Festival Monodrama Nusantara I 2017: Strategi diplomasi budaya

WhaniDProject, sebuah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre) di Yogyakarta yang dimotori oleh aktor Whani Darmawan akan menggelar sebuah ajang international bertajuk FESTIVAL MONODRAMA NUSANTARA. Festival yang melibatkan seniman 3 negara ASEAN ini akan digelar di Yogyakarta pada 15-16 Desember mendatang.

Monodrama

Apa itu monodrama? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, monodrama adalah drama yang dimainkan atau dirancang untuk dimainkan oleh satu orang aktor atau aktris. Jika Anda membuka laman wikipedia, akan ditemukan penjelasan lebih panjang. Monodrama konon asalnya juga disebut melodrama, adalah bagian dari pertunjukan opera ketika adegan menampilkan satu orang aktor/soloist beraksi di atas panggung. Tidak melulu pemain tunggal ini bermonolog, tetapi bisa jadi ia mendapat bagian menyanyikan lagu secara solo. Yang jelas, berakting bicara maupun menyanyi, atau bahkan adegan pantomime, monodrama menyaratkan permainan aktor memerankan tokoh tunggal.

Monodrama, bisa juga disamakan dengan monolog, meski dalam konteks ini, WhaniDProject memilih pendapat bahwa monolog adalah bagian dari monodrama. “Monodrama bisa bermacam bentuk permainannya, bisa monolog (aktor tunggal yang berucap kalimat), bisa permainan tunggal lainnya termasuk menyanyi, menari, atau bermain musik.” demikian ujar Whani.

Konsep monodrama yang luas ini akan menjadi fokus kerja WhaniDproject dengan Festival Monodrama Nusantara yang akan digelar pertama kali tahun ini. Whani sendiri baru saja selesai menulis buku kumpulan naskah monolognya yang akan diluncurkan berbarengan dengan rangkaian acara FMN I/2017 ini.

Mengenali kembali Nusantara

Kata Nusantara, dengan kata dasar “Nusa” dan “Antara” memiliki sejarah yang sudah sangat tua, seiring pertumbuhan historikal pada masa pemerintahan kuno dalam bentuk kerajaan hingga masa modern Indonesia dalam bentuk Republik kini. Kerajaan Majapahit melalui representasi pemerintahan Hayam Wuruk-Gajah Mada (1350-1359) sudah menggunakan konsep ini sebagai negara kepulauan. Tak heran jika dalam catatan sejarawan Denis Lombard terhitung yang disebut oleh patih Gajah Mada sebagai bagian dari Nusantara ada limapuluh dua (52) titik. Utamanya yang sekarang abadi menjadi bagian dari Indonesia, ditambah lagi Malaysia, Singapura, Kamboja, Vietnam, Timor Leste, Laos, Filipina.

Meski konsep tersebut masih juga diperdebatkan hingga kini, meski pula kejayaan Majapahit sudah berlalu, namun mitologi atau impian atas konsep ‘kenusantaraan’ itu tetap mengeram dalam bawah sadar kebangsaan. Nusantara sebagai suatu mitos bangsa besar, berjaya dan bersatu kuat tetaplah menjadi impian, setidaknya dalam visi diplomasi.

Festival Monodrama Nusantara (FMN) digelar dengan semangat diplomasi budaya dengan visi dasar keterhubungan positif antar manusia dari berbagai bangsa dalam media seni peran tunggal (monodrama). Pada gelar FMN-1 2017 Whanidproject mengawalinya dengan mengundang aktor dari Singapura, Malaysia dan Indonesia sendiri. Di masa mendatang peserta tidak dibatasi pada ‘peta nusantara kuno’ yang merujuk pada rumpun Melayu ataupun Asia, namun terbuka untuk peserta dari negara manapun.

Rangkaian kegiatan FMN I 2017

Di tahun pertama ini, FMN akan digelar selama dua hari yaitu 15-16 Desember 2017 dengan melibatkan seniman Indonesia, Singapura dan Malaysia. Berikut adalah jadwal rangkaian kegiatan FMN I :

15 DESEMBER 2017
  • Workshop Penulisan Lakon Monolog. Workshop ini terbuka bagi peserta umum yang berminat mengenal atau memperdalam keterampilan menulis naskah monolog. Workshop akan dilaksanakan 15 Desember pagi hingga sore hari di Omah Kebon Nitriprayan, Bantul. Hadir sebagai fasilitator workshop adalah Whani Darmawan (Indonesia) dan Rafaat Haji Hamzah (Singapura).
  • Parade Monolog Nusantara. Malam ke-1 menampilkan : Uul Syarifah Lail (Indonesia), Danial Lee (Malaysia) dan Dalifah Shahril (Singapura). Bertempat di Kampus Pasca Sarjana ISI Yogyakarta. Jl. Suryodiningratan Yogyakarta. Acara ini GRATIS dengan RESERVASI melalui saluran WhatsApp di 0856 2856 610
16 Desember 2017
  • Workshop Keaktoran. Bagi peserta umum yang berminat mengenal dan memperdalam seni peran, FMN I menggelar workshop yang akan difasilitasi oleh Yusof Bakar (Malaysia) dan Dalifah Shahril (Singapura). Workshop ini dilaksanakan 16 Desember di Omah Kebon Nitiprayan Guest House, Bantul.
  • Peluncuran buku Sampai Depan Pintu : kumpulan naskah monolog Whani Darmawan. Acara ini digelar 16 Desember sore hari di kampus Program Pasca Sarjana ISI Yogyakarta, Jl. Suryodiningratan, Yogyakarta. Peluncuran ini akan diwarnai dengan penampilan monodrama musik oleh musisi Eko Balung dilanjutkan diskusi bersama penulis dengan pemantik Dede Paramayoza dan moderator Ikun Sri Kuncoro. Acara ini terbuka untuk umum.
  • Parade Monolog Nusantara. Malam ke-2 akan menampilkan aktor Rosland Daud (Singapura), Irna NJ (Indonesia) dan ARD Omar (Malaysia). Bertempat di kampus Pasca Sarjana ISI Yogyakarta, j;. Suryodiningratan Yogyakarta. Acara ini gratis dengan reservasi melalui whatsapp 0856 2856 610

Profil Singkat para penampil dan nara sumber FMN
  • Rafaat Haji Hamzah (Singapura). Biasa dikenal karena gayanya yang beda dan unik di penulisan dan pertunjukan, baik di dunia teater maupun per-televisi-an. Lulusan dari Royal Melbourne Institute of Technology (Fine Arts) ini merupakan seniman multi talenta, mulai dari akting hingga penulisan puisi, penulisan naskah, penyutradaraan, dan produksi, bahkan juga seorang teknisi yang berpengalaman terutama di tata lampu dan manajemen panggung. Rafaat  telah terlibat sebagai aktor di lebih dari 40 pertunjukan teater dan 45 drama televisi. Tiga kali memenangkan penghargaan sebagai aktor terbaik di SURIA’s Pesta Perdana, tahun 1999, 2007 dan 2011.

 

  • Mohd. Yusof Bakar (Malaysia). Pegawai Senior Kebudayaan di Universitas Sains Malaysia dan sekaligus pegiat teater di Penang Malaysia ini sangat aktif dalam mengawal perjalanan komunitas teater di kotanya. Banyak sekali karya yang telah dilahirkan baik dari lingkup kampus maupun komunitas. Ia merupakan pemrakarsa Bakawalee Penang sebuah kelompok teater non pemerintah yang sangat aktif. Yusof selain bertindak sebagai sutradara juga berperan sebagai penulis. Pada bulan September 2017 ia menyutradari naskahnya sendiri yaitu Munchausen Melalui Proksi yang dipersembahkan dalam perhelatan Festival Teater Negeri Pulau Pinang 2017. Sebelumnya ia menyutradarai Resiprokal yang dipentaskan selama 4 malam dan berjalan sukses di Studio Revolution Stage. Naskah monolognya Malim yang dimainkan oleh Danial Lee mendapatkan sambutan yang baik di Penang Malaysia dan kali ini akan dipentaskan dalam Festival Monodrama Nusantara ini. Selain itu, Yusof juga akan menjadi salah satu pengampu dalam workshop penulisan lakon.

 

  • Ard Omar (Malaysia). ARD OMAR atau nama sebenarnya Muhammad Azhahar Bin Omar adalah penggiat seni teater yang berpengalaman luas sebagai aktor, sutradara, skenografer, penata cahaya, pelatih dan pelbagai kerja produksi pentas yang lain. Keterlibatan dalam teater bermula sejak di bangku sekolah sekitar tahun 1992 hingga sekarang dan beliau pernah mendapat pendidikan formal ASWARA (Teater), UiTM (Pengkajian Bahasa) dan FINAS (Masterclass : Acting) dan Entrepreneurs Development Institute (EDI) (Computer Sciene & Multimedia). Beliau juga pernah terlibat bersama Sanggar Teater Fauziah Nawi (STEFANI). Omar terlibat dalam puluhan pertunjukan teater dan produksi televisi di negaranya. Penerima Anugerah Bakat Muda Seni Negeri Perak ini juga pernah menerima Anugerah Pengarah (Monolog) Terbaik di Festival Teater Malaysia 2009 peringkat negeri Perak dan Naib Johan Festival Teater Malaysia 2013 peringkat Negeri Perak untuk pertunjukan “Ratna Kadhal” arahan beliau. Dan beliau juga menerima Special Awards ; Best Actor dalam Shorts & Sweets Festival 2013 di KLPAC untuk karya teater Aku Bukan Teroris, Pengarah Teater Terbaik di Festival Teater Malaysia peringkat Negeri Perak 2015 untuk Tiang Cengal, Dinding Sayung. Ard Omar dalam kesempatan Festival Monodrama Nusantara ini akan berperan dalam monolog karyanya sendiri.

 

  • Muhammad Danial Lee bin Muhammad Hadi Lee (Malaysia). Mulai bergiat dalam bidang teater sejak usia 15 tahun di sekolah. Banyak terlibat di berbagai komunitas teater termasuk beberapa drama TV. Memasuki reality television pada tahun 2012 di Malaysia. Sekarang bekerja di Performing Art Center Penang Malaysia. Di Penang, Danial merupakan pemain teater yang cukup populer dengan kuantitas pertunjukan yang mengagumkan. Hampir setiap bulan poster pertunjukan di mana ia terlibat terpampang di jalan dan berbagai institusi di Penang. Sekarang Danial mencoba untuk fokus mendalami seni peran dalam panggung teater dan sedikit mengurangi keterlibatannya dalam teater yang bersifat entertainment. Di dalam Festival Monodrama Nusantara ini, Danial berperan dalam monolog Malim.

 

  • Dalifah Shahril (Singapura). Dalifah terlibat dalam teater sejak 1999 sewaktu pertama kali bergabung dengan Teater Kami Limited sebagai fasilitator. Sebagai seniman mukim di Teater Kami Limited, Dalifah juga bekerja sama dengan beragam kelompok teater, bermain dalam 55 judul pertunjukan dan terlibat mengelola beragam proyek pertunjukan dan even menjadikan jejaring kerja Dalifah sangatlah luas baik di dunia pendidikan, bahkan telivisi dan radio Dalifah adalah instruktur paruh waktu yang mengajar speech and drama di TK, SD dan SMP. Dalifah juga terbiasa tampil dalam drama di berbagai stasiun televisi, selain itu juga sebagai pengisi suara untuk iklan perusahaan, beberapa rumah produksi dan radio lokal.

 

  • Roslan Mohd Daud (Singapura). Roslan Mohd Daud adalah co-founder dan presiden Teater Artistik, sebuah kelompok drama non profit yang memfokuskan diri pada teater dan sastra. Roslan adalah seniman multitalenta; sebagai aktor, fasilitator drama, trainer,dan juga konsultan bersertifikat untuk pendampingan siswa dan anak muda, dan sering diundang sebagai juri di berbagai kompetisi drama dan sastra. Selama lebih dari 30 tahun, baik secara personal maupun bersama Teater Artistik, Roslan telah mengadakan banyak program seperti kompetisi monolog, forum teter,  workshop interasktif untuk anak muda dan keluarga, juga program drama untuk sekolah-sekolah.

 

  • Syarifah Lail Al Qadhariani, S.Sn (Indonesia), atau akrab disapa Uul, lahir di Tanjungpinang, 11 Maret 1994. Mahasiswa Magister Penciptaan Seni Jurusan Teater ISI Yogyakarta dengan minat konsentrasi keaktoran. Beberapa peran yang pernah dilakoninya adalah Kesumat Raje Petake Cempake (2013), drama musikal Tiga Dara karya Usmar Ismailoleh ( 2015), Mega Mega karya Arifin C Noer (2016), Asmarangkara karya dan sutradara Trias Pleki Kurniawan pada tahun (2016), dll. Ia juga berpengalaman dalam pertunjukan di beberapa event international seperti Majelis Sastera Asia Tenggara di Brunei 2010, Asia Pasific Beaureu Theatre di New Delhi dan sebagainya. Dalam FMN I, ia akan memawakan monolog “Kenang-kenangan Wanita Pemalu karya WS Rendra gubahan Iswadi Pratama.

 

  • Irna Nurjanah (Indonesia), kelahiran Garut, 22 Oktober 1996. Semasa SMA aktif berproses di sanggar Teater Awal Garut kisaran tahun 2011-2014. Setelah tamat SMA, melanjutkan studi di jurusan teater Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2014. Sambil plesir, Ia juga menjadi bagian dari kolektif ‘Sudah Pekak Sakit Lagi’ dan mempelajari seni peran dengan kelompok Saturday Acting Club Yogyakarta

 

  • Whani Darmawan (Indonesia). Whani Darmawan – AKTOR dan PENULIS. lahir di Yogyakarta 1966. Menggeluti seni keaktoran dari panggung ke panggung teater sejak tahun 1985-hingga kini. Memainkan naskah lakon dunia Samuel Beckett (Endgame-1999 & 2013) lakon eksistensial yang ia tulis sendiri, Metanietszche ; Boneka Sang Pertapa. Bermain dalam King’s Witch (Goenawan Muhammad, 2006), peran Imam Samudera di fim Bali Project (Michael Jenkins 2006). Salah satu perannya yang mendapat banyak apresiasi adalah pada saat ia bermain sebagai perempuan dalam lakon  Sidang Susila (teater Gandrik, 2008). Bergabung dengan Teater Koma Jakarta dalam drama Kabaret yang diputar selama setahun oleh Metro TV (2008).
    Bersama sutradara film Hanung Bramantyo membuat DFC (Dapur Film Community) Acting Course, dan menangani beberapa film sebagai acting coach ; Get Married, Idola, Ayat-Ayat Cinta. Personal yang pernah ditangani adalah Nirina Zubir, Riyanti Carwright, Desta, Aming, Ringgo Agus Rahman, Revalina S Temat, dll. Juga bermain dalam film Drupadi arahan Riri Reza sebagai Duryudana (2008). Bermain cemerlang dalam Opera esai Goenawan Mohammad-Tony Prabowo, Tan Malaka (2010). Mutakhir bermain sebagai Guru Sayap Merah dalam film Pendekar Tongkat Emas arahan sutradara Ifa Isfansyah, produser Mira Lesmana (2014).
    Karya tulisnya  1) Aku Merindukan Anakku Menjadi Pembunuh (cerpen),2) My Princess Olga, novel memoar, Gagasmedia (2005). 3).Nun (novel, 2010) 4). Andai Aku Seorang Pesilat – Spiritualitas Silat dalam Hidup Sehari-hari (kumpulan esai, 2012)

 

Tentang WhaniDProject

WHANIDPROJECT adalah lembaga pelatihan pengembangan diri dan korporasi yg mengambil titik pijak pada psikologi dan keilmuan seni peran dalam teater (psycho theatre). Dua bidang yg ditangani adalah Theatre for Profesional (menangani pelatihan untuk para profesional di bidang masing-masing : komunikasi, public speaking, dll) dan Theatre for Art ( pelatihan calon aktor dan pendalaman materi estetika teater untuk kepentingan sosial kemasyarakatan ). Berdiri 2013, di Yogyakarta.

Email     :  whanidproject@gmail.com. | web       :   www.whanidproject.com | Phone   :   +62 813 8304 3290

FMN I 2017 diselenggarakan WhaniDProject bekerjasama dengan Pasca Sarjana ISI Yogyakarta dengan didukung oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Bank Indonesia, Djarum Foundation, Regina Realty, Omah Kebon Nitiprayan Guest House, Theatre By Request, Mata Tikus artworks dan Gelaran.id.

Informasi detil masing-masing acara bisa diperoleh di gelaran.id, whanidproject.com atau di berbagai jalus informasi sosial media seperti Instagram WhaniDproject, Facebook Fanpage WhanidProject dan sebagainya atau menghubungi Public Relation Officer FMN : Ahmad Jalidu di 08562856610.

Sampai jumpa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *