Latihan Melakukan Perubahan : Forum Theatre di BTF 2017

Oleh : Joned Suryatmoko*

Tersebutlah sebuah keluarga Thai keturunan China, dengan satu ibu yang sudah tua, bapak sudah tiada. Ada tiga anak. Yang pertama seorang perempuan, pengusaha sukses dengan suami yang tak disukai si Ibu. Yang kedua perempuan dan menjadi hostess. Yang bungsu adalah seorang laki-laki dan gay, dan si Ibu tidak tahu akan hal ini. Si Bungsu bahkan belum memberi tahu ibunya kalau dia diterima beasiswa di Australia selama 4 tahun. Sebagai keluarga keturunan China, anak laki-laki adalah harta. Demikianlah si Bungsu menjadi kesayangan Ibu. Piring makannya berbeda, posisi duduk di meja makan harus di sampingnya. Yang menjaga Ibu juga harus dia. Dua kakak perempuan apalah artinya.

Kira-kira begitu si Joker memberi pengantar dalam pementasan Forum Teater Malongdu Theatre di BTF 2017 beberapa waktu lalu berjudul Inequality in The Home: A Place We Call HOME. Bagi Anda yang belum familiar dengan Forum Theatre, perlu diinfokan model teater ini diciptakan oleh Augusto Boal (Brasil) untuk memberi ruang pada penonton terlibat mengubah cerita dan menjadikan pementasan sebagai forum diskusi, sekaligus latihan dalam membuat perubahan nyata di kehidupan sebenarnya. Boal menyebutnya dari spectator (penonton) menjadi spec-actor (penonton yang ikut bermain). Yang dilakukan adalah satu kali pementasan utuh dari awal sampai akhir sekedar memberi gambaran awal. Lalu pementasan diulang sekali lagi dan penonton boleh memotong, lalu mengambil satu peran pengganti, dan mengubah arah cerita seperti yang dipikirkannya. Dalam kasus ini mereka boleh menggantikan pemeran menjadi anak-anak keluarga itu, atau si Ibu. Si Joker sendiri alias pemandu, adalah seorang laki-laki yang sangat kalem dan halus tampil memandu cerita, sangat berbeda dengan joker atau fasilitator dalam teater rakyat di Indonesia yang biasanya energik (helloooo!! Itu saya, bukan!!!)

Suasana saat pertunjukan Forum Theatre
Perubahan yang Mengejutkan

Saat pementasan kedua, empat orang penonton mengacungkan tongkat pendek yang disediakan sebagai tanda mereka mau merubah adegan. Rata-rata penonton yang maju adalah perempuan dan memainkan anak perempuan atau si Ibu. Penonton yang maju ini biasanya memasang dialog yang emosional. Misalnya sebagai anak perempuan mereka sayang dengan si Ibu, dan tetap ingin menjaga. Menurut mereka, Ibu harus tahu kalau mereka semua adalah anak si Ibu, jadi sama saja. Menarik melihat bagaimana mereka sangat yakin menggunakan alasan berbasis emosi sebagai anak perempuan untuk mengkritisi tradisi.

Sampai akhirnya seorang remaja gay mengacungkan tongkat. Ia dipersilahkan masuk, bersiap duduk di sayap samping (side wing) yang juga bisa dilihat penonton. Begitu giliran dia main, dengan yakin dia menggandeng peran pacar cowok si bungsu. Beberapa penonton terpekik terkejut melihat awalan adegan yang dirubah, dramatis dan menjanjikan kejutan! Yap, si remaja gay ini memutuskan untuk memperkenalkan pacarnya di acara makan keluarga, langkah yang oleh pemeran asli cerita itu tidak pernah dilakukan dan jadi sumber keributan dan kebingungan, baik untuk diri sendiri maupun keluarganya. Bisa dibayangkan adegan makan malam dengan adegan boboran coming out itu. Ibunya hampir jantungan, lemas di kursi makan dan menangis. Semua improvisasi dilakukan. Si bungsu menjelaskan pada ibunya bahwa hanya dengan pacar gay-nya dia akan bahagia dan mereka bersama akan sekolah ke Australia. Si Ibu menangis. Si anak ikut menangis. Kakak perempuan ternganga melihat aliran cerita berubah arah. Tanpa dinyana, pemeran si pacar anak bungsu ikut bicara menyatakan cinta pada si bungsu dan menenangkan si Ibu. Adegan berubah menjadi emosional. Keputusan ada pada si Ibu dan ia mengiyakan hubungan anaknya. Baginya mungkin punya anak gay yang membawa pacarnya, seperti bertambah anak laki-laki satunya. Menarik melihat bagaimana adengan ini tanpa dikomando bergerak ke arah resolusi yang sama: coming out si anak dan keputusannya menjalani kehidupan yang ia yakini. Si Ibu memantulkan niatan dan keputusan dengan mengiyakan harapan si Bungsu. Terkesan menyederhanakan namun mungkin realistis. Sebenarnya pementasan ini bertema bagaimana merawat orang tua dalam sebuah keluarga, tapi dalam intervensi si remaja gay masalah LGBT dalam keluarga muncul. Dan hal itu terkait, kadang semakin rumit karena ditutupi.

Ketika bagian ini diakhiri dengan debrief (ulasan singkat), si remaja gay yang masuk dan merubah adegan membutuhkan tisyu karena menangis. Begitu juga ibu. Mungkin juga sebagian penonton. Mata saya sendiri terasa panas. Si remaja bercerita bahwa kasus itu terjadi di kehidupannya sendiri dan ia memutuskan untuk memberitahu keluarganya, dalam hal ini neneknya yang ia jaga. Pengalaman itu yang barusan ia bagikan di panggung.

Pemeran pacar memberikan tisu kepada pemeran pengganti si bungsu ketika ia menceritakan bahwa adegan ini benar-benar ia alami di keluarganya
Menengok dari Bangkok

Malongdu Theatre berarti Come and Try, Datang dan Coba! Sebagai teater dengan gagasan latihan melakukan perubahan dalam kehidupan nyata, saya jadi teringat ITRY (kadang dibaca: I try – aku coba ) yang menjadi singkatan Institut Teater Rakyat Yogyakarta dimana saya tergabung belajar teater rakyat waktu kuliah. Jadi yang dianjurkan, coba dulu! Ayo coba! Hasilnya lihat belakangan. Ketika percobaan ini jadi beresiko dalam kehidupan nyata, Forum Theatre menyediakan ruang khusus untuk menguji-cobakan.

Saya menulis catatan ini karena saya merasa Forum Theatre tidak akan pernah mendapat tempat di hati festival teater di Indonesia. Semoga saya salah! Tapi ya, kecenderungan melihat model teater seperti ini dari (melulu) sudut aktivisme masih sangat kuat di teater kita. Juga, sependek pemahaman saya 22 tahun bekerja dengan teater rakyat (sekarang dikenal sebagai teater pemberdayaan, yang mirip Forum Theatre), para pekerja teater ini dan para pengikut Boal (dan Freire) di Indonesia lebih mendekatkan diri pada LSM, dengan alasan apapun termasuk isu dan pendanaan. Jarang ada celah dan usaha mereka masuk pada praktik estetik yang lebih jauh untuk mengkritisi praktinya sendiri. Tak heran jurang teater fasilitasi seperti ini meluas dan semakin tak terhubung dengan praktik teater yang lebih besar.

Pertunjukan berlangsung selama hampir 90 menit, di salah satu ruang Bangkok Art and Cultural Center (BACC). Selama pementasan, dari tempat duduk, saya bisa melihat layar raksasa dari MBK, sejumlah ikan kosmetik dan fastfood ditayangkan di layar itu. MBK sendiri adalah salah satu mall besar di Bangkok yang berada tepat di saberang BACC.

Pertunjukan seluruhnya dalam Bahasa Thai. Seorang dosen sosiologi dan antropologi Thammassat University yang terkesan melihat kepercayaan diri saya datang dan ngotot pengen nonton, bersedia jadi penerjemah selama pertunjukan berlangsung. Dia sendiri menjadi pendamping dalam kerja teater di kelompok itu.

Sore itu Bangkok terlihat indah karena saya melihat sesuatu yang indah di Bangkok Theatre Festival, sekalipun ia membuat saya terpukul atas kenyataan yang berbeda dengan teater di negeri sendiri.

Padahal Bangkok diguyur hujan sore itu. Dan basah.

 

* Joned Suryatmoko : Pembuat Teater, tinggal di Yogyakarta.
** Ulasan ini telah diterbitkan sebelumnya sebagai status di akun facebook Joned Suryatmoko. Direpost di gelaran.id atas ijin penulis.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *