Bagaimana Pertunjukan Progresif Dihasilkan?

Catatan Menonton Plan B: The Master Plan by Democrazy Theatre Studio, Bangkok

oleh : Joned Suryatmoko

 

Bagaimana jika pertunjukan belum bisa dimulai karena penonton belum siap? Bukan karena jumlahnya kurang, tapi kriteria penonton yang kita inginkan belum memadai? Apa yang harus kita lakukan? Pertunjukan dihentikan? Atau dilanjutkan dengan menyiapkan penonton?
Situasi penuh pertanyaan itu yang mengawali pertunjukan Plan B: The Master Plan di Democrazy Studio minggu lalu.

Pertunjukan hanya dihadiri kurang dari sepuluh orang, termasuk saya dan seorang teman penulis naskah dari Singapura. Ya, teater eksperimental seperti ini memang masih belum banyak penontonnya di Bangkok. Padahal lokasi pertunjukan ini tengah kota, dekat dengan Lumpini Park dan Goethe Institut Bangkok. Kalau di Jakarta mungkin sekitar kawasan Cikini. Kalau di Yogya kawasan Sagan. Atau kalau di Bandung bisa kawasan Purnawarman.

Penonton diajak pindah ke panggung. Foto : Joned Suryatmoko

Para penonton bervariasi. Ada Mbak Bule Belanda, ada tiga Mbak-mbak Thailand, satu brondong legit, satu orang pensiunan brondong berumur 27 tahun, dan satu Mas-mas nggak penting. Total 9 orang! Kami semua masuk ke gedung pertunjukan, sebuah black box mungil yang selama ini dijadikan lokasi latihan Toshiki Okada bersama aktor-aktor Bangkok. Seorang penampil, laki-laki muda, berkostum teknisi warna biru, berambut (asli) seperti Dora The Explorer mempersilahkan kami duduk. Saya memilih tempat paling belakang karena pertunjukan ini gosipnya interaktif. Jadi penting duduk di belakang agar saya bisa melihat resepsi penonton. Itu maksudnya. Tapi baru 3 menit duduk Mas Dora meminta kami semua turun ke panggung dan bersandar di dinding panggung, menghadap kursi penonton. Tas harus dibawa, tidak boleh ditinggal di kursi.

Kalau Anda baru saja mempunyai hari yang panjang dan melelahkan, pertunjukan seperti ini pasti membuat Anda emosi. Capek! Yang diinginkan hanya duduk melihat pertunjukan. Begitu pula saya. Setelah seharian mengunjungi teman di Tammasat University di pinggiran Bangkok, saya hanya ingin duduk menonton. Tidak usah berinterkasi, deh! Tapi apa daya! Mas Dora menyuruh saya juga ke panggung.

Setelah semua penonton duduk di lantai panggung, Mas Dora mengeluarkan catatannya. Dia mengamat-amati kami seperti ada yang salah. Lalu terdengar suara perempuan, seperti mesin pengumuman di biosop yang menjelaskan, kalau ada penonton yang…. (titik titik titik) Anda boleh duduk. Saya lupa pertanyaan pertama apa yang dilontarkan suara itu, yang diucapkan dalam dua Bahasa yakni Thai dan Inggris. Yang saya tahu kami melewatkan hampir satu jam pertama dengan pertanyaan itu. Kalau ada penonton yang pernah sekolah ke luar negeri dengan biaya orang tua, boleh duduk. Kalau ada yang pernah memelihara hewan peliharaan yang sangat mahal, boleh duduk. Kalau ada yang pernah ikut kegiatan kursus yang mahal, Anda boleh duduk. Kalau ada penonton yang… dst.

Masih banyak pertanyaan lagi yang disampaikan. Sesekali Mas Dora mencoba mendatangi kami satu-satu dengan catatannya. Kadang ada penonton yang berhasil duduk karena lolos penyaringan itu. Termasuk saya yang berhasil duduk kembali hanya karena Mas Dora melihat saya kelelahan. Kalau saya bisa memberi permen atau 10 bath (Rp 400,-) dia akan mengijinkan saya duduk. Kebetulan saya punya permen, jadilah saya kembali duduk. Mas Purna Brondong dan si Brondong Legit juga berhasil duduk. Termasuk satu Mbak Thailand dan kawan Singapura. Tapi Mbak Bule nyaris selalu tertinggal di panggung dan dia terlihat tenang.

Beberapa saat duduk di kursi, saya merasa aneh karena hanya menonton. Mas Dora masih sibuk menanyai penonton lain di panggung. Saat itulah saya merasa terlibat pertunjukan secara lebih aktif, akan lebih menyenangkan. Bukan duduk menonton dan berjarak. Pertunjukan ini memasang ‘partisipasi’ sebagai mata uang dinamika pertunjukan mereka. Jika saya tidak memilikikanya, saya tidak akan bisa hidup sekalipun sebagai penonton. Sementara pertunjukan lain memasang partisipasi sebagai kosmetik, pertunjukan ini berhasil menjadikanya sebagai mata uang.

Untunglah, setelah 10 menit Mas Dora meminta kami semua kembali ke panggung karena sepertinya ada yang salah. Saat itulah saya kembali duduk dan lebih tenang mengikuti semua pertanyaan. Banyak pertanyaan yang kami lewati lagi. Sedikit demi sedikit kami kembali didudukkan di kursi penonton. Saya gagal didudukkan karena peliharaan saya kurang mahal untuk ukuran Mas Dora. Tapi saya didudukkan karena masalah sepele. Saya sudah mengunjungi banyak negara maju di dunia jauh melampaui para penonton yang lain. Pertanyaan ini sekaligus mengkonfirmasi pola pertanyaan bahwa Mas Dora ingin menyaring kelas penonton. Yang dianggap makmur yang didudukkan. Yang sengsara tanpa membawa nikmat akan tertinggal di panggung.

mas Dora menanyai mbak Kriwil. Foto : Joned Suryatmoko

Kelompok sengsara ini pada akhirya dihuni dua orang. Keduanya Mbak dari Thailand yang datang ke pertunjukan berbarengan. Satu berambut kriwil. Satu bertubuh mungil. Mas Dora meminta mereka agak saling menjauh dan duduk di sudut serta tengah panggung.

Tak berapa lama lampu padam, hanya menyorot Si Mbak Kriwil. Musik singkat mengalun melodramatis. Suara perempuan yang agak memelas terdengar. Sebuah teks terjemahan suara itu tersorot di dinding, menceritakan bahwa si Kriwil ini (dengan narasi ‘aku’) baru saja mengalami bencana, harus meminta-minta untuk makan sehari-hari dan kesehatannya menurun. Mas Dora dengan ekspresi sedih, setelah sebelumnya terus menerus cengingisan, meminta iba. Ia bertanya apakah ada dari penonton yang mau menyumbang. Kali ini belum ada respon.

Kali berikutnya lampu ganti menyorot Si Mbak Mungil dan narasi ‘aku’ yang tertimpa petaka terdengar. Begitu seterusnya narasi-narasi seperti aku miskin, aku tidak punya pekerjaan, aku tidak punya KTP, aku tidak punya akses kesehatan, aku kelaparan, aku tidak punya masa depan, desaku terlanda banjir dan seterusnya berganti-ganti. Setiap kali satu narasi bergantian disorotkan ke Si Kriwil atau Si Mungil, Mas Dora meminta iba. Karena kadang dia tidak menerima respon, dia mengeluarkan amplop putih dan mengedarkan ke penonton. Kawan Singapura dan Mbak Bule menyumbang. Yang lain tidak. Saya hanya sempat memberikan satu buah pisang yang kebetulan jadi bekal dalam tas. Amplop dan semua benda yang diterima dari penonton, diberikan kepada si korban yang duduk di panggung, entah itu Mbak Kriwil atau Mbak Mungil. Cara Mas Dora memberikan juga sangat santun, sebagaiman kita lihat orang memberikan bantuan bencana di tivi.

mas Dora mengedarkan amplop ke penonton. Foto : Joned Suryatmoko

Selama proses kita memberikan bantuan, pelan-pelan saya sadari permainan kuasa (power game) yang dipasang. Kita yang duduk di kursi penonton dan sudah tersaring adalah kelas yang beruntung. Yang duduk di panggung adalah kaum sudra. Setiap keputusan kita pada si sudra adalah perwujudan dan kemantapan status siapa kita. Mas Dora, hanya mensimulasikan bagaimana kehidupan ini menaruh kita dalam kelas itu, lewat semua pertanyaan yang digunakannya untuk menyaring penonton.

Mas Dora menutup pertunjukan dengan sangat halus. Mengucapkan terima kasih pada semua dukungan dan donasi kami. Lampu meredup, dan menelannya dalam gelap. Penonton bertepuk tangan dengan aneh. Seperti canggung merayakan kemenangan kelasnya. Penutup yang lembut dan apik ini terus mengganjal sekaligus menggenang di kepala.

 

Habitat bagi pertunjukan progresif

Untuk saya yang sedang tertarik batas teater dan performance, pertunjukan ini sangat provokatif dan segar. Bermain antara karakter fiksional (yang itu teater) sekaligus autobiografi kita (yang ini sangat performance) menyisakan satu strategi untuk mendapatkan pengelaman estetik yang spesifik. Bentuk (formalism) tidak lagi digagas sebagai awal, tapi pengalaman apa yang ingin dicapai. Bentuknya mengikuti karena bisa apapun. Dan ini yang menjadikannya progresif.

Salah satu keberhasilan pertunjukan ini adalah wajah Mas Dora yang sangat kharismatik dan penuh senyum lugu. Energi positif memancar dari setiap kalimat dan ucapannya, bukan dalam pengertian seperti motivator. Tapi seperti teman kita di kampus yang selalu ceria dan segar sekalipun tugas kuliah menumpuk atau uang bulanan menipis. Dari ekspresi seperti inilah narasi keras soal konflik kelas diselipkan pada ingatan dan pengalaman hidup kita.

Yang lebih menarik lagi, pertunjukan ini dikerjakan utamanya oleh tiga orang. Yakni Mas Dora yang juga seorang sutradara kelompoknya sendiri. Disutradarai oleh Mas Model, yakni anggota Democrazy yang baru saja lulus kuliah teater dan juga berprofesi sebagai model karena ketampanan dan postur tubuhnya. Produsernya direktur arstistik Democrazy, Mas Wangun, seorang koreografer yang pindah ke teater dan menjadi salah satu seniman muda paling wangun dan progresif di Thailand. Semuanya berumur di bawah 35 tahun.

Setiap kali saya melihat karya bagus dan progresif, saya tidak cemburu pada karyanya. Tapi cemburu pada situasi dan cara kerja karya ini dihasilkan. Pada habitat yang diciptakan dan dipelihara. Kolaborasi ciamik tiga orang dengan isi kepala yang berbeda bukan hal yang gampang. Pertama dan paling sulit adalah menyingkirkan ego (artistic) masing-masing, terlebih jika masing-masing sudah punya nama. Masing-masing orang yang saya sebut tadi sudah diberi sorot lampu oleh lingkungan keseniannya, tapi tetap santai. Mas Wangun bahkan sudah agak tersorot di tingkat regional Asia Pasifik. Karya ‘Plan B’ sendiri sudah berumur setahun setelah sebelumnya dipentaskan dengan format sedikit berbeda.

Agak sulit dalam teater kita di Indonesia (atau khususnya Yogya) melihat kasus kolaborasi karya progresif seperti ini. Mana ada sutradara mau diproduseri dan dielaborasi karyanya? Sebaliknya, mana ada produser yang mau berangkat dari apa yang digagas si sutradara. Perang gagasan dan bentrok ego seringkali mewarnai bentuk kerjanya. Maka kalaupun ada karya yang dihasilkan dan sudah lumayan, ia tidak bisa berkembang jauh karena habitatnya tidak diciptakan. Atau kalaupun ada karya bagus, ia hanya berasal dari satu kepala. Atau dia dihasilkan satu kelompok saja dengan figure sentral. Harus diakui, lingkungan kerja artistik kita masih sangat macho dan ego sentrik. Kesenian dan karya seni seperti lingga yang harus mencuat tegar. Pada situasi seperti ini saya agak ragu karya progresif bisa dihasilkan.

Pada kasus pertunjukan ini, penjualan tiketnya bahkan dijaga satu sutradara kelompok lain yang karyanya barusaja dipresentasikan di Bangkok Theatre Festival. Saya mau bilang apa lagi? Di Yogya, atau di Indonesia mana ada sutradara teater mau jaga tiket? Bikin drop, say! Dan mungkin ini jadi otokritik untuk lingkungan kita sendiri.

*Joned Suryatmoko, pembuat teater dari Yogyakarta. Ulasan ini direpost dari akun facebook atas ijin beliau.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *