Diary Monsoon Ayu Permata Sari

oleh Ayu Permata Sari*.

Tanggal 11 Desember sampai 21 Desember 2017 saya berada di Leuven Belgia. Saya salah satu seniman muda yang beruntung bisa bergabung di Monsoon Platform – Festival Europalia 2017. Bagi teman yang belum tahu, Festival Europalia adalah festival seni international setiap dua tahun sekali. Europalia diselenggarakan sejak 1969 oleh Europalia International, lembaga non profit milik Keluarga Kerajaan Belgia. Europalia menampilkan tema dan sajian dari negara tamu kehormatan. Di edisi 2017 ini, Indonesia adalah tamu kehormatan, sehingga para peserta dan penampilnya adalah seniman-seniman Indonesia, acaranya pun berjudul resmi EUROPALIA ARTS FESTIVAL INDONESIA, atau disingkat EUROPALIA INDONESIA. Denger-denger sih biaya festival ini juga ditanggung Pemerintah Indonesia sendiri lho hehehe. Sementara Monsoon Platform 2017 adalah salah satu program dalam Europalia 2017 berupa residensi kolaboratif transkultural dan lintas disiplin untuk untuk seniman muda Indonesia dan Eropa.

Saya tidak sendirian di Monsoon, tapi bersama 3 seniman muda Indonesia lainnya yaitu Gusbang Sada, Ikbal dan Aliansyah, serta mas MN Qomarudin yang mendokumentasikan dan mendampingi kami berempat. Kami ber-4 akan di kolaborasikan secara berpasangan dengan 4 seniman dari Eropa. Namun sebelum kami ditemui dan dipasangkan dengan partner Eropa kami, pada tanggal 14 Desember di STUK house for dance, image and sound kami lebih dahulu tampil membawakan karya yang sudah disiapkan dari Indonesia. Saya membawakan karya tari Kuadai dari suku Semendo, Lampung Utara menggunakan properti piring.

14 Desember sore kami melakukan GR. Piring yang ada di tangan saya jatuh dan pecah, karena piring hanya bertumpu pada satu jari saja yaitu hanya di jempol. Oh, saya cukup takut dan langsung gugup, kemudian diulang kembali, namun rasa gugup dan takut terus menghantui selama saya menari. Kemudian Arco Renz (kurator tari dan pendamping Monsoon Platform 2017) memberi solusi, bagaimana kalau menggunakan perekat seperti doubletape, saya mengiyakan. Saya latihan lagi dan cukup lancar. Tiba waktu pentas malam harinya, lem doubletape di bawah piring yang ada di tangan saya tidak lengket, mungkin karena karena udara gedung yang sangat dingin membuat lem dan kulit jari kering sehigga tidak saling menempel. Saya tetap harus menari bersama piring ini, meski sungguh sangat gugup luar biasa. Saya harus sangat hati-hati, tidak berani bergerak dengan volume besar. Pementasan pertama ini akhirnya “selamat”, tapi saya merasa tidak puas karena selancar seperti ketika saya latihan di Indonesia. Meskipun mereka mengatakan persembahan saya sangat memukau tapi saya pikir saya mestinya bisa tampil lebih baik dibandingkan perform saya malam itu.

Usai pementasan karya, satu penonton memanggil saya “Ayuuuu” sambil melambaikan tangan. Omaigat! Eisa Jocson!!!! Ya ampuuun.. dia adalah penari favorit saya. Saya pernah bertemu dan melihat pertunjukan dia secara langsung Oktober 2017 di Singapura dan langsung jatuh cinta dengan pertunjukannya. Saya terharu sekaligus malu pementasan saya yang kurang sempurna tadi ditonton Eisa Jocson. Malah ada juga pak Sardono W Kusumo dan Mbak Opik di situ. Bangga sih, tapi ya agak nyesel juga, tampil dengan penuh rasa was-was dan tidak “los” di depan para idola. Setelah pementasan, para penampil dan para penonton nongkrong bareng di Stukcafe, ngobrol santai untuk saling mengenal.

Peserta Monsoon platform dan penonton ngobrol santai di cafe. Foto : MN Qomarudin.

 

Kolaborasi Dimulai

Keesokan harinya, pukul 10 pagi, kami bertemu dengan calon partner kami, seniman dari Eropa. Eh, ternyata Eisa Jocson juga salah satu dari 4 seniman yang dijanjikan panitia. Saya pikir dia tidak ikut karena dia kan orang Filipina. Ah, itu urusan panitia, batinku. Lalu Arco Renz membuka dengan mengajak berkenalan, dengan meminta kami menyebutkan arti dari nama kami masing-masing dan menyebut satu kata kunci berkaitan dengan kegiatan berkesenian yang sedang kami kerjakan. Saya mengenalkan diri saya, “hi, I am Ayu Permata Sari. Ayu is Beautiful, Permata like a Diamond, and Sari maybe like a flower.” Mereka tertawa mendengar dan melihat tingkah saya ketika berkenalan, dan mereka sepakat memanggil saya “Diamond” wewww…. Lalu saya menjelaskan kegelisahan saya dalam menari, yaitu kapan saya menari dengan hati, karena saya selama ini dominan menari dengan pikiran bukan dengan hati. Menari dengan hati itu nomor urut sekian, karena ketika menari saya harus menghapal komposisi, menghapal gerak dan musik, sehingga lebih cenderung dengan pikiran bukan dengan perasaan. Lalu saya menjelaskan bahwa saya sedang hobi mendengar musik dangdut dan musik rock. Ketika saya mendengar musik tersebut saya terdorong bergerak sebebas mungkin tanpa berpikir, karena rangsangan musik itu sangat mengajak saya untuk bergerak bebas. Katanya memang musik itu masuk ke telinga terus langsung ke hati, kalo tari dari mata, ke kepala, baru ke hati, jadi musik lebih sampek duluan, ini hanya obrolan ngawur dengan teman saya di Indonesia, dan kata kunci saya adalah gerak bebas (free movement).

Setelah semua berkenalan, kami dipasang-pasangkan, Gusbang dengan Flora, Alin sama Muhammad, Rosa dengan Ikbal, saya sama Eisa Jocson! Saya sempat kaget, tidak bicara beberapa detik. Deg-degan, takut, tapi seneng banget bisa kolaborasi dengan penari favorit saya. “Dream come true” lah isitilahnya. Setelah makan siang kami semua para peserta Monsoon Platform saling menunjukan karya-karya yang telah diciptakan sebagai bahan untuk saling mengenal lebih dekat lewat kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya.

 

Saya (baju putih) mengenalkan tari Sigeh Punguten ke Eisa. Foto : MN Qomarudin.

 

Keesokan harinya, setelah makan siang saya dan Eisa ke Studio untuk berdiskusi dan melakukan sesuatu. Kami sepakat untuk menggabungkan tari Sigeh Punguten dari Lampung, Tari Pangalai dari Filipina, Dangdut dari Indonesia, Budots dan Sexy bom dari Pilipina, rock dan om telolet om. Hari pertama kami saling memberi, saya memberikan materi tari Sigeh Punguten, gerak dangdut (ngebor, goyang itik, dan goyang dangdut lainnya), dan menunjukan video om tololet om. Eisa memberikan materi kepada saya tentang Sexy bom, Budots, dan Pangalai. Kami mencoba mendengarkan musik rock, dangdut, om tololet om dan budots, kadang-kadang menggerakkan gerak dangdut, kadang-kadang tari Pangalai, dan seterusnya secara acak. Kami mencoba bermain pada volume gerak, gerak dangdut dilakukan dengan volume kecil atau sebaliknya, begitu juga dengan gerak-gerak yang lainnya.

Di sini kami berbicara juga tentang kesadaran, sadar jika volume besar berarti kami memberikan energi yang besar dan kami sadari sampai ke penonton dan dilakukan untuk penonton, namun ada juga kesadaran bahwa kami bergerak dengan energi sedang yang dilakukan hanya untuk kami berdua saja, ada juga dengan volume yang sangat kecil, yang mana energi itu untuk diri sendiri, kenikmatan dalam bergerak untuk diri sendiri tanpa memikirkan penonton ataupun antara kami berdua. Selain volume gerak kami memanfaatkan level, level atas, sedang dan bawah.

 

Eisa mengajari saya gerakan Sexi Bom. Foto : MN Qomarudin

Kami terus melakukan eksplorasi, menari dengan menggunakan jaket tebal karena cuaca yang sangat dingin, menari di luar ruangan, dan menari bahkan sambil memakan sesuatu (karena menari bisa di mana saja dan kapan saja).  Eksplorasi dilakukan setiap hari. Di sela-sela latihan saya sering mengajak Eisa ngobrol tentang cara kerja dia dalam berkesenian, bagaimana dia memperdalam sebuah karya, bagaimana dia bereksplorasi, bagaimana cara kerja dia dengan orang lain. Hampir sama dan tak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan di Indonesia, yang membedakannya adalah eksekusinya. Saya pikir pengalaman dan latar belakang juga menentukan seorang seniman dalam eksekusi sebuah proses karya.

Hari Minggu kegiatan di Leuven  libur. Kami semua tidak melakukan apa-apa, waktunya untuk istirahat, baik fisik ataupun pikiran. Tapi saya memilih untuk jalan-jalan ke Brussels sendirian. Saya mengistirahatkan pikiran saya dengan jalan-jalan ke Grand Place. Saya berkenalan dengan dua orang bernama Lili dan Abdurahman, mereka pelajar di Leuven dan mereka menemani saya jalan-jalan. Sering kali saya melempar senyuman pada pengunjung atau pedagang setempat, mereka sangat ramah dan sopan. Saya sempatkan juga melihat museum bulan di dekat Grand Place. Saya rasa saya tidak lama berjalan-jalan di Brussels karena di Belgia sedang musim dingin, pagi dimulai jam 10 pagi, dan jam 5 sore sudah mulai gelap seperti maghrib di Indonesia.  Jam 5 saya kembali ke Leuven. Saya pikir jalan-jalan ini akan merefresh otak dan hati. Hehehhe.

Berwefie bersama Lili dan Abdurrahman.
Eksplorasi berbasis kondisi

Hari senin tanggal 18 Desember saya dan Eisa melanjutkan eksplorasi kami. Kebetulan Eisa agak kurang sehat, sehingga sedikit terlambat. Sambil menunggu Eisa, saya mendengarkan musik dengan menggunakan earphone. Saya mendengarkan musik dangdut, rock, budots dan lagu lainnya yang ada di handphone saya. Lalu saya menari di luar ruangan. Karena cuaca yang sangat dingin saya tutup muka saya dengan syal yang ada di leher saya, kemudian saya menari. Beberapa kali orang yang melihat dan lewat sempat tertawa dan ikut bergoyang bersama. Interaksi spontan yang membuat saya lebih semangat bergoyang meski nggak ada yang “nyawer” :p . Ternyata Eisa melihat yang saya lakukan, Eisa tertarik untuk mengeksplorasi gerak dengan menutup muka. Yaaaa, Eisa memang sangat peka, sering kali beberapa kelakuan saya yang menurut saya ngak penting dan kebetulan, malah dia menganggap itu unik, lucu dan bagus untuk dieksplorasi.

Selain mengeksplorasi bergerak sambil menutup muka, kami juga merencanakan bergerak bebas sesuai musik yang kita suka. Kebetulan di handphone saya tidak banyak lagu, kalau tidak lagu tarian, dangdut ya rock. Ada satu lagu yang lumayan saya suka, yaitu Shape Of You nya Ed Sheeran. Saya memilih lagu itu, menari dan sesekali menyuarakan lirik lagu tersebut. Saya tidak hapal sehingga hanya mengambil ujung katanya saya seperti “nanana nana you” dan “nanan nana room” dan sebagainya.

Esoknya lagi, saya dan Eisa merancang alur untuk presentasi kami. Kami sepakat menggunakan jaket tebal dan syal, kemudian saya akan berteriak “om tololet om!”, lalu bunyi klakson mobil, Eisa menyambut dengan teriakan “Hok A Hok E!”, lalu musik dangdut, kami bergerak ala biduan dari arah penonton ke stage, bergerak dengan volume biasa, kemudian semakin kecil dan dari berdiri hingga berbaring di lantai. Selanjutnya musik budots, kami bergerak dari gerakan yang kecil, kemudian level sedang menghadap belakang, sambil menutup muka dengan syal. Bergerak ke arah penonton, kemudian kami mengeluarkan buah dari kantong jaket, dan bergerak sambil memakan buah. Selesainya musik Budots kami menggunkan earphone bergerak sesuka hati, sambil beberapa saat menyanyi yang bertujuan agar penonton sedikit tau tentang apa yang sedang kami dengarkan. Sesekali bergerak di arena penonton dan bernyanyi di hadapan penonton. Selanjutnya kami lepas earphone dan meminta Jessy (operator musik dan pencahayaan) untuk menghidupkan musik rock. Kami urai rambut panjang kami, dan beberapa saat  kami membuka jaket, kami bergerak bebas. Kami berganti-ganti bergerak ala Pangalai, Sigeh Punguten, Budots, Dangdut, Sexy bom dan bergerak ala rock. Bergerak kesana kemari mengisi satu stage yang cukup besar.

 

Saya dan Eisa saat presentasi hasil eksplorasi. Foto : Joei Thiry

 

Tanggal 20 Desember 2017, kami melakukan persentasi hasil kolaborasi kami. Urutan pertama Ikbal dan Rosa (eksplorasi musik), urutan ke dua Aliansyah dan Muhammad (bergerak dengan sangat lambat), urutan ke tiga Gusbang dan Flora (bermain dengan material seperti Slime), ke-4 saya dan Eisa. Rancangan yang kami susun berjalan lancar namun ada beberapa kendala di bagian awal. Setelah Eisa mengucap “Hok A Hok E” musik dangdut berbunyi tidak dari awal lagu tapi dari pertengahan, lalu Eisa berjalan ke operator dan membetulkannya. Namun kejadian tersebut tidak menjadi masalah bahkan menjadi satu kesatuan pertunjukan yang unik dan terlihat santai. Selanjutnya musik dangdut sampai ke budots pun berjalan lancar. Terdengar suara penonton yang tertawa-tawa melihat tingkah kami. Sampai di musik personal, mendengar musik melalui earphone, saya cukup kesulitan menghapal lirik, namun saya cuek dan bernyanyi semau saya, semua orang tertawa karena lirik yang saya nyanyikan tidak ada yang mengerti, seperti :

I’m in Love with The shape of you terucap  I so wit det te set of you

We push and pull like a magnet do terucap  no ke de wez to net of do

Although my heart is falling too terucap azoliro mieryo fol li to

I’m in Love with your body terucap iak do so wez do dy

Semua orang bingung saya mengucap apa dan lagu apa, karena tidak juga sesuai lagu Shape Of You. Tapi muka saya sangat meyakinkan, semua orang tertawa melihat tingkah kami berdua dan sering kali ikut kami bergerak. Setelah musik personal selanjutnya musik rock. Tidak ada masalah, kami bergerak bebas seperti yang dirancang.

 

Diskusi usai presentasi Monsoon Platform. Foto : MN Qomarudin

 

Selesai pertunjukan kami, semua tertawa dan memberi tepuk tangan. Sebelum selesai dan makan malam kami mencoba men-share proses bagaimana kami berkolaborasi. Beberapa orang mendatangi saya untuk menanyakan lagu apa yang saya nyanyikan, dan mereka cukup kaget melihat aksi saya dan Eisa. Gusbang mendatangi saya “kak saya tau lagu yang kamu nyanyiin itu Shape Of You, tapi kenapa nggak ada yang sesuai sama lirik ataupun nadanya? Walaupun kakak cuma nanana atau apalah kalo sesuai tone nya, orang akan tau itu lagu apa. Nada kemana kak ayu kemana. Tapi itu paling the best kak” hahahaha, saya jelaskan bahwa saya cacat nada. Dan semua orang tertawa.

Saya sangat senang di kegiatan ini. Selain sangat santai dan tidak memberatkan para peserta tapi proses kerjanya nyata dan menghasilkan. Maksud saya, kami tidak dituntut untuk melakukan hal yang berat ataupun hal yang sangat luar biasa yang berteori atau apapun, tapi disini kami saling memberi dan menerima sesuai apa yang kami kuasai serta melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Kegiatan ini menyadarkan saya bahwa semua seniman dan segala metode memiliki keunikan tersendiri. Melihat sebuah karya tari tidak bisa hanya melihat dari visual saja, dan jika bukan selera kita lalu dianggap karya tersebut belum berhasil atau tidak suka. Setiap seniman berhak memilih gaya, metode, dan caranya masing-masing. Yang harus dipelajari adalah bagimana kita sebagai seniman yang menonton bisa masuk ke dalam karya apapun yang disajikan. Dan sebagai pengkarya bagaimana menggali terus karya yang diciptakan dan memperbanyak menonton, membaca, berdiskusi dan lain-lain untuk asupan dalam berkarya. Saya mendapatkan pelajaran pendewasaan dalam melihat dan menikmati kesenian. Para mentor dan beberapa seniman yang melihat pertunjukan kami sangat terlihat merespon positif yang kami lakukan dan lebih memandang potensi apa yang bisa kami gali.

 

Dalam proses kolaborasi yang terpenting adalah saling memahami dan menerima, mencari solusi yang terbaik untuk menghasikan yang terbaik pula. Terus mencari dan saling berbagi, menghargai pendapat satu sama lain, tidak saling memandang rendah atau memandang lebih tinggi sehingga menciutkan diri sendiri, tapi bagaimana memandang bahwa terdapat hal yang unik di setiap diri seseorang.

Pada rangkaian Europalia itu saya juga sempat melihat pertunjukan karya tari dari koroegrafer Mas Eko Supriyanto berjudul Bala-Bala, pertunjukan dari ROSAS dan pameran seni rupa orang Indoensia yang terpilih untuk ikut dalam festival Europalia. Terimakasih atas kesempatan yang luar biasa ini, saya yakin pertunjukan, proses, diskusi yang saya alami selama kegiatan ini sangat membantu saya dalam berkesenian baik dalam waktu cepat atau lambat.

Minta tolong abang tukang taksi, cekrek-cekrek dulu sebelum pulang. Foto : Belgian Taxi driver.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *