Batas Ruang dan Identitas (Catatan atas pertunjukan Identity Project – FAY)

oleh : M. Dinu Imansyah*

 

Forum Aktor Yogyakarta mengajak mempertanyakan identitas. Batas yang dicegat tampilan visual dan ruang.

Gadis itu (Yosephine Prajna) sibuk dengan berbagai macam gaya yang dia putuskan sendiri. Di depan kamera yang dia pasang sendiri, dia meliuk, berpilin, menatap lirih, hingga mulai tenggelam dalam lantunan lagu dan gerakan-gerakan yang dia gubah sendiri. Hingga seorang lelaki (Muhammad Yudha Pratama) menghampiri kamera yang memantik “ritual” gadis tadi, mengoperasikannya dan lampu flash menyala sekejap, menghentikan keasyikan gadis itu menari. Sang lelaki kemudian menyambut penonton dan mengajak penonton berbincang mengenai identitas diri di dunia maya. Entah karena merasa keasyikannya didistorsi atau memang memberikan kesempatan bagi sang lelaki untuk bermonolog, sang gadis menepi.

Yosephine bergaya depan kamera. Foto : Agathon Hutama

Di Sebuah ruangan yang mirip (atau memang) sebuah kelas di lantai dua kompleks UKM, Universitas Gadjah Mada, pada hari Rabu, 11 Oktober 2017 malam, Forum Aktor Yogyakarta (FAY) mementaskan Identity Project. Pementasan ini adalah kali kedua pertunjukan digelar. Dua hari sebelumnya, pertunjukan ini digelar di kampus Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketika tulisan ini dibuat, pertunjukan ini masih akan digelar lagi pada tanggal 15 Oktober 2017 di kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sepanjang kurang lebih satu jam durasi pertunjukan, FAY mengajak penonton, yang rata-rata terdiri dari teatrawan muda Jogja dan mahasiswa, untuk membincangkan persoalan identitas diri di dunia maya. Bagaimana kita sebagai pengguna sosial media mengaktualisasikan diri di dunia internet.

Yudha mengajak penonton berbincang. Foto : Agathon Hutama

Pertunjukan ini dibagi menjadi tiga bagian mulai dari penelusuran penghadiran identitas di dunia maya, memaknai tubuh-tubuh di depan kamera, hingga pengalaman penonton yang hadir dalam memanfaatkan sosial media. Seluruh bagian diwujudkan dengan cara interaktif dengan penonton dan perbincangan kecil antara si gadis dan laki-laki akan perilaku manusia dalam bersosial media yang dipicu dari sebuah perbincangan di sebuah grup aplikasi pesan.

Bentuk pertunjukan semacam ini mengingatkan saya pada presentasi tugas kelompok semasa kuliah. Terlebih lagi tata ruang yang benar-benar diset menyerupai kelas perkuliahan (kecuali pemasangan dua payung reflektor dan kamera–atau mungkin ini kelas fotografi??) ditambah tempat duduk penonton yang menggunakan kursi lipat bermeja plus LCD proyektor yang menampilkan berbagai macam bahan perbincangan dua aktor yang di pertunjukan ini menggunakan nama panggilan asli mereka masing-masing. Tidak menghadirkan penokohan karakter fantasi, mereka menjadi diri mereka sendiri lengkap dengan baju kasual dan tanpa tata rias khusus.

Nampaknya pilihan-pilihan yang “serba kasual” ini sengaja digunakan FAY untuk menempatkan diri mereka “seumur” dengan penonton yang kebanyakan mahasiswa itu, mengingat ketiga tempat di mana pertunjukan ini diselenggarakan merupakan salah tiga dari kampus-kampus terbesar di Yogyakarta. Tidak heran jika bahasa dialog yang digunakan tidak berbunga-bunga seperti dalam sastra lakon, bahkan cenderung ilmiah, seperti di perkuliahan–sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.

Karena sasaran penonton yang lebih jelas batasannya, tidak heran jika perbincangan mengenai beragam seluk beluk dunia sosial media beserta perilaku para penggunanya dikupas dengan penuh semangat di pertunjukan ini. Tanpa tedeng aling-aling, Instagram, sebagai salah satu aplikasi sosial media terpopuler saat ini, didapuk sebagai pemicu perguliran pertunjukan yang mengulang-alikkan interaksi langsung dengan penonton dengan pertunjukan ini.

Yudha memotret Yosephine. Foto : Agathon Hutama
Batas Ruang dan Visual

Diakui atau tidak, perkembangan dunia teknologi informasi dan komunikasi yang semakin pesat semakin lama membentuk pola komunikasi kita condong ke arah visual–yang juga dibarengi oleh dunia audio. Melalui gawai, kita bisa menghadirkan diri dalam bentuk visual, baik foto maupun video, termasuk teks, dengan mudah. Kita bahkan bisa menentukan seperti apa tampilan identitas diri yang ingin dipajang, lengkap dengan berbagai perangkatnya.

Sebagai indera yang paling mudah untuk menyerap berbagai pengalaman yang dihadirkan oleh lingkungan sekitar, mata atau indera penglihatan sama mudahnya untuk dibohongi. Tidak semua yang terlihat adalah kebenaran, bisa jadi dia hanyalah hasil manipulasi dari kebenaran sesungguhnya yang ditutup-tutupi.

Bisa jadi karena menyadari akan ilusi dunia maya dengan segala kedigdayaan visualnya, FAY memilih bentuk pertunjukan yang tidak menawarkan spektakel-spektakel yang memukau. Pertunjukan dinisbatkan dalam bentuk perbincangan yang cukup cair dengan penonton yang diselingi dengan beberapa “kesibukan” perbincangan antara si lelaki dengan si gadis. Bisa jadi pula pemilihan perbincangan semacam ini untuk menyindir masyarakat pengguna gawai dan media sosial yang acapkali menafikan komunikasi langsung dengan orang yang hadir nyata di hadapannya dan lebih memilih untuk bercengkrama dengan telepon pintarnya.

Pilihan bentuk semacam ini cukup menarik. Meski jarak ruang antara penampil dengan penonton cukup jelas dengan menciptakan dua ruang yang saling berhadapan, layaknya panggung pertunjukan konvensional seperti di panggung proscenium–walau tanpa penggunaan properti penunjang levelitas khusus. Sesekali jarak ruang yang ada ditebas dengan penampil yang masuk ke ruang penonton untuk mengajak salah satu penonton maju memberikan testimoni pengalamannya dalam bermedia sosial.

Dalam penggunaan ruang, tidak dijejalkan batas yang jelas mana ruang penampil dan ruang penonton karena batasan itu sendiri selalu diterobos oleh pola interaksi antara penonton dan penampil yang berserakan di sepanjang dilangsungkannya pertunjukan ini. Bahkan saking banyaknya pembobolan batasan antara ruang penampil dan penonton, batasan mana pertunjukan dan mana presentasi “tugas kuliah” ini juga cukup kabur. Meskipun belakangan ketika saya baca kembali leafletnya pasca pentas dipahami bahwa bentuk semacam ini lahir dari proses diskusi pra-produksi, “Apa yang tampak melalui teks atau visual dalam pementasan Identity Project tidak lepas dari kenyataan negosiasi di belakang panggung,” (Catatan – Pembuat dalam leaflet).

Sengaja sebelum memasuki ruang pertunjukan, leaflet yang dibagikan tidak saya baca tuntas karena saya ingin mendapatkan pengalaman peristiwa pertunjukan langsung terlebih dahulu baru ketika dibutuhkan verifikasi atas hal-hal yang ingin saya pertanyakan atau terjemahkan dari pertunjukan, baru saya mengintip isi leaflet pasca pertunjukan digelar. Saya hanya takut saya akan memiliki ekspektasi yang berbeda ketika saya sudah menamatkan isi leaflet terlebih dahulu.

Pembobolan batasan ruang juga dihadirkan melalui proses editing foto yang dilakukan secara live di hadapan penonton lewat proyeksi LCD di tembok. Jika biasanya proses semacam ini dilakukan di belakang panggung–demi menjaga “kekhusyu’an” spektakel–di sini  justru proses pengeditan foto itulah spektakel itu sendiri. Cukup menarik juga melihat perbincangan para aktornya yang dilatarbelakangi proses masking, cutting, dan pengaturan saturasi foto melalui program Photoshop.

Ada pula bagian di mana kamera yang tadinya hanya digunakan sebagai properti para aktornya, kemudian digunakan untuk menyorot dan menampilkan video penonton di layar. Penonton diajak (lebih tepatnya ditodong) untuk welfie (atau wefie – gabungan antara we dan selfie, yakni berfoto bersama-sama). Di sini jelas sekali penonton tidak hanya dianggap sebagai pengunjung tapi merupakan bagian dari ruang pertunjukan.

Kedigdayaan visual yang biasanya diagungkan sebagai ilusi yang memukau harus “ditelanjangi” oleh proses penciptaan visual itu sendiri. Visual yang menghadirkan batas ruang, visual pula yang membatasi pemaknaan ruang visualnya sendiri.

Wefie dengan penonton. Foto : Agathon Hutama
Cair tapi Berkerikil

Pemilihan bentuk pertunjukan yang tidak biasa semacam ini tentu memiliki kelebihan dan kekurangannya. Meski saya yakin ada juga penonton yang berpikiran bahwa pertunjukan semacam ini tidak bisa digolongkan ke dalam pertunjukan, mengingat momen diskusi dengan penonton yang cukup banyak di dalam pertunjukan. Bagi saya pribadi, selama sebuah pertunjukan mampu menghadirkan interaksi antara penonton dengan penampil (aktor, penari, pemusik dan seniman lainnya), itu sudah cukup memenuhi syarat terciptanya peristiwa pertunjukan (atau kalau dalam kasus ini peristiwa teater).

Hanya saja memang kalau boleh memberikan pendapat, pola interaksi dengan penonton dan batas antara di titik mana momen untuk benar-benar menjadi pertunjukan (di mana kami sebagai penonton tahu bahwa kami memang sedang menjadi penonton dan bukan bagian dari pertunjukan) harus diperkuat lagi. Pilihannya adalah sangat halus batasnya hingga tidak terasa penonton telah dibawa ke ruang “ilusi” pertunjukan sekaligus di saat lain tiba-tiba sudah menjadi penonton yang berinteraksi langsung dengan aktor-aktornya. Pilihan lainnya adalah ketegasan penentuan batas antara ruang penonton sebagai penonton dan penonton sebagai bagian dari pertunjukan harus dipertajam, ciptakan kontras yang sangat mencolok.

Karena harus saya akui, tanpa bermaksud mencela atau menghakimi, ada saat di mana ketika penonton sedang asyik-asyiknya berinteraksi dengan para penampil dan tengah hanyut dalam kontemplasi akan makna identitas di dunia maya, penonton tiba-tiba “dicueki” begitu saja dengan perbincangan antara si lelaki dan si gadis yang membicarakan hal-hal yang sifatnya “hanya mereka yang tahu”. Mungkin saja FAY memang tetap ingin menghadirkan penokohan dalam pertunjukan ini walau memang tanpa narasi lakon dan penokohan karakter khusus. Hanya saja patut disayangkan terdapat keterputusan emosi antara penonton dengan penampil.

Kedua aktor juga tampak masih cukup canggung dan kaku dalam berinteraksi dengan penonton, terutama dalam menanggapi celetukan kelakar penonton yang notabene rekan-rekan sesama aktor dari berbagai macam komunitas. Dapat dimaklumi, aktor-aktor yang tampil pada Identity Project ini tampaknya masih baru, jika dibandingkan dengan aktor-aktor FAY senior yang lain seperti Verry Handayani, Febrinawan Giant, Sulistyowati dan lain sebagainya. Namun ada untungnya juga para penonton pada malam itu para aktor yang memang sudah dekat dengan FAY. Kelakar-kelakar yang mereka celetukkan mampu menghidupkan suasana dan semakin membuat suasana cair, sehingga peristiwa pertunjukan tetap bisa hadir dengan cukup gayeng. Menariknya, meski berkelakar, mungkin karena sama-sama memahami dunia pertunjukan, kelakar mereka tetap terkontrol, tidak beringas hingga mengambilalih keseruan pertunjukan malam itu.

Bisa jadi batasan-batasan yang “dicueki” semacam ini juga merupakan sindiran akan keberingasan para warganet dalam menerobos batas-batas norma dan etika dalam menggunakan media sosial. Mereka (termasuk kita) bisa dengan seenaknya mengunggah konten yang kita anggap sebagai represetnasi identitas yang ingin kita tampilkan, tidak peduli apakah itu nyata atau artifisial. Serta kebebasan para warganet yang bisa berkomentar apapun tanpa perlu dipusingkan untuk benar-benar mempertanggungjawabkan “apresiasi” mereka.

stalking dan nyinyirin Instagram. Foto : Agathon Hutama

Pemilihan judul “Identity” (identitas) pun bagi saya masih terlalu luas. Sebab identitas tidak hanya perkara bagaimana menghadirkan diri secara visual di dunia maya atau di dunia lainnya tapi bagaimana kita menyikapi sebuah peristiwa. Meski secara singkat perkara ini nampaknya sempat dihadirkan di pertunjukan ini melalui respon kedua aktor yang nyinyir atas sikap salah satu teman mereka (di dunia maya) walau kemudian hal ini lebih banyak digunakan sebagai pemicu isu perbincangan akan identitas di dunia maya dan bukan menjadi isu tersendiri. Meminjam celetukan karakter Rachel Dawes dalam film Batman Begins, “It’s not who you are underneath, it’s what you do that defines you.”

Selamat dan terima kasih setingginya untuk Forum Aktor Yogyakarta atas eksperimen sekaligus perbincangan atas fenomena pemaknaan identitas di dunia maya ini. Butuh waktu beberapa hari untuk menuliskan dan mengulas pertunjukan ini karena di samping ada beberapa keperluan yang harus saya usaikan, berkontemplasi perkara identitas memang tidak ada habisnya. Bukankah pertanyaan identitas ini selalu mendengung di telinga siapa saja?

 

 

* M. Dinu Imansyah. Aktor dan penikmat seni pertunjukan. Bergiat di Kalanari Theatre Movement Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *