Dari Sampakan ke Mantradisi di Parade Teater Yogyakarta

Oleh:  Ficky Tri Sanyaya     

 

Parade Teater Yogyakarta mencoba menawarkan wacana baru mengenai tajuk linimasa. Perjumpaan teater hari ini yang semakin dipenuhi dengan berbagai wacana dan  lintas disiplin. Namun di sisi lain teater saat inipun seperti tidak dapat terlepas dari sejarahnya di masa lampau untuk dapat maju ke depan. Beberapa teks masa lampau ikut berkelindan dan mempengaruhi pertunjukan masa kini yang saat ini, walapun tampak lebih terbuka dan kolaboratif antar displin dengan berbagai bentuk dan tawaran pemanggungan yang acap kali beraneka, namun terkadang gagal membaca peta atau ruang tawar posisi sejarah sebagai spirit dan nilai perjumpaan di masa kini, dan masa depan pada bentangan waktu yang sedang berjalan.

Membaca ulang sejarah teater di Jogja serta menengok ulang perkembangan arus dinamikanya dalam ruang dan lingkup lokal, nasional serta global saat ini, tampak dalam bagaimana ruang atau penanda Estetika Teater Sampakan lahir sebagai ruang perjumpaan teater tradisi dan modern di era 1980-an yang mempengaruhi banyak estetika kelompok teater saat itu. Mantradisi sebagai kelompok yang lahir di tahun 2016 mengusung estetika berbeda dengan ‘Sampakan’. Mantradisi mengusung wacana tradisi sebagai warisan nilai masa lalu yang mampu dikemas melalui kerja lintas disiplin dengan kerja budaya melalui sastra, musik dan seni pertunjkan teater yang kekinian.              

Menonton Model  Kerja Estetika Sampakan Dalam Pertunjukan Perkutut Dewan Teater Yogyakarata (DTY)

Rabu  5 September 2018 merupakan rangkaian pertunjukan hari kedua dari Parade Teater Yogyakarta (PTY), di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta. Pada malam sebelumnya PTY juga menampilkan Kalanari Thetare Movement membawakan lakon  “(Un) Fitting”  dan Teater Jubah Macan melalui  “Bubur Yu Menul”.  Malam ini sebagai penutup rangkain parade ada pertunjukan teater DTY dan Mantradisi. Pementasan pertama dimulai dengan Dewan Teater Yogyakarta. Dengan membawakan lakon “Perkutut” Karya dan sutradara Wahyana Giri MC. Yang menarik dari kelompok ini adalah jumlah personilnya yang banyak, terdiri muda-mudi laki perempuan pelaku baru maupun lama dalam dunia teater Jogja saling berinteraksi dan bekerja bersama. Kelompok ini juga pernah memproduksi 11 karya pertunjukan sebelumnya dan berbagai kerja pendampingan pemberdayan yang memfasilitasi dan meberikan ruang advokasi bagi keberlangsungan iklim kerja-kerja teater bagi para pelakunya di komunitas, kampung, kampus, maupun perseorangan.

Salah satu adegan dalam Perkutut oleh DTY. Foto: Dok. TBY

Kelompok ini telah menarik perhatian sejak awal penonton memasuki gedung Concert Hall. Para pemain tidak menggunakan panggung yang berjarak di atas, tetapi justru turun mendekat ke arah kursi penonton. Tampak sutradara, pemain, pemusik, serta setting sangat terbuka dan teramati segala pergerakannya, pertunjukan ini seperti teater tanpa rahasia. Nampaknya DTY ingin mempertunjukkan secara langsung pada penonton dan banyak aktor muda cara dan model kerja estetika teater “Sampakan”.

Teater Sampakan sendiri menurut DTY  dimotori awal oleh Teater Jeprik (Noor WA-alm) kemudian diikuti oleh teater Gandrik dan banyak teater jogja lain. Sebutan “Sampakan” sendiri dilontarkan oleh sastrawan Kirdjomuljo (Sumber Booklet). Teater sampakan bermula ditahun 1980 sebagai penanda persinggungan bentuk eksistensi teater tradisional di dalam pertunjukan teater modern kala itu.  Bagaimana model dan metode cara pemanggungan tradisi dengan modern bercampur secara cair sebagai tegangan model artistik keduanya maka lahirlah estetika sampakan tersebut. Dari sanalah model dan metode etetika permainan pemanggungan tersebut muncul melalui percampuran gaya musik, dan cara bermain para aktor yang luwes keluar masuk menggunakan berbagai metode dan model kerja baik bersumber dari teaer tradisi maupun modern sebagai cara ungkap dan alat ucap dalam mempertunjukkannya.

Dalam pertunjukan Perkutut DTY malam tersebut, nampak bahwa pola dan model kerja teater sampakan sebagai gagasan estetika penciptaaan bersama secara permainan kurang rapi. Meski dalam pertunjukannya estetika sampakan banyak memberikan ruang potensi keleluasaan bagi para seniman yang terlibat dalam bereksplorasi dan berimprovisasi, tetapi jika pemahaman terhadap gagasan kurang tepat serta pemahaman terhadap metode kerja estetika kurang mendalam, maka alih-alih mendapatkan keberhasilan, pertunjukan tersebut justru merusak pola dan konvensi atas nilai estetika teater ‘Sampakan’, yang sebagaimana model dan  pola kerjanya, estetika Sampakan adalah hasil dari negosiasi atas berbagai konvensi dalam berbagai aspek displin lain.

Puluhan aktor berpartisipasi dalam lakon Perkutut oleh DTY. Foto: Dok. TBY

Terlepas penguasan karakter dan tokoh permainan watak dalam estetika sampakan yang harus luwes dan cair melalui alur dan improvisasi sebagai tanggung jawab utama aktor dan sutradara dalam menyajikan pertunjukan sehingga berhasil. Tetapi memahami dan menyadari secara bersama betapa pentingnya aspek estetika tersebut terwujud, dibutuhkan militansi serta kecerdasan dalam  mencampurkan berbagai konvensi yang telah melekat dan berlainan antara tradisi dan modern,  sehingga konskuensi tindakan yang berlaku adalah pembangunan dan pengembangan disiplin terhadap keterampilan, ketekunan dan kepekaan para aktor dalam bermain. Maka estetika sampakan tidak bisa asal, dalam meraihnya dibutuhkan disiplin latihan dan jam terbang dalam mengenali kondisi dan situasi medan tema teater yang akan diangkat secara bersama dan bukan sekedarnya.

Meski kurang berhasil dalam beberapa adegan menghadirkan guyon parikena, karakter tokoh khas teater Sampakan, tetapi  sebagai wacana, metode, pola serta studi kasus pembelajaran penciptaan peristiwa menengok masa lampau dan merasakan pengalaman mengalamai teater sampakan oleh teater DTY di masa kini menjadi sangat berhaga dalam parade ini. Bebeberapa aktor kawakan permainannya masih dapat memukau penonton. Para aktor wanita pun memilik potensi karakter-karakter yang kuat saat bermain.

Mantrdisi Masa Lalu Yang Berada di Pinggir Berusaha Menyeruak ke Depan

Pertunjukan Mantradisi hadir dengan sangat memukau sebagai pertunjukan kedua dalam perhelatan Parade Teater Yogyakarta. Kelompok ini membawakan karya dengan judul “Sabda Naya Karya” karya Paksi Raras Alit.  Dengan mengusung sastra Jawa sebagai bahasa tulis mengangkatnya sebagai estetika tutur dan peritiwa teater ke dalam panggung. Kelompok ini mencoba mengolah berbagai sumber irama musik melalui peralatan tekno bass, gitar, suling, drum, dengan mengekplorasi berbagai kemungkinan dan capaian dari berbagai genre dan gaya irama berbagai aliran musik. Selain menggabungkan estetika tulis sastra Jawa klasik ke dalam tutur macapat dengan menggunakan berbagai elemen musik modern, kelompok ini juga mencoba mentransformasikan teksnya ke dalam repertoar teater dan animasi.

aktor atau adegan teatrikal dalam karya Mantradisi. foto: dok. TBY

Sebagai bagian perhelatan parade teater referensi memang menjadi bagian penting dalam mengelola wacana dan perwujudan artistik pemanggungan. Bagaimana sebuah peristiwa interaksi langsung antara penampil-penonton dapat menjadi dialog yang meruang. Mantradisi sebagai sebuah kelompok nampak belum secara tegas menyatakan bahwa sastra dan musik adalah bagain terpenting dalam pertunjukan ini. Bagaiman memperlakukan bahasa, logat, ekpresi, irama, bahasa tubuh, pemainan musik di panggung sebagaimana aktor utama panggung dan bukan pengiring adegan seperti layaknya permaianan dalam adegan perlakuan teater konvensional berlaku. Hal tersebutlah yang amat sangat disayangkan.

Musisi yang justru berada di belakang dalam pertunjukan Mantradisi. Foto: dok. TBY

Sebagai pertunjukan teater para pelaku utama Mantradisi justru berada di samping kanan belakang panggung, memberikan ruang dan jarak lebih kepada aktor teater, proyektor animasi memiliki ruang utamanya. Sehingga suara Mantradisi melalui sastra dan musiknya sebagai potensi dan bagian penting nada dalam pertunjukan ini terasa minor dan terpinggirkan. Tampak seperti masalalu terpinggirkan dan ingin berusaha menyeruak ke depan. Sebab amat disayangkan tidak semua penonton mengerti sastra Jawa klasik sebagai pemahaman arti, namun rasanya dapat menikmati polanya meski terasa amat jauh jaraknya. Yang menarik sebanarnya penggunaan sastra Jawa klasik, lagu tutur yang berlaku, musik sebagaimana pemahaman dan pemahaman kepercayaan terhadap Mantra. Bisa jadi pertunjukan ini tidak menitikberatkan pada sajian namun diperlakukan seperti sesaji atau ritual upacara dalam kerja teater. Sehingga intensitas rasanya pada tingkat spritual sebagaimana mantra, melalui berbagai nada dan genre musik tertentu menjadi peritiwa lain yang diterima oleh penonton.

Di kasus lain, Pertunjukan Musik Menara Ingatan Oleh Yennu Ariendra dan teater Garasi secara personal berkesan sebagai pengalaman, bagaimana teater memperlakukan musik sebagai aktor utama pertunjukan dalam panggung pertunjukan, bukan pengiring adegan. Namun musik mampu memiliki kuasanya sendiri sebagai aktor utama dalam pertunjukan.  Sebagai bentuk lain mungkin model pertunjukan  karya “Jaya Manggala Gita” oleh  Ki Cokro Warsito-pun boleh menjadi model efektif, bagaiaman teks, musik dan tembang sebagai bagian  utama pertunjukan dihimpun dalam satu pusat narator layaknya dalang memainkan wayang, namun objek yang berlaku berfokus pada teks sastra, tembang, dan musik sebagai aktor utama panggung. **

 

Ficky Tri Sanjaya, aktor dan mimer Yogyakarta.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *