BEASTLY : Ruang, Isu, Tema dan Dramaturgi

oleh : Ficky Tri Sanjaya

Ruang dan Isu

Minggu 4 Febuari 2018 pukul 19,30 WIB, seperti hari-hari sebelumnya hujan selalu datang di waktu malam.  Meski begitu, keinginan untuk menyaksikan pertunjukan berjudul BEASTLY oleh Tutti Art,  pelopor seni untuk difabel di Australia bekerjasama dengan Deaf Art Comunity (DAC) tetap berlangsung. Sebab jauh hari panggilan reservasi menonton acara telah dipesan, maka walau hujan tidak menyurutkan semangat dan rasa penasaran menyaksikan bagaiman kolaborasi para seniman Australia dan Indonesia ini mewujudkan gagasannya. Meski hujan, ternyata antusias penonton malam itu tetap banyak, tampak dari badan jalan aspal di jl. Langernarjan, depan kantor DAC yang telah penuh oleh kendaraan. Teman-teman Tuli-pun ada yang bertugas membantu parkir penonton.

Halaman kantor DAC malam itu dibangunkan sebuah ruang baru berbahan gedheg (semacama bahan rumah yang disulam dari bambu) yang menutupi seluruh ruangan. Susunan ruang layaknya sebuah hajatan pesta pernikahan di sebuah desa. Terdapat berbagai spot karya (sound scape, street art), ruang makan minum, toilet, merchandise dan ruang-ruang kecil pertunjukan. Spot ruangan malam itu telah  disusun sedemikan rupa. Ketika memasuki area ruangan DAC penonton disambut dan diberi booklet kecil acara. Setelah penonton diminta mengisi buku tamu volunter segera memberi pengantar mengenai berbagai ruang yang telah disusun serta mekanisme aturan bagaimana menonton pertunjukan malam itu. Kami dipersilahkan duduk menunggu, atau boleh jalan-jalan menikmati banyak spot yang telah disediakan.

Ramai riuh para penonton yang mengobrol, baik menggunakan bahasa verbal maupun bahasa isyarat, mondar-mandir menikmati spot acara, berfoto, medengarkan sound scape, mengisi kolom komentar, adapula yang menikmati sajian makanan. Ketika membaca booklet yang bersisi sinopsis pertunjukan, ternyata penonton dibatasi dalam setiap pementasan. Terdapat tiga pertunjukan Beast (1 penonton), Bowerbird (2 penonton) dan Collector (3 penonton) dan setiap penonton hanya dibatasi satu kali dalam menonton.

Pemilihan pembangunan ruang dan cara menyajikan isu melalui karya-karya yang dihadirkan penuh dengan perhitungan dan kematangan. Kreator betul-betul memperhatikan kehadiran ‘publik’ dalam perhelatan acara tersebut, ‘publik’ diusahakan terlibat untuk memasuki peristiwa ‘lain’ (berbeda dari keseharian) sehingga ketika hadir merasa dalam ruang berbeda. Dalam konteks tertentu ‘ruang’ yang diusahakan dan telah disusun merupakan bangunan dari kontruksi isu dan cara kreator memperkenalkan posisi diri penyelenggara (Tuti Art) pada publik, selain berbagai isu utama dalam tajuk setiap pementasannya. Bangunan ruang yang telah dihadirkan adalah bagian dari cara menyusun keterlibatan publik  menjadi bagian dari ‘dialog’ dan peristiwa seni secara utuh dan terstuktur.

Bower Bird   

Seorang laki-laki menggunakan kostum semacam rok tetapi tidak berbahan kain, duduk di tempat semacam sarang berbahan jerami. Hanya tampak punggungnya ketika penonton masuk. Tampak sedang tertidur dalam posisi duduk telungkup, merebahkan badannya ke depan. Penonton masuk dan hanya dibatasi untuk dua orang. Ada kursi memanjang yang disediakan cukup untuk duduk berdua. Jarak antar penonton dan laki-laki berkostum tersebut kurang lebih 50 cm, penonton yang duduk dibawa memasuki sebuah ruangan semacam ‘honey’ dan sangat intim.

Di depan aktor yang bermain terdapat berbagai properti alat-alat rumah tangga sepeti gayung, porong, sikat, sisir, dan semacamnya. Alat-alat tersebut dipajang di kanan kiri dalam posisi berbaris. Ketika beberapa menit setelah duduk dan musik nadanya semacam irama ‘waltz’ mengema pelan, aktor  tersebut bangun bergeliat, tampak wujudnya seperti tokoh dalam film kartun ‘Baby Hui’. Suasana terjalin santai. Beriring musik, dia bergerak mengikuti irama. Kemudian mencoba berinteraksi tanpa dialog dengan penonton, seperti mencari sesuatu.

Aktor menunjuk barang rumah tangga yang ada di depan penonton untuk dipilih dan diberikan  padanya. Barang tersebut lalu diamainkannya, namun lantas dibuang begitu saja secara semena. Tampaknya dia belum menemukan barang yang dicari, dia mencoba mencari lagi, dan meminta penonton untuk mengambil kembali yang lain. Karena barang yang dicarinya tidak kunjung ketemu, ia kemudian mengambil sebuah telur yang juga ada di depannya. Setelahnya ia mencoba metetakkan telur tersebut sebelum akhirnya akhirnya dipecah. Di dalam telur tersebut ada secarik kertas, yang kemudian diberikan kepada penonton. Lamat-lamat musik melirih dan pemain kembali telungkup.

Di kertas yang diterima penonton tertulis  ‘Apakah ini sebuah awal atau akhir?’. Pertunjukan secara singkat dan sederhana tersebut digelar kurang dari 10 menit. Sebenarnya malam itu setiap penonton hanya dapat menyaksikan satu pertunjukan, yang sebelumnya telah dipaparkan dalam booklet pertunjukanya. Namun beruntung malam itu, saya berkempatan menyaksikan dua pertunjukan.

Beast

Pertunjukan ini hanya boleh ditonton oleh satu orang, terletak dalam sebuah bangunan seperti gua yang tidak begitu besar namun gelap. Gua yang yang tidak begitu besar tersebut tampaknya hanya cukup dihuni oleh dua orang. Ada kursi duduk semacam ‘dhingklik‘ (kursi pendek dan kecil dari kayu) bagi penonton, di depan dan bawahnya terdapat batu dan seorang pemain yang sedang tidur membelakangi penonton. Pemain bertelanjang punggung dan menggunakan celana pendek, badannya tampak berlumur warna kehitaman. Musik iringan menggema lirih seperti hanya memvisualkan suasana yang sepi. Lambat laun pemain bangun pelan, menghadap dinding gua seblum kemudian perlahan balik dan terkejut lantaran menyadari adanya kehadiran orang lain dalam gua tersebut.

Pemain tersebut secara sunyi perlahan mulai mendekati orang yang menonton, menatapnya tajam, mengendus dan  mencoba mengenali secara jeli berulang-ulang penonton yang hadir dari dengan skala  dekat atau menjauh. Dengan rasa was-was pemain tersebut mencoba berinteraksi dengan penonton. Tepat di bawah depan penonton, ada batu seukuran kepalan tangan. Pemain berusaha mengikat interaksi mata penonton menatapnya lama, membuatnya was-was dengan polahnya, mendekat, menjauh, merebah, kadang membelakangi, kemudian berusaha meraih batu namun ragu-ragu, hingga akhirnya pemain membelakangi penonton agak cukup lama sebelum akhirnya dengan kecepatan tertentu mengagetkan penonton, mengambil batu dengan secepat mungkin dan dengan tenaga kuat akan melempar batu tersebut pada penonton ke arah kepala, dekat sekali.

Hingga pribadi dapat merasakan dengus nafas pemain yang memburu. Tepat di depan wajah di mana tangannya yang mengepal berisi batu berhenti, perlahan-lahan ia mengurangi tegangan tenaga pada tangannya. Sebelum kemudian mundur teratur dan berbalik mengambil kertas kecil gulungan, seperti kertas arisan dan memberikannya pada penonton. Kemudian dia perlahan mudur teratur dan merebehkan diri kembali.

Tema dan Dramaturgi pertunjukan

Secara garis besar susunan hal yang menarik dari pertunjukan Tuti Art dan DAC ini adalah pengelolaan tema dalam dramatugi pertunjukannya. Meskipun pertunjukannya pendek dan terkesan sederhana namun dramaturgi pertunjukan sebagai bangunan dari penyususnan tema dalam dua pertunjukan yang disajikan sangat tergarap apik. Misalnya dari cerita Bower Bird, bercerita tentang burung Namdur yang memiliki perilaku aneh mengumpulkan barang-barang yang berwarna cerah untuk membuat sangkar dan menarik perhatian pejantannya. Isu tema dari Bower Bird adalah mengenai populasi burung Namdur betina yang mulai berkurang. Sedangkan narasi pertunjukan Beast dibangun bagaimana cara, respon dan impresi setiap orang mengenai pengalaman dan pertemuannya pertama kali dengan makluk asing.

Tampaknya dramaturgi yang ingin dibangun adalah mencoba menyususn sebuah ruang komunikasi dan dialog non verbal dalam ruang yang lebih intens dan personal untuk melibatkan penonton menjadi bagian pertunjukan. Penonton secara sadar dilibatkan untuk memahami dan merasakan kerangka komunikasi melalui ‘dialog’ non verbal dan respon personal terhahadap pegalaman menonton peristiwa pertunjukan yang telah dibangun. Harapannya ketika penonton terlibat secara dekat dengan impresi personal yang kuat, secara personal masing-masing kemudian akan merefleksikan impresi keterlibatannya dengan tema dalam seluruh bangunan peristiwa pendek yang telah disusun. Di akhir setelah menyaksikan pertunjukan, penonton diberikan peran dan ruang, untuk berkomentar di sebuah papan komentar yang telah disediakan di luar ruangan.

Dalam konteks dan sisi yang lain, pembangunan ruang, isu, tema dan dramaturgi yang bagus antar pekerja seni difabel dan non difabel secara baik dan apik yang pernah saya saksikan, juga pernah dikerjakan oleh Teater Gardanala dengan lakon “Margi Wuta” yang pernah dipentaskan tahun 2013 di Asrama Santikara Yogyakarta.

*Ficky Tri Sanjaya, aktor pantomim, bergiat di Bengkel Mime Theater Yogyakarta dan komunitas-komunitas mime serta teater lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *