Distorsi, Realisme dan Surealisme dalam Monolog “Prita Istri Kita” oleh Teater Nasional Medan

oleh: Ficky Tri Sanjaya

Produksi yang ke-54 dan 45 Tahun Teater Nasional Medan

Prita Istri Kita adalah sebuah pertunjukan monolog yang bersumber dari naskah Arifin C. Noer yang ditulis di sekitar tahun 1967. Pertunjukan monolog Prita  Istri Kita merupakan produksi ke-54 Teater Nasional Medan dalam lawatan pertunjukan di Taman Budaya Yogyakarta,  Minggu 22 Desember 2018. Pertunjukan ini bernuansa Medan. Saya tidak begitu mengenal unsur-unsur budaya Medan dengan mendalam, namun sekilas tampaknya ada unsur dari budaya Batak atau Melayu melalui busana daerah yang dikenakan para penerima tamu. Begitu pula ketika berada di dalam panggung sebelum pertunjukan monolog dimulai para penonton disambut pantun oleh pembawa acara yang memberi salam pembuka dengan diiringi sebuah orkes.

Dikutip dalam artikel ensiklopedia.kemendikbud.go.id Teater Nasional Medan merupakan organisasi informal yang berdiri pada 28 oktober 1963. Organisasi ini digagas oleh Sori Siregar, Burhan Piliang, Mizward Azham, Iskaq. S., dan Rusli Maha. Kurang lebih telah 45 tahun usia kelompok ini dan masih eksis hingga produksinya yang ke-54 di tahun 2018. Monolog Prita Istri Kita cukup unik sebab dimainkan oleh Wan Hidayati yang juga merupakan seorang Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (kadisbudpar) Medan. Pertunjukan semacam tersebut jarang, meski dulu di Jogja pernah ada pertunjukan ketoprak Ringkes yang melibatkan Walikota dan anggota DPRD turut bermain dalam pertunjukanya.

Malam itu Wan Hidayati meski tidak menggunakan pengeras suara, tetap berusaha tampil maksimal dan natural. Justru di sanalah letak ontentisitas pertunjukannya, dia tidak berusaha tampak menonjol dan berlebihan, meski tampaknya ia menyadari masih banyak hal kedodoran di sana-sini dalam tenaga aktingnya. Yang menarik dari aktornya yang juga Kepala Dinas ini adalah kemauannya untuk menyisihkan waktu berkarya di sela kesibukan kerjanya sebagai pejabat aparatur sipil. Kesukaan dan peduliannya terhadap dunia teater tersebut saat ini tampaknya jarang kita temui di daerah lain. Sebelum di Jogja, Pertunjukan Monolog Prita Istri Kita ini sebelumnya juga pernah digelar di Medan (16/05/2016) di Grand Aston City Hall dan di Teater Kecil  Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta (16/09/2017). Hal tersebut tentunya menjadi sebuah bukti komitmen, intensitas, dan kepeduliannya terhadap dunia seni.         

BACA JUGA:  Setelah Thanksgiving Ada Apa?
Prita (Wan Hidayati). Foto: Ficky Tri Sanjaya
Strategi Sutradara Membaca Ulang Realisme  

Pertunjukan ini disutradarai oleh Yan Armani Lubis, yang tampak banyak berusaha membedah dan mengadaptasi naskah dengan dibumbui komedi dengan mengkaitkannya pada isu kekinian. Monolog Prita ini disajikan secara realis, dengan setting 4 diding berlatar papan rumah desa di tengah hutan.  Warna dan bentuk papan rumah berwana kecoklatan berjajar vertikal dengan jendela kaca seperti rumah-rumah desa nuansa barat, namun pernak-pernik properti di dalamnya khas rumah Indonesia (Perancang Artistik: Hadi Ra). Terdapat meja makan, meja kecil dengan vas bunga dan kursi goyang. Distorsi ruang justru terjadi ketika sutradara berusaha memunculkan nuansa Melayu melalui kostum aktor, logat, cara bercerita, serta orkes musik pengiringnya (Penata musik : Mak Yal dan Mitra Hutagalung). Tampaknya banyak penyimpangan yang memang disengaja oleh sutradara dalam pertunjukan malam tersebut, sebagai cara menciptakan kejutan-kejuatan penyegar dari adaptasi teks.    

Nuansa Cahaya yang sendu-pun banyak melengkapi beberapa adegan. Sesekali aktor tidak bermain sendiri di atas panggung, ada seorang laki-laki berpakaian serba hitam yang terkadang keluar masuk.  Lelaki tersebut tidak mengeluarkan sepatah katapun, ia hanya menggerakan tubuhnya semacam gerak silat, melintas dan memberikan sesuatu properti kepada Prita. Sosok lelaki tersebut sepanjang pertunjukan turut membangun nuansa peralihan terhadap sisi lain sosok seorang Prita.

Prita, sebagai seorang istri yang mengurus kegiatan rumah tangga, ia kerap berkeluh kesah mengenai persoalan rumah tangga yang dialaminya. Sosok mas Broto, suami yang menjadi sosok laki-laki ideal dalam rumah tangganya ternyata telah banyak berubah. Banyak hal susah dalam melalui hidup bahtera rumah tangga menjadi belenggu yang tidak seindah romansa mereka saat berpacaran. Prita sebagai wanita normal juga memiliki sisi-sisi kerapuhan dan keinginan kesetaraan atas waktu  dan kebebasan menjadi sosok dirinya. Dirinya yang  lain, yang terlepas dari sosok suami dan rumah tangga yang terasa membebaninya.    

BACA JUGA:  Belajar Kritik Sosial a la Milenial Melalui Drama Musikal
Monolog Prita Istri Kita oleh Wan Hidayati, dengan pengadegan yang melompat-lompat antara realisme dan non realisme. Foto: Ficky Tri Sanjaya.

Mimpi-mimpi terkadang memang sulit ditafsirkan dalam perwujudan realis, sebuah mimpi terkadang tumpang tindih bersama kenyataan. Keinginan yang tak terpenuhi dari Prita terhadap sosok suami dan rumah tangganya menjadi keluh kesah yang membawanya pada “dunia lain”, dunia khayal.  Munculnya sosok lelaki yang membawakan selendang dan mengajaknya menari, munculnya Biola yang tiba-tiba turun dari atas panggung ; merupakan penggambaran “Dunia Lain”  khayalan Prita. Realitas dan khayalan yang tumpang tindih disiasati oleh sutradra dengan penggambaran distorsi terhadap sosok Prita dalam perilaku kesehariannya. Metafora dalam pengejawantahan distorsi dari kenyataan tersebut merupakan perwujudan dari dinding batin Prita yang meronta, membawa hasratnya untuk berontak menciptakan khayal ideal; kemesraan kecil yang ia bangun dari cerita-cerita dari para mantan pacarnya di masa lalu serta kecemburuan akan kehidupan tetangga yang lebih sejahtera.

Meski penggambaran pertunjukan realis monolog Prita Istri Kita  oleh Teater Nasional ini terkadang keluar dari pakem realis, melalui berbagai distorsinya dalam latar ruang dan pengadegan yang terkadang meloncat menjadi surealis, namun hal tersebut mampu memberi warna lain dan kejutan terhadap pembacaan ulang gagasan mengenai realisme. Kenyataan sebagai sumber realisme saat ini bisa jadi juga mengalami banyak distorsi. Sehingga  “kenyataan”  dalam pemikiran ruang dan waktu konteks kekinian, bisa pula memiliki sifat yang melompat-lompat. Kejuatan-kejutan dalam penggambaran pertunjukan realis Prita Istri Kita di Taman Budaya 22 Desember 2018 lalu, sebagai catatan dapat dibaca sebagai usaha dan strategi sutradara dalam membaca dan memaknai ulang realisme dalam konteks kekinian.   

Ficky Tri Sanjaya

Penulis dan Aktor mime teater. Aktif bersama Bengkel Mime Theatre Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *