksi dari naskah Neil Simon, Rumors. Tetapi, ketika banyak kata-kata kotor dihilangkan dari dialog, seorang pemeran yang tidak puas melaporkannya kepada Samuel French Inc., yang telah memberikan lisensi pertunjukan tersebut atas nama Simon. Setelah mendapatkan teguran dari pengacara Simon, bahwa mereka harus mementaskan naskah sebagaimana tulisan aslinya, akhirnya kelompok ini memilih untuk membatalkan produksi daripada melanjutkan dan bertentangan dengan standar etika kesopanan. Penutupan produksi ini telah membuang biaya sebesar $20.000  dan tak menyisakan modal untuk melanjutkan kegiatan mereka.

Sebuah produksi Steel Magnolias di Memphis 1996 terancam ketika seorang aktor pria dijatah memerankan penata rambut bernama Truvy. Dramatist Play Service, yang memegang lisensi pertunjukan atas nama Robert Harling sang penulis, meminta produser untuk mengganti pemeran itu dengan aktor perempuan, atau mereka akan kehilangan ijin pementasan.

“Saya sungguh-sungguh meyakini dan mendukung hak setiap orang untuk kebebasan ekspresi artistik,” kata Harling kepada New York Times. “Steel Magnolias, adalah ekspresi astistik saya, dan adalah hak saya untuk bersikeras bahwa tokoh perempuan itu harus dimainkan oleh perempuan. Konsep dari naskah ini berlatar sebuah salon kecantikan, dimana menggunakan seorang pria untuk menggambarkan perempuan adalah ide yang buruk,” tambahnya. “Jika itu adalah ekspresi artistik orang lain, maka saya harap mereka menulis naskah sendiri sesegera mungkin.”

Kejadian serupa beberapa tahun sebelumnya, penulis naskah Edward Albee menghentikan sebuah produksi Who’s Afraid of Virginia Woolf? yang menampilkan pasangan homoseksual.

“Seluruh salinan naskah saya” katanya dalam sebuah pernyataan press, “memiliki beberapa klausul yang mengatakan bahwa ia harus dipentaskan tanpa adanya pengubahan, atau pengurangan, atau penambahan dan harus dipentaskan oleh aktor dengan jenis kelamin sebagaimana ditulis dalam naskah. Memang ada hak kreatif penyutradaraan, tetapi itu bukan hak untuk menyimpang (dari naskah).”

Beberapa aspek dalam alur, ia menegaskan, seperti histeria terungkapnya kehamilan dari salah satu tokoh, membuat versi homoseksual akan jadi menggelikan.

Sementara banyak sutradara berargumentasi soal kebebasan artistik mereka, kalimat dalam kontrak lisensi sudah jelas–Dilarang mengubah tanpa ijin.

Edward Albee. Foto : nytimes.com

Ini semestinya dipahami bahwa jika beberapa produksi di atas telah dipentaskan dengan pengubahan tanpa ijin, maka penalti denda bisa dijatuhkan kepada sutradara atau produser pemegang keputusan pengubahan termasuk seluruh staf produksi, pemeran dan kru–bahkan pihak pengelola gedung–dengan atau tanpa sepengetahuan mereka bahwa telah menjadi bagian dari upaya pelanggaran hukum.

Mintalah, kamu akan mendapatkan

Sementara beberapa penulis, termasuk Simon dan Albee, secara umum menolak pengubahan naskah, beberapa yang lain lebih akomodatif.

Nyatanya, banyak penerbit/agen lisensi yang berbincang dengan kami mengatakan bahwa mereka menghimbau para sutradara untuk mengontak mereka di awal perencanaan produksi jika mereka berkehendak mengubah naskah, karena mereka mungkin saja bisa mengakomodir.

“Selalu mintalah,” kata seseorang, “apa susahnya meminta.”

Langkah pertama adalah menelepon atau mengirim surat ke penerbit/agen yang memegang lisensi naskah, dan sampaikan permintaan sedetil mungkin. Jangan hanya menulis “memotong sedikit” dari babak 1, atau “mengubah beberapa dialog dari adegan kedai.” Detilkan halaman, kalimat dan kata mana yang mau diubah.

Ini terbukti pada produksi Evergreen di Green Bay, Wisconsin.

“Beberapa tahun lalu kami ingin membuat pengubahan pada Peter Pan and Wendy, kami meminta ijin melalui Playscripts,” kata Gretchen Mattingly dari Evergreen. “Sutradara merasa pertunjukan ini, jika sesuai naskah, terlalu panjang untuk penonton remaja kami. Kami sangat jelas dan detil soal mana yang ingin kami potong–tokoh yang terkait, kalimat dan nomor halaman–dan tidak mengubah alur cerita. Playscripts lalu menghubungi penulis naskahnya–Doug Rand–dan mendapat persetujuan darinya sebelum jadwal latihan dimulai.

Rand, adalah salah satu dari banyak penulis kontemporer yang terbuka pada kreativitas tertentu untuk mengubah sedikit dari karyanya–sejauh permintaan ijin diajukan dimuka. Pada Oktober 2010, ia menghadiri Milwaukee’s Firts Stage Children’s Theatre yang sedang mementaskan Peter Pan and Wendy dengan menambah beberapa pemeran Lost Boys. “Saya senang ada lebih banyak”, ia berkata pada para pemeran. “Dan nama mereka–Pockets and Bumbershoot–itu keren!”

Dan ketika kelompok Curtain Call di Stamford, Connecticut sedang menyiapkan produksi Nunsense dua tahun lalu, Direktur Eksekutif Lou Ursone melihat bahwa ide slide show  “Nunsmoke”  sebagai unsur parodi dari “Gunsmoke” adalah kuno.

“Ide saya adalah menggantinya dengan video “Project Nunway,” ujarnya.”Saya menulis surat ke penulisnya, Dan Goggin untuk meminta persetujuannya, dan dia dengan sangat bijak menyetujui–dan menyukai hasilnya.”

Bahkan jika penulis sudah meninggal seklalipun, akomodasi untuk pengubahan bisa dilakukan dalam hal tertentu. Sebagai contoh, Rick Kerby dari Manatee Players di Bradenton Florida, mengontak pihak Music Theatre International untuk mengubah naskah musikal baseball klasik Damn Yankees.

“Bradenton adalah lokasi kandang (markas) untuk Pittsburgh Pirates di kompetisi musim dingin”, ia menjelaskan, “dan kami mendapat ijin untuk mengganti tim underdog dalam naskah yaitu Washington Senators menjadi Pirates. Ini akan memancing sponsorship yang bagus dari tim Pirates–mereka bahkan memberi kami seragam Pirates untuk dipakai dalam pementasan dan mengirim merchandise maskot Pirates untuk kegiatan promo pra pertunjukan kami.”

Pertunjukan Damn Yankees yang mengganti Washington Senators menjadi Pittsburg Pirates. Foto : stage-directions.com

Siapa yang melaporkan?

Anda mungkin berpikir, “Tapi banyak orang tetap melakukan pengubahan tanpa ijin selama ini.”

Itu benar, tapi jumlah yang tidak juga tak kalah mengejutkan. Salah satu alasannya adalah karena lembaga-lembaga / agen lisensi dan royalti menggaji petugas untuk mengawasi daftar kelompok teater, artikel dan website yang mencolok. Produksi Steel Magnolias di Memphis yang ditolak misalnya, adalah hasil temuan dari publisitas kelompok itu sendiri.

Tetapi, banyak kasus pelanggaran justru dilaporkan oleh pemeran atau kru-nya sendiri–seperti kasus produksi karya Neil Simon, Rumors di Utah–atau seseorang dari kelompok rival, atau seseorang yang terpanggil secara moral untuk melaporkan situasi demikian.

“Saya pernah mendapat dua kali panggilan dari penerbit yang menanyakan tentang pertunjukan kami,” tulis John Davis dari Evergreen Players, sebuah kelompok teater kecil di Colorado. Keduanya berakhir positif bagi kelompok kami.

Panggilan pertama merujuk pada laporan bahwa sutradara kami telah menambah pemeran pembantu dan beberapa bahasa tambahan.

“Saya jelaskan bahwa bahkan kami punya dua orang memainkan bagian kecil, mereka tidak pernah berada dalam satu panggung bersamaan dan tidak ada tambahan bahasa,” kata Davis. “Hal itu memuaskan pihak penerbit. Belakangan ini kami tahu bahwa panggilan tersebut berawal dari laporan dari seorang pemeran yang tidak puas karena kami lepaskan (pecat).”

Panggilan lainya adalah tentang pemeran laki-laki yang memerankan tokoh perempuan dan sebaliknya. Pelanggaran yang tak disengaja ini menambah perhatian Davis setelah produksi dihentikan. Untungnya, karena hubungan kerja yang baik antara kelompok teater dan lembaga lisensi, tak ada denda yang dijatuhkan setelah kelompok teaternya meminta maaf atas kesalahan dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan yang sama.

“Dalam kedua kasus,” catat Davis, “penerbit sangat sopan dan membantu.”

Kesimpulan akhir

Pengubahan naskah artinya, dalam hal esensi, menulis ulang karya penulis dan dia mungkin merespon dengan “Jangan memainkan karya yang diklaim sebagai karya saya, jika memang bukan.”

Hukum tambahan, kemudian, garis bawahnya adalah mendukung visi artistik penulis. Itu sebagaimana pandangan Lou Ursone dari Curtain Call Connecticut.

“Kami mementaskan apa yang ditulis. Kami tidak mengganti bahasa yang “kotor”, kami tidak menghilangkan “nudity” (adegan telanjang), kami menghormati penulis yang karyanya kami pilih untuk diproduksi.

 

Aturan singkat dari tiga penerbit / pemegang lisensi.

Samuel French

Naskah harus dipentaskan sebagaimana adanya dalam bentuk yang diterbitkan dan maksud penulis dihormati dalam produksi. Tidak ada pengubahan, penyisipan, atau penghilangan kalimat, lirik, musik, judul atau jenis kelamin tokoh yang dibuat untuk kepentingan produksi. Ini termasuk pengubahan atau penyesuaian latar waktu dan tempat dalam naskah. Mengacu pada pengubahan jenis kelamin, laki-laki akan memainkan tokoh laki-laki dan perempuan memainkan tokoh perempuan. Mohon Dicatat: masing-masing judul ditimbang secara terpisah dan jika Anda ingin melakukan pengubahan pada naskah harus meminta ijin tertulis. Tidak semua penulis atau perwakilan penulis mengijinkan pengubahan.

Dramatist Play Service

Naskah-naskah harus dipentaskan sebagaimana yang dipublikasikan oleh Dramatist Play Service  Inc. tanpa pengubahan, penambahan, penggantian atau penghapusan pada teks dan judul. Larangan ini meliputi, tanpa perkecualian, tidak mengganti, memperbaharui atau mencocokkan waktu, latar atau tempat dalam naskah dalam bentuk apapun. Jenis kelamin tokoh juga tidak diperkenankan diubah atau ditukar dengan cara apapun, misalnya kostum atau pengubahan fisik.

Music Theatre International

Ketika Anda mendapatkan lisensi pertunjukan, berdasarkan hukum pertunjukan tersebut harus dipentaskan sebagaimana adanya. Anda tidak berhak melakukan pengubahan apapun kecuali mendapatkan ijin tertulis dari kami. JIka tidak, pengubahan akan melanggar hak cipta penulis dibawah Undang-undang Hak Cipta Pemerintah Federal. Tanpa ijin resmi MTI, tindakan Anda akan membawa Anda kepada tuntutan –tidak hanya dari penulis, tapi juga dari kami–atas pelanggaran terhadap syarat-syarat dalam persetujuan lisensi yang dengan jelas melarang Anda melakukan pengubahan atau pemangkasan. Terkadang, versi baru dari pertunjukan dibuat ketika penulis atau orang lain yang disetujui penulis merekonstruksi karya tersebut. Namun bagaimanapun, hanya penulis yang memiliki hak melakukan revisi, dan mereka jarang memberikan ijin kepada pihak lain untuk melakukannya. Jika Anda merasa ingin mencoba melakukan pertunjukan hasil rekonstruksi (pembaruan), ada banyak naskah public domain (Shakespeare, Gilbert and Sullivan) yang sudah tidak lagi dilindungi Undang-undang Hak Cipta Amerika Serikat.

 

Nah, demikian artikel yang saya ambil dan saya terjemahkan dari website American Association of Community Theatre. Mungkin bisa menjadi wacana dan bahan untuk diobrolkan dalam berbagai kesempatan bersama komunitas dan seniman kolega Anda.

*Ahmad Jalidu, pernah menulis naskah dan menyutradarai teater, tinggal di Yogyakarta.

Satu tanggapan untuk “Hukum Memodifikasi Naskah Drama untuk Pementasan

  • 9 Juli 2017 pada 12:15
    Permalink

    Izin share.. salam juga untuk mas Ahmad jalidu

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *