Butakah Kami? : Catatan dari Pertunjukan “Kami Bu-Ta” APDC

oleh : M. Dinu Imansyah *.

Malam di Jogja yang tak pernah hening berjibaku dengan rintik hujan yang sedari sore mengguyur. Perbincangan lirih bercampur senda gurau digulirkan di emperan Pendopo Ajiyasa, Jogja National Museum bertalu-talu dengan lantunan live music dari Cafe seberang jalan. Sejenak siapa saja yang hadir malam itu hanyut pada ritme malam Jogja yang dingin namun tidak terlampau menusuk itu. “PRIIIITTT!!!!” seketika kehangatan itu terkoyak oleh tiupan peluit seorang gadis dari pintu masuk ruang pertunjukan, wajahnya ketakutan, sesaat tatkala para penonton menoleh ke arah sumber bunyi, gadis peniup peluit itu langsung berlari. Menuntun para penonton untuk memasuki ruang berselimut kain hitam ini. “Kami Bu-Ta” dimulai.

Sebuah pembukaan pertunjukan yang cukup mengesankan. Tidak perlu banyak basa-basi. Tanpa sambutan, tanpa celoteh MC yang gemar melontarkan lelucon-lelucon hambar, bahkan tanpa perlu pemeriksaan tiket masuk. Ayu Permatasari mempersilahkan penonton hadir ke dalam ruang penciptaannya sendiri. Seolah Ayu ingin menegaskan bahwa karya yang dipersembahkannya malam itu bukan bertemakan hal yang bisa dipandang sebelah mata: kekerasan seksual.

Adegan 1 di Kami Bu-Ta. Foto oleh Dinu Imansyah.

Pada Jum’at dan Sabtu, 7 hingga 8 Oktober 2017, Ayu Permata Dance Company (disingkat APDC) menampilkan karya mereka bertajuk “Kami Bu-Ta”. Tadinya penulis sempat curiga apakah peletakan tanda hubung di antara kata “Bu” dan “Ta” untuk menunjukkan kata ini berasal dari bahasa Lampung–tempat sang koreografer berasal. Mengingat Ayu Permatasari pernah membawakan karya berjudul “Ka Ga Nga” yang berasal dari aksara asli kota berjudul “Kota Tapis Berseri” ini. Namun belakangan penulis baru tahu kalau “Bu-Ta” merupakan kependekan dari “Bukan binaTang”. Sebuah pemilihan judul yang menarik, menciptakan dua makna antara “Kami buta (tidak dapat melihat)” dengan “Kami bukan binatang”.

Sepanjang kurang lebih satu jam, penonton dibawa berpindah-pindah dari spot satu ke spot yang lain. Total ada lima ruang pertunjukan yang digunakan dalam “Kami Bu-Ta” ini. Meskipun semuanya tetap berada dalam satu gedung yang sama. Setiap sudut dari pendhopo Aji Yasa, Jogja National Museum, dimanfaatkan secara maksimal oleh APDC untuk menampilkan fragmen-fragmen kisah kekerasan seksual yang belakangan semakin santer diberitakan di media massa. Sebuah isu yang patut kita pedulikan bersama-sama.

Setiap spot memiliki tata panggung dan kisah yang berbeda-beda. Entah sengaja dibuat semacam urutan kisah yang linear atau hanya fragmen-fragmen kasus dalam kehidupan yang berlompatan satu sama lain. Semuanya tetap dikembalikan kepada penonton untuk memaknainya seluas-luasnya. Meskipun harus diakui pada pertunjukan kali ini unsur teatrikalnya sangat kental terasa.

Mulai dari gerak-gerak tubuh yang diambil dari kehidupan sehari-hari (tidak distilisasi atau diindah-indahkan) seperti makan, ganti baju, tidur, berlari, menggigil, dan lain sebagainya. Hingga tata panggung di salah satu spot yang benar-benar berusaha menghadirkan suasana sebuah ruangan lengkap dengan berbagai macam perabotan seperti kasur, lemari pakaian, meja makan, piring berisikan makanan, dan gelas layaknya tata panggung lakon-lakon pertunjukan teater realis.

Tak hanya memasukkan unsur teatrikal, APDC juga berusaha bekerja sama dengan seniman lintas media seperti menghadirkan Flying Ballons Puppet hingga Ayu Permata sendiri menghadirkan adegan menyanyi solo membawakan lagu anak-anak “Balonku” dengan lirik yang digubah sedemikian rupa. Selain itu, ada “bonus” adegan lainnya yakni semacam sulap yang dibawakan Ayu ketika memecahkan balon satu per satu lalu saat dia memecahkan balon terakhir, penonton yang tadinya berpikir semua balon bakal habis agak takjub begitu mengetahui bahwa balon terakhir “mengandung” balon lain yang baru tampak tatkala balon terakhir meletus.

Dari sini tampak sekali bahwa Ayu Permata semakin matang dalam berkarya. Nampaknya mereka sadar bahwa karya tari pun bagian dari seni pertunjukan. Seni pertunjukan adalah jenis kesenian yang selalu melibatkan banyak disiplin ilmu di dalamnya. Meskipun bertajuk “Karya Tari”, APDC sadar bahwa ketika sudah dihadirkan dalam bentuk pertunjukan, bukan hanya keterampilan liukan tubuh dan komposisi koreografi yang harus dipikirkan, tapi bagaimana mampu mewujudkan sebuah sajian yang bisa dinikmati penonton dengan menyertakan berbagai macam unsur di luar ketubuhan.

Yang menarik lagi sebenarnya pada pemilihan musik. Sepanjang pertunjukan, musik yang digunakan cenderung minimalis dengan pemilihan ketukan yang sebagian besar hanya dimainkan oleh satu lapisan (alat musik) dalam tempo yang stagnan. Penonton jadi lebih fokus dalam menikmati sajian di atas panggung dan tidak terganggu oleh musik yang terlalu riuh dan berlapis-lapis seperti dalam pertunjukan tari kontemporer pada umumnya. Di sini musik berperan sebagai penjaga ritme emosi, meskipun tentu saja sebagian besar dinamika emosi dimainkan oleh para penari di atas panggung. Musik hanya menyediakan kanvasnya, para penarilah yang menorehkan kisahnya.

Setting realis di spot kedua Kami Bu-Ta. Foto : Dinu

Kekerasan Seksual dan Media

Persoalan kekerasan seksual memang semakin santer terdengar di berbagai macam media massa. Bahkan hampir tiap hari kasus kekerasan seksual berdenging di telinga kita melalui pemberitaan di koran, televisi, hingga situs berita yang bisa diakses melalui gawai kita.

Di satu sisi, kerapnya pemberitaan kasus-kasus kekerasan seksual di media massa ini memang membuat kita jadi merasa miris dengan perkembangan jaman, terlebih lagi para pelakunya bukan hanya para kriminal profesional tapi orang-orang yang ada di sekitar kita, bahkan hingga anak-anak. Di sisi lain, justru karena terlalu sering diberitakan di media massa seperti ini, tidak jarang kita malah menjadi semakin kebal dengan pemberitaan kasus-kasus semacam ini. Ibarat sebuah spektakel yang diulang-ulang, kasus-kasus kekerasan seksual tidak lagi menjadi sesuatu yang mampu mencuri perhatian kita. Kita menjadi buta (atau memilih buta) akan fenomena miris seperti ini.

Agaknya “kebutaan” inilah yang kemudian menjadi perhatian Ayu Permatasari untuk mengangkatnya menjadi tema utama dalam pertunjukan karya tari terbarunya. Gencarnya pemberitaan media akan kasus kekerasan seksual yang bertubi-tubi ini diwujudkannya melalui “kegencaran” Ayu dalam menyertakan berbagai macam media dalam “Kami Bu-Ta” ini.

Bisa jadi ini memang menjadi strategi dari Ayu untuk menyindir peran media dalam memberitakan sekaligus memfasilitasi kasus-kasus kekerasan seksual yang hadir di masyarakat. Walau mungkin bisa jadi juga ini hanya tafsir penulis belaka. Yang jelas, media tidak hanya dianggap sebagai laporan atas kasus-kasus kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat, tapi media juga dituduh menjadi biang keladi dari maraknya kasus ini, mengingat saat ini begitu mudahnya siapa saja mengakses konten-konten berbau pornografi yang bisa memicu libido-libido tak terbendung para pengaksesnya.

Tidak bisa dipungkiri, salah satu pemicu gencarnya kasus-kasus kekerasan seksual memang kemudahan media informasi. Bahkan meskipun sudah dilakukan filter terhadap situs-situs berbau pornografi, masih banyak media populer yang mencantumkan unsur pornografi atau pornoaksi yang mengatasnamakan kebebasan berkarya. Tidak hanya visual, bahkan sudah masuk ke ranah verbal ketika lagu-lagu tertentu menyertakan lirik-lirik berbau sensual, baik yang konotatif atau bahkan denotatif.

Meskipun harus diakui bahwa hadirnya kasus kekerasan seksual tidak bisa belaka mengambinghitamkan kemudahan media informasi dalam mengakses hal-hal berbau pornografi/pornoaksi. Sebab seks itu sendiri sudah merupakan bagian dari kehidupan kemanusiaan, tidak peduli apakah dilakukan dengan “baik-baik” atau kekerasan. Menurut Milda Marlia dalam bukunya Marital Rape: Kekerasan Seksual Terhadap Istri, kekerasan laki-laki terhadap perempuan itu setua relasi laki-laki dengan perempuan itu sendiri.

Meskipun harus diingat bahwa ketika berbicara tentang kekerasan seksual tidak hanya tentang pola dominasi laki-laki terhadap perempuan. Kekerasan seksual bisa juga terjadi sebaliknya, perempuan yang memaksakan kehendak seksualnya pada laki-laki. Bahkan di beberapa kasus, kekerasan seksual tidak hanya dilakukan pada jenis kelamin yang berbeda, tapi pada jenis kelamin yang sama.

APDC sadar betul akan hal ini. Bahwa kekerasan seksual bisa terjadi pada siapa saja. Seperti pada tagline mereka yang mengatakan bahwa “…..kekerasan seksual tidak pernah pilih-pilih”. Siapa saja bisa mengalaminya, baik sebagai korban atau sebagai pelaku. Hanya saja yang agak luput dari sajian “Kami Bu-Ta” ini adalah penggambaran kekerasan seksual pada sesama jenis, mengingat hanya ada dua penari utama yakni Ayu Permatasari dan Pebri Irawan. Jadi seolah kasus kekerasan seksual hanya terjadi secara ulang-alik antara laki-laki dan perempuan.

Trauma akan kekerasan seksual seringkali dianggap menjadi pemicu lingkaran setan yang tidak ada habisnya. Beberapa pelaku kekerasan seksual biasanya pernah menjadi korban kekerasan seksual di masa lalunya. Begitu kuatnya pengalaman traumatis yang mereka alami, secara tidak sadar hal itu malah memicu dendam dalam diri mereka yang kemudian melampiaskannya pada orang lain. Meskipun ada juga beberapa korban kekerasan seksual yang justru sadar dan tidak terus berkubang dalam pengalaman traumatik ini lalu menghimpun pergerakan pencegahan kasus ini terulang pada orang lain.

Lingkaran setan ini agaknya yang juga diadaptasi oleh APDC dengan penataan panggung yang melingkar searah jarum jam. Seolah menggambarkan kekerasan seksual memang peristiwa yang benar-benar nyata dalam kehidupan kita. Dia bukan sesuatu yang asing, dia lahir dari keseharian kita sendiri. Siapapun bisa mengalaminya, “Mungkin saya, mungkin Anda, mungkin orang-orang terdekat kita.”

Adegan ketiga Kami Bu-Ta. Foto : Dinu

Ambiguitas Bu-Ta

Seperti yang sudah sempat disinggung sebelumnya. Pemilihan judul “Kami Bu-Ta” nampaknya memang sengaja ingin menghadirkan dua makna yang berbeda yakni “Kami tidak bisa (atau tidak mau) melihat” dan “Kami bukan binatang”. Sejak awal pertunjukan dimulai, APDC memang sengaja menghadirkan ambiguitas-ambiguitas semacam ini.

Mulai dari penghadiran bubble wrap sebagai alas ruang pertunjukan pada spot pertama. Secara estetis, bubble wrap memang mampu menghadirkan suasana “menggemaskan” acapkali para penari berjalan yang otomatis bakal meletupkan gelembung-gelembung plastik kenyal itu. Bubble wrap yang fungsi sebenarnya sebagai pelindung hantaman pada packaging barang pecah belah memang kerapkali “disalahgunakan” sebagai mainan pengusir stress, mengingat teksturnya yang kenyal dan lembut dan menimbulkan sensasi menyenangkan ketika menekan dan meletupkannya. Bisa jadi ini adalah simbol dari kenikmatan seksual yang disalahgunakan. Penulis membayangkan mungkin akan lebih menarik ketika penonton dilibatkan untuk menyentuh dan meletupkan bubble wrap yang ada. Selain interaktif, sensasi “kenikmatan yang salah” itu juga bisa dirasakan langsung oleh penonton.

Ambiguitas kedua dihadirkan di spot kedua tatkala Ayu dan Pebri berpindah ke setting yang lebih realis–seperti yang telah disinggung sebelumnya. Alih-alih menari seperti dalam spot pertama, Ayu dan Pebri hanya melakukan pengulangan aktivitas sehari-hari tanpa stilisasi seperti makan lalu berganti baju dan tidur. Ambiguitas ini dikuatkan lagi pada salah satu titik pengulangan di mana Pebri mengenakan bra tatkala dia berganti baju. Mungkin saja ini simbol dari kelainan seksual yang diderita para pelaku kekerasan seksual.

Ambiguitas berikutnya diperkuat lagi tatkala berpindah pada spot ketiga di mana Pebri diikat dan dikelilingi oleh orang-orang berjubah putih-perak. Tata panggung yang lebih abstrak lagi digambarkan melalui lampu neon warna-warni yang dipasang di dinding seperti di diskotik. Tidak jelas ruang macam apa yang ingin dihadirkan di sini. Di sini Pebri berusaha meronta-ronta ingin lepas dari ikatan orang-orang berjubah itu. Tidak jelas kenapa digambarkan Pebri disiksa di sini, padahal sebelumnya, di spot kedua, Pebri digambarkan menjadi korban yang ketakutan dijamahi oleh Ayu yang bersarung tangan merah. Apakah orang-orang berjubah itu simbol dari malaikat ataukah jeratan trauma atas kekerasan seksual?

Adegan bayang di spot keempat Kami Bu-Ta. Foto : Dinu

Pada spot keempat, peran “koreografi” semakin kabur karena di sini porsinya lebih banyak pada permainan cahaya (shadow puppet theatre) yang dibawakan oleh Flying Balloons Puppet. Meski kemudian Ayu dan Pebri hadir juga di dalam bayangan, namun kehadiran mereka amatlah sebentar, menjelang perpindahan ke spot terakhir yakni di tengah-tengah ruangan.

Baru di spot terakhir yang ditata dengan kain panjang merah yang digantung di langit-langit hingga menjulur ke lantai ini peran “tubuh manusia” kembali hadir. Ayu dan Pebri kembali bercengkrama menghadirkan adegan-adegan kekerasan seperti menyeret rambut dan saling menyiramkan cairan lilin panas. Di sini penghadiran akan makna “kekerasan seksual” lebih berlapis lagi, tidak hanya perkara satu arah di mana ada pelaku dan korban, tapi kekerasan seksual juga bisa dilakukan oleh dua orang yang sama-sama sepakat ingin melakukannya, keduanya sama-sama pelaku. Kekerasan seksual semacam ini bisa ditemukan pada orang-orang penganut seks “Sadomasokisme” (aktivitas seksual yang dilakukan dengan cara kekerasan seperti penggunaan cambuk, cakar dan perangkat penyiksaan lainnya). Mengingatkan penulis pada novel (dan film) “Fifty Shades of Grey”.

Adegan terakhir dalam Kami Bu-Ta. Foto : Dinu

Kalau ingin dirangkum, ambiguitas terbesar sebenarnya terletak pada bagaimana APDC memaknai “Karya Tari” sesuai yang tertera di media publikasi “Kami Bu-Ta”. Begitu kentalnya kehadiran multi-media dan nuansa teatrikal di sini malah mengaburkan eksplorasi “tubuh tari” itu sendiri. Meskipun memang tidak ada konvensi pasti mana yang disebut “tubuh tari” dengan mana yang “tubuh dalam pertunjukan”, tapi dari dulu tari memang dikenal sebagai bahasa tubuh atau tubuh yang membahasakan. Sayang sekali di pertunjukan ini porsi “tubuh tari” harus tenggelam oleh berbagai macam media yang berada di luar ketubuhan. Teks lebih banyak dibahasakan melalui permainan media non-tubuh, khususnya tubuh non-tari.

Performa dari Ayu Permatasari sendiri sebagai koreografer sekaligus penari utama juga terasa kurang bertenaga. Entah kenapa, di beberapa kali “adegan” terasa sekali beberapa keraguan dihadirkan Ayu untuk melakoninya. Manajemen energi juga masih perlu diperhitungkan lagi, mengingat beberapa adegan terasa lemah dan kurang mampu “menggedor” empati penonton walaupun tema yang dihadirkan cukup sensitif dan tak patut dipandang sebelah mata.

Sebagai sebuah pertunjukan utuh, “Kami Bu-Ta” patut diacungi jempol. Pembangunan emosi dari awal hingga akhir cukup dinamis ditambah eksplorasi ruang dan media yang mengesankan. Tapi perlu diingat juga, jangan sampai keinginan untuk menghadirkan kebaruan dan visual yang memukau mem-”buta”-kan penghadiran tubuh sebagai medium tari–yang menjadi identitas khas dari APDC–sekaligus sumber pemantik hadirnya kasus kekerasan seksual: kesadaran akan tubuh dan bagaimana “mempermainkan”nya.

Sekali lagi patut diapresiasi keinginan APDC untuk selalu berkembang dan tumbuh untuk tidak sekedar menyuarakan kegelisahan seniman (tari) tapi juga kegelisahan kita sebagai manusia yang mulai mempertanyakan kemanusiaan kita sendiri.

Terus berproses dan sukses terus untuk Ayu Permata Dance Company!

*Dinu Imansyah : Aktor, bergiat di Kalanari Theatre Movement Yogyakarta. Mahasiswa Pascasarjana Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *