Catatan untuk Diskusi dan Pertunjukan Dramatic Reading “Orde Tabung” Mengenang karya Heru Kesawa Murti Oleh Teater Gandrik

Oleh : Ficky Tri Sanjaya.

Teater Gandrik membacakan naskah Orde Tabung karya Heru Kesawa Murti. Foto:  Antarafoto

Bagaimana merayakan sebuah kenangan? Bagaimana sebuah kesepian akan mewakili kenangan-kenangan yang tak tersampaikan pada seseorang? Bagaimana mengenang seseorang yang sudah mati walau sebenarnya abadi? Bagaimana sebuah keabadian bisa kita katakan mati? Keabadian Heru Kesawa Murti dalam Gandrik ada pada orang-orang yang turut serta berkeringat dalam proses berkarya bersamanya. Ketika sebuah ruh telah menjadi satu dengan keabadian maka “jiwa semangatnyalah” yang tertinggal. Semangat tersebut menjadi keabadian dan wakil yang pantas untuk mengenangnya adalah hasil karya itu yang telah abadi pernah terlahir di dunia.

Disksusi mengenang dan proses kreatif

Dalam konteks petunjukankan teater di Indonesia saya kurang mengerti bagaimana sejarah akan memperlakukan para penulis lakon. Bagaimana karya-karya naskah Heru Kesawamurti, atau penulis lakon lain dari berbagai kelompok teater akan dimuliakan? Bagaimana nilai-nilai kepengarangannya akan mendapatkan peran dan nilai sebanding dalam pengajaran seni sastra maupun pertunjukan di Indonesia? Dalam seni pertunjukan di Indonesia kita lebih mengenal dengan teater sutradara. Sebab mungkin kelompok-kelompok yang terkenal lebih banyak fokus pada sutradaranya.

Sementara itu, peran dan posisi sosok kolektif seperti apa yang dilakukan Heru Kesawamurti menurut Prof. Dr. Faruk H.T berbeda sekali dibanding pada Rendra dan Bengkel Teaternya. Meski Rendra adalah pendiri tunggal Bengkel Teater, tetapi Rendra sebagai personal dan penyair lebih terkenal dari pada Bengkel Teater. Sehingga kehidupan Rendra secara kelompok yang memiliki ketenaran secara personal seperti terlepas dari kelompok Bengkel Teater.

Berbeda dengan Heru Kesawa Murti yang seperti kehidupan kesehariannya dan proses berkeseniannya selama hidup mencerminkan diri sebagai manusia kolektif dalam kelompoknya. Heru bersama Teater Gandrik tidak hanya sebagai penulis naskah, tetapi juga sebagai aktor sekaligus motor kreatif yang melahirkan pertunjukan-pertunjukan fenomenal Teater Gandrik.

Seperti apa yang telah diceritakan bersama dalam diskusi yang dimoderatori Indra Tranggono bersama narasumber Butet Kertaradjasa, Jaduk Ferianto, Susilo Nugroho dan penanggap Prof Dr. Faruk H.T. guru besar Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada. Bahwa sosok Heru Kesawamurti sebagai manusia kolektif bersama kelompoknya meninggalkan banyak cerita anekdot yang membekas pada personal masing-masing anggota Gandrik baik yang menggelikan, jorok, sarkas bahkan tingkah laku konyol ; Pelawak Ngabdul, Heru dan peraturan baru penggunaan helm, Heru, keris dan pernikahan, Mahasiswa Filsafat dan Toilet jaman Belanda, Gigi pasangan dan jamban saat proses latian, Heru dan deadline naskah pentas Gandrik, Heru, celana dalam istri dan celana basah pipis di celana, Heru, lagu-lagu asing dan seorang yang pemalu, Dua naskah Orde Tabung yang berbeda untuk koramil dan kepolisian, dan dan masih banyak cerita menarik lain.

Selain Anekdot untuk mendorong proses kreatif bersama kelompok, bahkan Heru Kesawamurti pernah membuat “Sehari bebas ngomong saru atau jorok bersama” yang dari sanalah akhirnya banyak melahirkan nama-nama tokoh-tokoh unik dalam naskah-naskah Teater Gandrik. Hobi lain beliau juga adalah selalu menyimpan dalam dompetnya nama-nama yang ditulis dengan secarik kertas tokoh-tokoh yang akan diciptakan dalam naskah. Bahkan dalam proses kretif Teater Gandrik Heru Kesawamurti sebagai penulis naskah rela dengan sadar naskahnya dibetheti (dikuliti-terj) bersama oleh anggota lain. Ia rela jika dalam proses kretif berlangsung ternyata naskah yang sudah jadi harus dirubah total lantaran jelek menurut kawan-kawanya.

Mengenang Heru Kesawamurti sama halnya seperti mengenang proses kreatif pertunjukan Teater Gandrik. Saat pemaparan berlangsung dalam menengok ulang  proses latihan dalam penciptaan pertunjukan dapat menghabiskan lebih dari 6 jam setiap harinya. Setiap anggota dalam Gandrik bekerja total sesuai kompetensi dan kemampuanya dalam menciptakan suasana, mengeksplorasi dan meningkahi naskah, menguliti tempo, irama, suara, dan detail-detail lain artistik lain. Selain setiap personal dalam pementasan nantinya masih memiliki cadangan-cadangan dagelan yang saling tidak diketahui lawan mainnya.

Kehidupan dan kematian Heru Keswamurti adalah keabadian sebab selama diskusi tersebut ketika mencoba mengingat ulang jarang sekali setiap pencerita baik moderator, narasumber, ataupun penanggap menggunakan kata almarhum dalam setiap penggambaran sosok Heru Kesawamurti.

Manajemen Teater Gandrik, dan mahalnya berkesenian

Sudah menjadi pengertian umum jika proses produksi sebuah pertunjukan teater membutuhkan ongkos produksi yang mahal. Selain dalam rangka pemenuhan kualitas artistik yang maksimal, juga demi keberlanjutan kerja secara berkelompok, dan penghidupan anggota. Maka keberlangsungan visi dan kerja kekaryaan sebuah kelompok membutuhkan nafas panjang dan manajemen yang apik serta ketat dalam pola kerjanya. Tentu saja harus sesuai dengan kondisi dan semangat penghargaan dan kebersaman. Ini tentu saja tidak mudah. Tidak cukup hanya bermodal keberanian, melainkan kenekataan. Mengimajinasikan kelompok seni yang harus terus hidup dan bekerja menghidupi kelompoknya, dengan cara dan model apapun dalam konteks penciptaan karya. Sedikit banyak hal tersebut tentu nantinya akan menentukan pilihan cara kerja kelompok tersebut yang kemudian mampu dipertanggungjawabkan pada kalayak.

Keutuhan secara manajerial kelompok dalam Teater Gandrik tidak terlepas dari peran dan kerja keras Butet Kertaredjasa sebagai orang yang bekerja mengatur manajemen dibalik setiap proses pertunjukan teater Gandrik. Butet menuturkan bahwa setiap kali proses berkelompok, persolan keuangan menyangkut pembagian gaji seluruh anggota adalah persolan yang sensitif, bahkan dapat menjadi pemicu bubarnya sebuah kelompok. Dalam pencariannya Butet memaparkan telah menanyai banyak orang baik pelaku, penikmat bahkan maestro-maestro seni yang telah malang melitang dalam seni pertunjukan di Indonesia; tentang persoalan keadilan dalam pembagian honorarium anggota yang terlibat dalam proses berkesenian. Hingga saat ini menurutnya belum menemukan jawaban yang memuaskan.

Butet dan teater Gandrik menekankan, sedari-awal proses bekerja bersama perlu dilandasi adanya sikap kejujuran dan keterbukaan. Maka dari itu Teater Gandrik menerapkan sistem bagi hasil dari dana sisa hasil produksi di setiap prosesnya. Artinya dana hasil produksi yang paling utama harus dapat mengembalikan dana awal produksi. Setelah itu jika masih ada sisa baru akan dibagikan kepada anggota yang berani menghidupi kelompok. Besaran pembagian honorarium didasarkan pada tingkatan peran fungsi kerja setiap anggota dalam sumbangsihnya mensukseskan pementasan. Kemudian kesemuanya dijumlahkan di dalam poin untuk dirupiahkan. Bahkan setelah pengumpulan poin berdasarkan catatan kerja setiap anggota selesai dikalkulasi, masih ada satu kesempatan lagi bagi seluruh anggota untuk memperdebatkannya dalam forum sebelum menjadi rupiah. Setelah forum perdebatan selesai dan uang sudah dirupiahkan maka setiap anggota tidak diperkenankan melakukan pembicaran kasak-kusuk dibelakangnya.

Pertunjukan Dramatik Reading “Orde Tabung Teater Gandrik”

Lampu temaram saat semua perayaan akan kenangan telah disampaikan melalui kata dan video malam itu, dalam acara Gelar Maetro di Consert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jumat, 26 Agustus 2016, perayaan akan kenangan tentang sosok Maestro Teater Modern dengan segala anekdot hidup dan karya naskah, film dan pertunjukannya telah usai dibahas sedari pagi dalam acara pemutaran film dan diskusi bersama Prof. Dr. Faruk H.T,  Susilo Nugroho, Butet Kertaredjasa, Jaduk Ferianto, dan Indra Tranggono, hingga malam sebelum pembacaan karya.

Bahwa inti dalam diskusi selain mengenang karya-karya Heru Keswamurti melalui karya naskah-naskahnya, adalah saran baik adanya jika ISI Yogyakarta sebagai institusi seni mampu meneyerap ilmu dari proses kreatif dan kerja menajemen seni pertunjuakn Teater Gadrik selama ini.

Di malam hari saat perayaan kenangan, sebuah meja panjang dengan kursi-kursi dan hiasan di atasnya seperti teko batik, makanan, beberapa naskah yang berjejer, gelas minuman dan beberapa perabotan piring kecil terbuat dari bambu tempat menaruh makanan. Para pemain yang kesemuanya menggunakan pakaian berwana hitam gelap, panggung kosong, lampu dengan bungkus keranjang bambu, membuat sedikit redup fokus pada meja pertemuan.

Kesunyian yang khusuk diciptakan dalam suasana pembacaan malam itu. Seakan tradisi membaca naskah saat latihan bersama ala Gandrik nyaris seperti itu adanya; glenyengan, serius tapi santai, penuh eksplorasi, ketegangan, sekaligus gojegan. Hanya saja Heru Kesawamurti tidak berada di situ. Ia ada dalam kesepian yang diciptakan malam itu. Di tengah canda dan kenakalan-kenakalan dalam meningkahi naskah, seolah-olah beliau nampak hadir dalam suasana pertemuan itu. Suasana yang murung dalam pertunjukan tersebut mengisyaratkan seolah-olah Teater Gandrik memang sedang merayakan kedukaan, kehilangan dan kesepian panjang setelah ditinggal Maestro yang biasa membidani lahirnya naskah-naskah fenomenal Gandrik kurun waktu 1982-2011 itu. Salah satunya karya beliau yang dibacakan malam itu, Orde Tabung.

Naskah Orde Tabung lahir dengan begitu kuat, imajinatif, nakal, dan sangat impresif. Menjadi penanda waktu dalam konteks sosial politik yang terjadi saat naskah tersebut dilahirkan pada masa Orde Baru. Walau tidak secara terang-terangan melalui naskahnya mencoba mengkritik pedas pengusa saat itu. Bahasa “sandiwara” yang digunakan dalam lakon tersebut dan penggunaan simbol bahasa yang tersurat menjadi potensi yang kuat dan sarana efektif yang dapat dilakukan dalam pertunjukan masa itu. Motif dan alasan dilakukannya pada masa itu adalah adanya pemerintahan dan kekuasan Orde Baru yang represif.

Tokoh-tokoh yang dilahirkan dalam naskah tersebut sangat futiristik karena malam itu digambarkan terjadi pada tahun 2080-2090.  Gerong, Sesek adalah tokoh inti dalam naskah itu. Mereka menjadi tokoh yang dicari untuk dibunuh atau dijompokan dalam rumah tahanan. Mereka adalah cerminan dari dua orang “Konvensiaonal” yang masih bisa lolos dan hidup di zaman Orde Tabung dari sekian ribu manusia “Konvensional” lainnya yang telah terlebih dahulu dibantai. Penyebab dibantainya adalah keterlibatan mereka dalam praktik-praktik “Konvensional” pada masanya, sehingga saat zaman “Konvesional” telah usai dan berganti zaman Orde Tabung mereka seolah-olah wajib untuk dijompokan.

Di zaman baru yang mereka katakan “Orde Tabung” manusia tidak boleh lahir dari rahim seorang ibu. Bahkan manusia Orde Tabung dilarang untuk melakukan kontak hubungan seksual dengan manusia-manusia sebelumnya yang “Konvensional”, karena hal tersebut melanggar aturan di zaman Orde Tabung. Manusia-manusia yang kedapatan melakukan hubungan kontak sebadan, atau bahkan kontak hubungan seksual dengan manusia “Konvensional”, maka dengan segera akan lansung dijompokan, dicabut hak-hak hidupnya dari zaman Orde Tabung, tidak mendapatkan fasilitas sekolah, tidak dapat bekerja sebagai PNS, dan terbuang dalam struktur masyarakat.

Menurut bapak sekretaris Orde Tabung dalam naskah tersebut, jika ada terjadi hubungan seksual kontak sebadan manusia Orde Tabung dengan manusia “Konvensional” maka itu sudah menyalahi kodrat manusia masa Orde Tabung dan aturan dari pemerintah di zaman Orde Tabung. Manusia jenis tersebut harus dimusnahkan. Untuk itu manusia-manusia jenius yang lahir di zaman Orde Tabung harus bisa menyesuaikan diri menjadi manusia yang hidup dan tumbuh sesuai aturan pemerintahan Orde Tabung. Manusia-manusia jenius yang tidak terlahir dari zaman Orde Tabung dan sedang di sekolahkan di luar negri, yang lahir dari rahim dan bukan dari tabung termasuk juga manusia “Konvensional”, maka harus segera dijompokan dan dicabut hak-hak hidupnya.

Gerong dan Sesek adalah tokoh yang dijompokan, mereka memiliki nomor panggil seperti layaknya tahanan, seperti manusia-manusia lain yang telah dijompokan. Namun Gerong dan Sesek berhasil melarikan diri. Sepanjang cerita mereka selalu berlari untuk dapat hidup. Hidup mereka selalu dikejar oleh barisan keamanan penjaga Orde Tabung. Hingga berita berhasil kaburnya mereka terdengar dan membuat gusar pemerintah kota di zaman Orde Tabung. Sehingga dengan cepat pemerintah harus mengambil keputusan agar tidak mengganggu stabiltas keamanan di zaman Orde Tabung.

Gerong dan Sesek mencari anak-anaknya, dan berharap dapat bertemu dengannya. Ternyata anak mereka telah besar dan hidup menyesuaikan dengan kondisi alam pemerintahan dizaman Orde Tabung. Anak-anak dari manusia-manusia “Konvensional” ini ternyata menikah dengan manusia yang terlahir di zaman Orde Tabung dan beberapa dari mereka sedang hamil, yang artinya akan melahirkan anak-anaknya dari rahim yang dilarang dalam zaman Orde Tabung ini.

Hal tersebut membuat geger pemerintahan di Orde Tabung. Setiap orang di pemerintahan baik dokter, petugas kemanan, sekretaris, pengelola rumah jompo beserta istri-istrinya yang menguasai pemerintahan di zaman Orde Tabung saling tuduh sebagai manusia yang bukan dari zaman Orde Tabung. Sebenarnya semua pemerintah dalam Orde Tabung tersebut tidak ada yang steril, mereka saling terlibat baik langsung maupun tidak dengan manusia “Konvensional”. Ternyata permasalahan di Orde Tabung hanya persoalan rahim yang akan lahir dalam rumah tangga mereka yang akan menjadi konflik sekaligus masalah gawat dalam menciptakan isu dan mengganggu stabilitas kemanan, sebab zaman Orde Tabung  sudah rapi mereka bentuk dan ciptakan.

Gerong dan Sesek mencari anak mereka dan tak kunjung ketemu, hingga mereka mulai ragu apakah anak-anaknya masih hidup dan apakah anak-anak keduanya masih mengenali keduanya. Nurani mereka tidak bisa berbohong, keduanya merindukan anak-anaknya. Namun apakah anak-anaknya masih punya nurani di zaman Orde Tabung ini? Pertanyaan yang kemudian menegaskan Gerong yang masih yakin jika anaknya masih memiliki nurani, walau untuk membuktikannya ia harus berani untuk mati. “Apa yang paling dekat dengan hidup selain kematian,” kata Gerong. Kemudian pada akhirnya mati, disaksikan Sesek, Gerong menjadi korban yang tampak jelas dibunuh secara sengaja di zaman Orde Tabung saat pertemuan haram dengan anaknya akan segera terjadi. Begitulah zaman di masa Orde Tabung berlaku, kejam bagi orang-orang yang tergolong “Konvensional”  harus dihilangkan dalam sejarah untuk melanggengkan kekuasaan manusia-manusia penguasa “Orde Tabung”

Naskah yang ditulis Heru Kesawamurti dalam konteks kini, dibacakan malam itu sayup-sayup dalam suasana hening, dengan musik yang minimalis berisi suara-suara gurauan, bahkan naskah terdengar seperti sandiwara radio, seperti dongeng atau kabar burung saja, dari kejauhan. Penonton sekaligus pendengar secara tidak sadar dibawa masuk dalam ruang imajinasi yang berlapis seperti sebuah kisah dongeng. Bahkan hampir tak merasai jika kita pernah mengalami dan melewati zaman seperti dalam Orde Tabung tersebut.

Lambat laun kurasakan naskah tersebut seperti sebuah saksi mata hidup yang berjalan, terus mengintai hidup kita saat ini. Semoga kita tidak lupa pernah ada orde yang seperti diceritakan dalam lakon Orde Tabung yang sebegitu kejam dan mengerikannya orde tersebut ketika pernah ada dan berkuasa.

Sayup-sayup terdengar suara dari Heru Keswamurti dalam kenangan dikepala saya saat pementasan Sidang Susila beberapa tahun silam sebelum meninggal. Santaiiiii..(Diiringi musik: “jengjet”) santaiii, ucap lagi beliau malam itu diiringi suara riuh tawa penonton yang menyaksikan pementasaan saat itu.

Yogyakarata, 27-28 Agustus 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *