Catatan dari Next Generation Producing Program dan Menonton TPAM 2017

oleh : Nia Agustina*

10 sampai 21 Februari 2017 lalu, saya berkesempatan ikut serta dalam Next Generation Program yang diinisiasi oleh Japan Foundation, Asia Center. Mudahnya, program tersebut bertujuan untuk mulai memetakan dan mempersiapkan regenerasi produser dalam dunia seni Pertunjukan terutama di wilayah Asia. Dilaksanakan di Yokohama pada saat  TPAM 2017 berlangsung, program ini memang focus pada aktivitas menonton, diskusi dengan kelompok, juga pertemuan-pertemuan baik dengan seniman, produser, dramaturg, sutradara, dll.

6 peserta yang diundang yang berasal dari berbagai latar belakang dan negara sangat memperkaya wacana di dalam forum diskusi. Berikut daftar peserta Next Generation – Producing Performing Arts program:

  • Agustin Pandhuniawati Heryani (Nia Agustina)–Program Manager di Paradance Festival Yogyakarta, Indonesia
  • Andrei Nikolai R. Pamintuan–Direktur Festival di Fringe Manila and Pineapple Lab, Philipina
  • Chizuru Matsumoto–Manajer Produksi di Kochi Museum Hall Planning Division, Jepang
  • Nobusuke Kashima–Sutradara Teater di Jyuuryoku-note, Jepang
  • Vivian War–Produser indie, Malaysia
  • Wayla Amatathammachad–Manajer Seni Budaya di Thong Lor Art space, Thailand

Dengan koordinator program Haruna Tsutsumi, Program Officer di Saison Foundation, yang memiliki jejaring cukup luas dalam perhelatan TPAM 2017, selain menonton kami “dipaksa” dalam artian positif untuk berjejaring. Berkenalan, ngobrol, berbagi program dan kondisi menjadi bagian penting dalam program ini. Saya secara pribadi, sebenarnya belum pernah secara serius berpraktek menjadi produser, dramaturg, ataupun kurator, sehingga memang harus banyak meraba dan “kejedot” wacana serta diskursus yang dibahas di sana. Tapi bagi saya, “kejedot” itu penting, supaya tidak merasa paling bisa, dan ujung-ujungnya tak mau belajar lagi. Supaya gambarannya jadi lumayan jelas, saya akan mengulas secara singkat satu persatu hal menarik dalam program ini.

Sesi Menonton Pertunjukan

Aktivitas menonton dalam program ini difokuskan di TPAM. Sebagai penjelasan untuk memberi gambaran, saya terjemahkan apa dan bagaimana sejarah TPAM dari website www.tpam.or.jp secara singkat.

“TPAM – Performing Arts Meeting in Yokohama adalah sebuah ruang dimana para professional seni pertunjukan dari berbagai tempat di dunia tergabung dalam pertukaran melalui pertemuan, program kerja yang beragam, dan untuk meningkatkan informasi, inspirasi, serta jejaring untuk berkarya, penyebaran, dan pemanfaatan seni pertunjukan. TPAM dimulai sebagai Tokyo Performing Arts Market pada tahun 1995, pindah ke Yokohama, dan menamai ulang sebagai “Meeting” (Pertemuan) sebagai ganti “Market” (Pasar), kemudian memperbaharui program sebagai platform untuk berbagai kegiatan seni pertunjukan yang tidak terbatas sebagai “jual-beli” produksi. Mulai 2015, TPAM memperkuat fokus Asia, ikut serta dalam co-production dan bahkan lebih penting dari sebelumnya di jaringan Asia.”

Beberapa pertunjukan yang saya tonton, akan saya tulis berdasarkan kategori dengan penjelasan singkat di bawahnya.

  1. TPAM Direction
  • Fever Room – Apichatpong Weerasethakul (Chiang Mai)

Tempat: KAAT Kanagawa Art Theatre Hall

Statement dalam pertunjukan ini, Fever room mengajak penonton untuk merefleksikan ketidakstabilan memori/ingatan dan gambaran/image. Karya yang merupakan kolaborasi antara film dan projection-performance ini merepresentasikan fantasi dan realitas. Menggambarkan keadaan Thailand yang masih dikuasai kediktatoran militer (salah satu beritanya dalam bahasa Indonesia: http://kbr.id/berita/05-2017/tiga_tahun_pemerintahan_militer_thailand_/90268.html).

Masuk ke ruang pertunjukan semuanya gelap, kemudian film mulai diputar di salah satu sisi tembok panggung (maaf ingatan saya pendek jadi tidak bisa mengingat urutannya dari sisi mana ke mana). Potongan-potongan kejadian, pose metaforik, dan lanskap bergantian muncul dalam film tersebut. Beberapa menit kemudian film juga diputar di sisi yang lain. Beberapa menit selanjutnya di kanan, kiri, dan depan penonton semuanya digunakan untuk memutar film yang adegannya belum tentu sama satu sisi dengan sisi yang lain. Sampai akhirnya film dimatikan dan tirai panggung dibuka. Karena saya belum pernah ke KAAT jadi saya sama sekali belum mengenal tempat tersebut. Setelah tirai dibuka, ternyata kami, para penonton, berada di atas panggung, bukan di kursi penonton. Dari sana kami mengalami hal yang tidak terduga, projection-performance dimulai, dan saya merasakan atmosfer ilusi atau fantasi yang luar biasa. Secara ekstrim, rasa yang muncul adalah berada di ruang hampa di luar angkasa, tiba-tiba muncul kabut, matahari yang berkilau, sampai spektrum cahaya yang tidak saya kenal. Ya, saya merasakan sendiri bagaimana realitas dan mimpi kadang tidak punya batas. Seperti apa yang terjadi di Thailand, kudeta 2008 dan 2014 memantik mimpi Thailand yang lebih baik, bersih tanpa korupsi. Tetapi kenyataannya setelah 3 tahun berada di bawah junta militer, masyarakat Thailand justru dihadapkan pada keditaktoran, janji untuk Pemilu yang demokratispun seperti hanya mimpi belaka. Sampai kapan? Masyarakat Thailand masih terus memimpikannya. Dalam film versi lengkap yang diputar di Yokohama, kebetulan saya berkesempatan menonton, juga menyoroti hal yang sama. Diterjemahkan dari laman www.kickthemachine.com:

“Di sini orang-orang berlindung dalam mimpi sementara ketika tanah mereka berada di ambang keruntuhan, menggemakan keadaan kediktatoran militer Thailand saat ini. Jen sedang menjalani perawatan medis dan operasi untuk menyeimbangkan kakinya. Sementara di rumah sakit, dia meringkuk dan bermimpi. Itt, yang tidur di tempat lain, bergabung dengannya dalam mimpi. Dia menceritakan tempat favoritnya. Dia mengatakan  tentang tanah dimana dia berasal, tanah yang tidak memiliki cahaya. Bahkan dalam mimpinya pun tidak ada cahaya. Dia memanen iluminasi dari mimpinya untuk mendapatkan energi. Dalam Fever Room, Apichatpong mendokumentasikan sejarah pribadi dan regional seolah mereka akan segera lenyap. Rumah sakit adalah tempat transisi kesadaran. Gua dieksplorasi kembali sebagai tempat tinggal. Sungai Mekong diamati oleh sekelompok pemuda tanpa nama di darat dan di atas kapal. Malam terakhir akan segera berakhir.”

  • Performance Encyclopaedia – Public Recording (Toronto)

Tempat: BankArt Studio NYK 1F Kawamata Hall.

Pertunjukan ini mungkin salah satu yang di luar dugaan saya, ketika masuk di ruang pertunjukan kami disodori sebuah buku dan dipersilahkan duduk di manapun kamu inginkan. Disediakan kursi dengan posisi melingkar di pinggir, kemudian di tengah meja besar dengan beberapa kursi untuk duduk berkelompok. Setelah itu semua “penonton” diminta membaca buku tersebut selama 45 menit tanpa diberi penjelasan apapun atau direksi yang lain, intinya diminta fokus baca saja, masalah membacanya mau dari depan ke belakang, acak atau dari belakang ke depan, bebas.

Buku tersebut ditulis secara kolektif oleh kumpulan kolaborator artistik Asia yang bekerja dalam bahasa inggris. Tulisan tersebut berupa kata-kata urut abjad (Seperti kamus) dengan makna, sejarah, dan fungsi sebagai “definisinya”. Pertunjukan ini adalah kritik soal anggapan tentang runtuhnya dunia penerbitan. Buku yang dibaca selama Performance Encyclopaedia berlangsung bersifat temporal, untuk pertunjukan selanjutnya akan disusun buku baru, cetak, dan diedarkan kembali selama satu jam, kemudian ditarik kembali, dan diulang fasenya.

  1. Aki Onda Direction – Sound Artist dan Kurator.

Tempat: KAAT Kanagawa Arts Theatre Middle Studi

  • Ngọc Đại (Hanoi)

Karena lirik yang menganduk kritik politik, tidak ada penyanyi yang diperbolehkan menyanyikan komposisi Ngọc Đại di negaranya. Sehingga dia memutuskan untuk menyanyikannya sendiri. Karena perbedaan bahasa, sebenarnya saya memang tidak terlalu mengerti apa yang dimaksudkan. Tetapi, frekuensi suara yang dihasilkan dari nomor-nomor yang ditampilkan kadang-kadang terasa menggugah, menyayat, gelap, tetapi provokatif. Saya sebenarnya tidak terlalu mengerti tentang musik, tapi sesederhana itu saya bisa merasakannya.

  • Senyawa (Yogyakarta)

Tempat: KAAT Kanagawa Arts Theatre Middle Studio

Soal senyawa, bodohnya, saya memang kurang pergaulan, saya tahu siapa mas Wukir dan mas Rully sebelumnya, tapi bahkan saya tidak tahu mereka membentuk Senyawa. Ketika teman-teman member next generation bertanya kepada saya, saya hanya bisa menggelengkan kepala. Ya, memang perlu “kejedot” berkali-kali supaya semangat belajar. Di TPAM kali ini, kalau tidak salah dalam menerjemahkan dari buku program, Senyawa menganalisis elemen musik eksperimental Barat dan Jepang dan mentransformasinya menjadi musik mereka sendiri. Menarik memang! Ketika Senyawa akan memulai pertunjukannya banyak penonton yang pindah dari kursi untuk lesehan lebih mendekat ke panggung. Selain itu, penonton tidak diam saja, sorak sorai seperti layaknya konser band terdengar sepanjang pertunjukan. Ahh, agak “lucu” juga, kontras dengan panggung proscenium yang biasanya terkesan kaku dan formal karena penonton dan panggung selalu berjarak. Pertunjukan ini memang menabrak dinding-dinding penampil-penonton, cair, garang, dan maknanya? Tentu saja ada, sangat ada.

  • Solo Rites: Seven Breaths – Jen Shyu (New York)

Tempat: KAAT Kanagawa Arts Theatre Middle Studio/

Jen Shyu adalah  vokalis eksperimental (khususnya untuk jenis vocal jazz), komposer, multi-instrumentalis, dan penari yang orang tuanya adalah imigran dari Taiwan dan Timor Timur (sumber: http://jenshyu.com/ dan buku program TPAM 2017). Pertunjukannya kali ini adalah hasil riset soal musik folklore dari 5 negara Asia, mulai gunung terpencil di kawasan Timor Timur sampe masyarakat sungai Kalimantan Timur, Indonesia. Ada 7 nomor yang dipertunjukkan secara solo oleh Jen Shyu. 7 nomor itu sangat terlihat pebedaan nafasnya, nafas Indonesia (Kalimantan, Jawa), Taiwan, Korea Selatan, Timor Timur, dan Vietnam. Kesemuanya ditampilkan secara beragam, ada yang hanya komposisi musik instrumental, dengan lirik, atau bahkan dengan tarian. Menarik melihat perjalanan risetnya, hanya saja ada beberapa yang kurang detail, misal soal selendang yang dikenakannya dan dia perkenalkan sebagai selendang asli Jawa, mungkin pemilihannya kurang tepat. Karena hanya selendang polos berwarna merah tanpa ronce atau batik, yang sama sekali tidak ada identitas “Jawa”nya (Surakarta/Yogyakarta/Jawa Tengah/Jawa Timur/Jawa Barat). Tapi selebihnya, menarik!

  • Be Careful – Malika Taneja (Delhi)

Tempat: KAAT Kanagawa Arts Theatre Large Studio.

Dalam forum wraping next generation program ini kami ditanya, pertunjukan apa yang menarik untuk “mungkin” dibawa ke negaramu, dan kenapa? Saya menjawab pertunjukan yang satu ini. Kenapa? Karena saya merasakan adanya keadaan yang sama antara apa yang dia ungkapkan soal Delhi dan Indonesia. Malika dengan pertunjukannya mencoba mengatakan bagaimana perempuan kemudian harus melakukan pencegahan ini itu, misal berpakaian tertutup, pergi malam harus dengan saudara laki-laki, dan proteksi yang luar biasa dari ayahnya untuk menghindari kekerasan terutama kekerasan seksual terjadi padanya. Ini menimbulkan pertanyaan, kenapa perempuan yang harus menjaga semuanya? Bagaimana dengan pelaku? Sepertinya semuanya terlalu fokus melimpahkan tanggung jawab kepada perempuan, padahal kekerasan seksual tidak akan terjadi, jika TIDAK ADA YANG MELAKUKANNYA. Gambaran pertunjukannya, dari awal Malika telanjang, kemudian mulai bercerita sembari mengenakan pakaian satu persatu yang sudah disusun di samping kanan kirinya, sampai hampir seluruh pakaian dia pakai berlapis-lapis. Klimaks, kemudian anti-klimaks, dia melepas pakaian satu persatu kembali sampai dia mengenakan pakaian selayaknya, sesuai yang dia mau.

  • Taipei Notes – Oriza Hirata + Voleur du Feu Theatre (Tokyo/Taipei)

Tempat: Yokohama Museum of Art, The Grand Gallery.

Di lobi Museum kesenian, tidak lama lagi pembicaraan berfragmen di depan lukisan yang pernah dievakuasi dari perang menimbulkan masalah dan krisis dalam masyarakat modern (Buku Program). Saya “kejedot” lagi untuk kesekian kali disini, meski saya mengerti secara naratif soal pertunjukan ini, tetapi kesejarahan yang terjalin dalam Taipei Notes? Saya blank. Di luar itu saya lumayan menikmati suasana yang dibangun, terlebih set-nya memang dipilih di Museum dan semua aktivitas performance ya menyesuaikan museum itu. Mungkin bisa dibilang site-spesific.

  1. Yumina Kato Direction – Director, Stepp Slope Studio
  • Tower- Futari (Kyoto/Tokyo)

Tempat: BankART Studio NYK 3F 3B Gallery.

Soal pertunjukan ini, saya akan melihat dari sudut pandang saya sendiri, karena kontekstual dengan keadaan Jogja hari ini. Tower saya lihat sebagai kritik soal bagaimana bangunan-bangunan bertingkat mulai muncul. Pada akhirnya keadaan menimbulkan berbagai dampak. Dampak positif bagi sebagian orang, terutama untuk pebisnis yang menikmatinya, tetapi dampak negatif bagi masyarakat, polusi, limbah, menumpuknya sampah yang tidak tahu akan dibuang kemana. Pertunjukan mix media, antara video, instalasi, teater, property yang mix media juga, plastic, air, kertas, dll ini justru membawa saya ke Jogja.

  1. Fumi Yokobori Direction – Program Director, NPO Dance Box
  • Road To Evil Spirit – Zan Yamashita (Kyoto)

Performance ini menampilkan proses dialog antara guru dan murid yang saya rasakan sebagai dialog Zan terhadap proses risetnya di Bali hingga dia menemukan Bali. Tidak semata-mata soal tarinya, tari tradisional Bali maksud saya, tetapi juga kejadian-kejadian yang dia alami selama di Bali. Zan diterima tentu sebagai turis di Bali, yang kemudian ini dimanfaatkannya untuk menemukan logika-logika masyarakat di dalamnya. Diiringi cerita risetnya via screen yang juga membatasi antara dia dengan gurunya, Zan bergerak sesuai dengan arahan gurunya, sampai akhirnya dia berada dalam keadaan “trance” dan menemukan evil spirit dalam pertunjukannya. Seperti tidak diset, tidak terbur-buru, Zan seakan merelakan dirinya menemukan sendiri, tanpa paksaan. Meskipun tentu tidak sekedar improvisasi, semuanya tertata. Apik dan epic!

  • Zero One – Yasuko Yokoshi (New York/Kyoto)

Ini salah satu pertunjukan yang menarik, tapi karena pengetahuan saya yang masih terbatas, saya masih sulit mencerna statement yang diinginkan. Supaya jelas, saya terjemahkan sinopsis dari buku program. Penari kembar yang memiliki background berbeda dan tentu bahasa tari yang berbeda, Manami dan Sawami Fukuoka, serta film tentang hangman Takuzo Kubikukuri yang selalu menanyakan soal hidup dengan cara menggantung diri secara regular. Kemiripan dan perbedaan, diri sendiri dan orang lain, eksisten dan noneksisten tergantung pada waktu dan ruang diantara nol dan satu. Dari sinopsis tersebut sebenarnya jelas yang ingin disampaikan sang koreografer, Yasuko Yokoshi. Tapi saya masih harus banyak baca lagi sebelum mengulas ini. Tapi secara keseluruhan pertunjukannya menarik, dua penari kembar menari secara terpisah, bersama, terpisah, dst, film sendiri diputar di awal, kemudian di pertengahan, dan kemudian di akhir.

  • BalaBala – Eko Supriyanto (Surakarta)

Kembali lagi, Eko Supriyanto menginterpretasi tari tradisional Jailolo dengan nafas kontemporer. Setelah Cry Jailolo yang semua penarinya laki-laki, kini BalaBala dengan penari perempuan. Karya ini sekaligus sebagai bukti bahwa perempuan mampu melampaui hierarki gender tradisional yang masih berlangsung di Indonesia, khususnya Jailolo. Menonton karya ini, memang cukup terasa kekuatan perempuan yang ingin ditonjolkan oleh sang koreografer, tetapi balutan nuansanya tetap manis. Jadi ada 2 sisi, dari matanya kadang terlihat lembut, kadang tajam, gerakannya kadang manis, kadang kuat, begitupun musiknya, kadang nuansa yang dibentuk seperti suasana damai di pinggir pantai, kadang nuansa siap untuk berperang. Interpretasi yang menarik dari keseluruhan pertunjukan.

 

  1. TPAM Fringe
  • Dark Master – Niwa Gekidan Penino

Tempat: Komaba Agora Theatre.

Menceritakan Kitchen Nagasima, restoran ala barat di Osaka yang selalu sepi padahal sang empunya resto memiliki skill memasak yang luar biasa, dengan cita rasa yang enak. Hal ini mungkin disebabkan oleh kebiasaan mabuk dan anti sosial sang owner. Suatu hari ada seorang pemuda yang datang dari Tokyo makan di resto tersebut. Tanpa diduga sang owner memintanya untuk mengurus restoran. Mulai saat itu, sang owner mengarahkan pemuda itu untuk memasak dari lantai atas dengan mic wireless. Dan itu pula hari dimana owner tidak pernah terlihat lagi, hanya suaranya saja yang terdengar oleh pemuda tersebut. Narasi ini menarik, juga intrik yang ada di dalamnya. Ada saat dimana restoran tersebut akan dibeli oleh seorang Tionghoa, dan percakapan disana ada beberapa yang terkesan sinis melihat Tionghoa. Masalah politis.

  • Rocky Machbet – KPR

Tempat: RAKUEN.

Pada intinya, pertunjukan ini ingin meng-highlight statement soal Machbet tidak akan pernah mati, dia akan selalu lahir kembali di hati orang-orang yang serakah. Bentuk panggung diset seperti ring tinju dengan penonton sangat dekat di luar ring tinju, sebenarnya saya tidak terlalu paham apa yang diceritakan per adegan karena bentuknya fragmen-fragmen metaforik dengan kemasan komedik. Bahasa, juga sedikit banyak menghambat, meski ada translate tetapi fokus tetap terbelah jadi saya memilih menikmati sambil meraba-raba apa yang coba ingin mereka ungkapkan. Misal metafora kostum koi dan mereka ngobrol soal Machbet dari sejarah sampai realita, atau salah satu aktor duduk di salah satu pojok panggung dengan helm dan kemudian kepalanya dijatuhi batu dan kerikil berukuran sedang terus menerus. Masih harus dipelajari lagi. Tapi saya cukup menikmati.

  • Highlights from masterpieces – Un Yamada Studio Performance

Tempat: YCC (Yokohama Creativecity Center 3F).

Karya ini adalah highlight dari karya tahun 2015 berjudul Monaka. Monaka adalah kue manis tradisional Jepang yang berbentuk sandwich, dengan bagian yang mengapit isi adalah mochi kering dan di dalamnya selai kacang azuki. Karya ini mengusung konsep ritme agricultural Jepang. Jadi monaka diambil karena menjadi salah satu simbol dari masyarakat tradisional Jepang. Pertunjukan ini terkesan santai dengan suasana latihan. Saya tidak ingat berapa jumlah penarinya, tetapi ketika memasuki ruang pertunjukan, lampu terang dan para penari sedang melakukan pemanasan, ada yang ngobrol, ada yang duduk, semuanya cair. Beberapa saat kemudian, penari baru memulai komposisi Monaka. Para penari relatif muda, pertunjukannya low tech tapi bersih, rapi, dengan power yang seimbang antara penari satu dan yang lain.

  • Catfish – FaiFai

Tempat: CLASKA Room 402.

Pertunjukan yang dilakukan di sebuah kamar hotel dengan banyak unsur komedi ini, bagi saya cukup reflektif. Saya menangkapnya sebagai gejala manusia yang menyamar dengan keras supaya terlihat sukses atau terpelajar atau keren di mata orang lain. Tentu di dunia hari ini salah satu yang mendukung munculnya fenomena semacam itu adalah media sosial. Kami para penonton duduk di dalam kamar hotel ada yang di sofa, atau lesehan, sutradara memanfaatkan kamar itu dengan baik, sehingga tidak terkesan memindahkan panggung prosenium ke kamar. Di akhir acara penonton disuguhi sushi dan diberi amplop berisi koin (saya lupa koin berapaan sudah tercampur dengan koin yang lain). Katanya pembagian koin itu adalah tradisi orang Jepang jika punya hajat.

  • Coreograph – Junnosuke Tada

Tempat: Yokohama Red Brick Warehouse Number 1 3F Hall.

Karya ini adalah salah satu produksi Yokohama Dance Collection, satu kelompok tari yang beranggotakan koreografer dan penari muda potensial. Nomor yang satu ini adalah pencarian kemungkinan Barat dan Timur, terutama Barat dan Jepang. Mempertanyakan koreografi dalam tari sampai “koreografi” di tubuh masyarakat. Beberapa penari memang terlihat belum terlalu matang, tetapi tidak masalah. Menumbuhkan koreografer muda memang butuh waktu, di manapun.

  • Host – Esia Jocson

Tempat: Yokohama Nigiwai-za Small Hall.

Karya ini bermula dari riset Esia soal bagaimana gender dan jasa dalam hostess club teruwujud dan mewakili feminitas. Riset dari karya ini melanjutkan riset dari karya Esia sebelumnya yang bertemakan dunia hiburan, yaitu Death of the Pole Dancer (2011) dan Macho Dancer (2013). Panggung yang digunakan berbentuk T dengan lampu layaknya di tempat hiburan malam. Penonton sangat dekat dengan panggung, mungkin disengaja, supaya nuansa yang terbentuk seperti di sebuah klub. Esia muncul dengan kimono dan kipas (atau payung) saya agak lupa, menggunakan gestur Geisha, kemudian melepas satu persatu pakaiannya. Tubuhnya yang “maskulin” tidak mengurangi keseksian sang “Host”, bergerak menguasai panggung, menatap penonton, semuanya dilakukan dengan tegas dan powerfull, tidak lupa, sexy. Esia memang dengan apik memunculkan sosok host di atas panggung, tinggal kita tunggu, setelah soso kemudian apa? Mungkin di karya-karyanya berikutnya.

Sesi Pertukaran

 Ada 2 sesi disini, yaitu group meeting dan speed networking, akan saya rinci juga supaya lebih jelas.

  1. Sesi group meeting

Dalam sesi ini saya memilih meja-meja yang saya rasa penting terutama untuk membuat jejaring yang terkait dengan koreografer muda. Saya dibantu oleh Haruna dan Kyoko (koordinator and “ibu” para next generation member) untuk memilih meja mana yang sesuai. Yang paling berkesan adalah ketika saya memilih meja Dance Dance Asia yang selama ini mensupport dan berkarya dengan koreografer muda Asia terutama street dance dancer. Dari meja pertemuan kelompok, berkat bantuan Kyoko saya bisa berkenalan dan mempresentasikan beberapa karya koreografer muda Indonesia yang mungkin sesuai dengan visi mereka. Meskipun kemudian tidak langsung terjalin kerjasama, tetapi bagian presentasi ini menjadi pembelajaran penting bagi saya yang tengah belajar menjadi produser (amin).

  1. Sesi speed networking

Untuk speed networking, karena bersamaan dengan grup meeting dan harus mendaftar antrian yang cukup panjang, maka saya memilih untuk tidak mengikuti. Mungkin jika berkesempatan ke sana di lain waktu dan sudah ada produksi yang menarik, harus dijadwalkan untuk sesi ini.

Sesi Seminar

Sesi ini dibagi menjadi 2 bagian.

  1. Critical Performing Arts and Critique on Performing Arts in the Age of Populism.
  • Presentasi Apichatpong Werasetakul & Max Philip Ascenbrenner.

Sesi ini membicarakan soal proses kreatif dari Fever Room. Aphicatpong adalah seorang film maker yang menciptakan Fever Room dan Max-Philip adalah seorang dramaturg di Gwangju yang kemudian membantu co-produksi Fever Room di Asian Art Theatre Gwangju, Korea Selatan tahun 2015.

  • Presentasi Oriza Hirata & King Yi-Wei

Presentasi ini membahas bagaimana proses kreatif maupun proses produksi karya Taipei Notes . Hirata sendiri adalah Sutradara Taipei Notes, sedangkan Yi-Wei adalah Direktur Taipei Arts Festival, di musim panas selanjutnya mereka berencana membawa karya ini ke Taipei.

  1. Asian Dramaturgs’ Network Meeting 2017
  • Lecture 1: Keynote Lecture oleh Ong Keng Sen
  • Lecture 2: Southeast Asian Dramaturgies – Arco Renz & Contemporary Dance in Cambodia, Indonesia, Vietnam
  • Panel 4: Gendered / Queer Dramaturgies

Ketiga-tiganya menarik karena bagi saya pribadi pembicaraan soal dramaturgi terutama di ranah yang saya kerjakan, yaitu tari di Indonesia, terbilang masih belum umum. Dari ketiga sesi tersebut, setidaknya saya bisa memiliki gambaran bagaimana kerja dramaturg, fungsi, dan hal-hal penting yang harus diperhatikan, terutama ketika kembali ke wilayah tari Indonesia. Pertanyaannya kemudian, apakah tari Indonesia butuh dramaturg?

Sesi Khusus Next Generation Program.

Ada beberapa sesi khusus di program ini, salah satunya meeting dengan beberapa orang yang sudah di set up oleh Haruna dengan Arco Renz, Helly Minarti, dan Aki Onda. Meeting tersebut berisi diskusi ringan membicarakan bagaimana proses dramaturg atau produser bekerja dan segala tantangannya di wilayah masing-masing. Kemudian sesi yang lain adalah presentasi dan diskusi dengan sesama member, Haruna, dan Makiko Yamaguchi (Japan Foundation Asia Center). Presentasi dan diskusi ini terkait apa yang sudah dikerjakan oleh masing-masing member selama ini. Tentu saya sendiri mempresentasikan soal kerja-kerja di Paradance dan membantu IDF (Indonesian Dance Festival).

Sungguh, teramat luas dan dalam dunia seni pertunjukan, termasuk tari. Pengalaman mengikuti Next Generation Program dan menonton TPAM 2017, menegaskan kesadaran itu. pentingnya jaringan dan terus belajar, sebagai apapun posisi di seni pertunjukan.

Sumber:

 

*Nia Agustina (Agustin Pandhuniawati Heryani), saat ini bergiat sebagai manajer 
di Paradance Festival Yogyakarta dan kurator muda Indonesia Dance Festival.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *