Feminisme ala Ayu Permatasari dalam “Hah”

oleh : Nia Agustina*
Hah, karya Ayu Permatasari. Sumber foto : jogjamenari.blogspot.com

Suara desah dan nafas yang terdengar bahkan sebelum para penari memasuki panggung, membawa penonton untuk mencari, apa, siapa, dan ada apa? Beberapa menit kemudian 8 penari perempuan dengan kostum berwarna putih memasuki panggung. Menari dengan tetap mengeluarkan berbagai jenis suara nafas yang dihiperbolakan, seperti ketakutan/keterkejutan, kepedasan, suara ibu melahirkan, suara orang yang sedang baris-berbaris dan berbagai suara nafas yang lain. Suara dan gerak menjadi daya tarik paling kuat dalam pertunjukan itu, suara yang meskipun tidak harmonis, tetapi tertata dengan baik antara satu penari dan penari yang lain, kemudian gerak yang seperti karya-karya Ayu sebelumnya, setiap penari tidak ada yang terlihat lebih lemah dibanding penari yang lain, semua energy, power, dan bentuk geraknya sama kuatnya. Ayu memang salah satu koreografer yang memiliki karakteristik tegas, keras, disiplin, tetapi karya-karyanya terkesan innocent, tetapi sebenarnya memiliki kedalaman makna yang penting dalam perjalanan hidup Ayu, termasuk karya HAH ini.
Ketika menciptakan karya HAH ini, Ayu memang terinspirasi dari suara nafas yang setiap harinya kita dengar, tetapi, tanpa disadari, nafas-nafas yang menginspirasinya adalah nafas Kota Bumi, Lampung, tempatnya dilahirkan. HAH merupakan representasi dari sejarah bagaimana Ayu dididik dan dibesarkan sebagai seorang perempuan. Jadi, yang bermain dalam karya HAH ini adalah pengalaman perempuan seorang Ayu Permatasari, yang bisa kita sebut sebagai feminism ala Ayu Permatasari. Tentu tidak hanya karena Ayu adalah seorang perempuan maka kita membicarakan feminism, tetapi, membicarakan feminism berarti membicarakan perempuan, yang artinya membicarakan feminism ala Ayu Permatasari berarti membicarakan pengalaman seorang Ayu sebagai perempuan.
Selama di kampung halaman, Ayu dididik dengan keras dan kasar oleh ayahnya yang berlatar belakang pekerjaan sebagai preman. Pola pendidikan semacam ini ditambah lingkungan Kota Bumi yang didominasi oleh perempuan berwatak keras (menurut penuturan Ayu), membawa dampak perbedaan pengertian perempuan bagi Ayu. Memori-memori bagaimana ayahnya mendidik di masa kecil, kadang tidak sengaja terurai dalam karya-karya Ayu, termasuk dalam karya HAH. Keseluruhan garapan HAH memang terkesan innocent sebagai bentuk gabungan-gabungan pola gerak dan suara yang terinspirasi dari nafas. Tetapi lebih dari itu, dalam setiap geraknya, nafas yang dimunculkan selalu terkesan tegas, kuat, kasar, dan keras, tetapi dalam tenggang waktu tertentu terlihat lemah, gemulai, dan seksi. Kesan-kesan ini menandai pembacaan pengertian perempuan bagi Ayu, perempuan tidak harus selalu gemulai, nafas yang mewakili suara perempuan tidak harus selalu lembut, perempuan bisa saja kuat, tetapi perempuan pada saat dibutuhkan dapat menjadi lemah lembut, gemulai, dan terkadang lemah. Kekuatan, ketegasan dan kerasnya bukan untuk menunjukkan bahwa perempuan mampu menyaingi laki-laki, dia hanya ingin menjadi dirinya yang beriringan dengan keinginannya tetapi tidak meninggalkan sejarah pengalaman keperempuanannya.
Kuat berganti lemah, lembut berganti keras, dan gemulai berganti tegas, menjadi harmonis dalam satu tubuh perempuan yang tergambar dalam HAH. Dia bukan hanya sekedar nafas, dia adalah nafas perempuan, dia adalah nafas sejarah Ayu Permatasari, dan dia adalah HAH.

*Nia Agustina, kurator tari, pengelola Paradance Jogjakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *