Ayu Permatasari : Keras dan Disiplin

oleh : Nia Agustina*.

Ayu Permata Sari, atau akrab disapa Ayu, lahir di Lampung, 18 Juli 1992, anak kedua dari 3 bersaudara. Ketika saya menemui Ayu untuk interview, dia terlihat sangat excited menceritakan masa-masa kecilnya, karena dia menyatakan bahwa masa-masa itulah yang membuatnya menjadi sosok koreografer seperti sekarang. Sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga tersebut, sejak kecil Ayu terbiasa bermain dengan laki-laki, kedua kakaknya dan teman-teman kakaknya. Hal ini membuat Ayu sering meniru perilaku-perilaku kakak dan teman-temannya, sampai sebelum masuk jenjang SMA Ayu hampir tidak memiliki teman perempuan.

Ayu juga dibesarkan dengan keras, kasar, dan disiplin oleh Ayahnya, Suherman yang seorang jawara silat di daerahnya. Ini berkebalikan dengan ibunya, Zilhayah, yang seorang guru Agama, meskipun cerewet tetapi sangat lembut hatinya, sehingga mudah dicintai oleh murid-muridnya, anaknya, dan bahkan teman-teman dari anaknya.  Meskipun begitu, Ayu juga melihat sisi lain dari ayahnya, misalnya ayahnya hobi mendongeng dan menceritakan hal-hal lucu. Masa kecilnya yang selalu bermain dengan laki-laki dan dibesarkan dengan pendidikan ayah dan ibunya yang semacam itu sangat berpengaruh dalam Ayu menjalani profesinya sebagai koreografer.

Ayu memang selama ini dikenal sebagai koreografer yang keras, disiplin, dan kasar, tetapi juga dia memiliki sisi lain yang suka bercanda, dan romantis. Perempuan berambut panjang ini sangat sadar atas kebenaran sifat-sifat yang disematkan pada dirinya. Tetapi dia merasa bahwa itu adalah keharusan, jangan harap kamu bisa menjadi penari dan koreografer yang baik jika kamu tidak disiplin dan keras terhadap dirimu sendiri untuk berlatih dan belajar. Selain itu, mental yang kuat dan keras juga dibutuhkan dalam dunia kepenarian yang terkadang persaingannya tidak sehat, atau ada yang tidak suka atas apa yang dia lakukan. Semuanya bisa dia kelola dan handle dengan baik karena dia sudah terbiasa ditempa oleh ayahnya.

Perjalanan Menjadi Koreografer

Perjalanan Ayu di dunia taripun tidak mudah. Berawal dari melihat Ayu yang sangat suka berjoged tiap kali ada konser dangdut organ tunggal di daerahnya, sang ibu memasukkan Ayu ke sebuah sanggar, Cangget Budaya ketika ia masih kelas 2 SD. Tetapi aktivitas itu harus terhenti dua tahun kemudian karena Ayahnya tidak memperbolehkan ayu latihan di sanggar yang agak jauh dari rumah tinggalnya.

Panggung pertama Ayu Permatasari bersama Sanggar Cangget Budaya

Ketika karena suatu hal, Ayu akhirnya pindah sekolah di SD yang lebih dekat dari rumah, ternyata ada kelas ekstrakurikuler tari di sekolah. Pelatihnyapun dari sanggar Cangget Budaya, yang dulu pernah Ayu ikuti. Karena semua murid wajib ikut, maka mau tidak mau Ayah Ayu mengijinkannya sekedar untuk mematuhi ketentuan kegiatan sekolah.

Sampai suatu hari, ia mendapatkan kesempatan dari pelatih sanggarnya untuk turut menari sebagai pengisi acara pernikahan. Ini mengharuskan latihan lebih intens. Karena takut ayahnya akan kembali melarang, Ayu pun mencari akal. Di setiap jam latihan, ayu mengunci kamarnya, dan mengendap-endap keluar melalui pintu belakang rumahnya. Ayahnya mengira Ayu sedang tidur siang. Sampai akhirnya tiba hari mengisi acara pernikahan. Ketika Ayu masuk ke area pentas, tiba-tiba dia melihat ayahnya yang ternyata juga menghadiri pernikahan tersebut. Sambil menahan rasa takutnya dia tetap menari, dan berusaha sebaik mungkin.

Usai menari, dia langsung bersembunyi di ruang ganti. Tanpa diduga ayahnya mendatanginya. Ayu berusaha tetap tenang, meski dalam hati sangat takut dan malu jika sampai ayahnya memaharinya di hadapan teman-teman. Tetapi yang terjadi sungguh lain. Dengan senyum bangganya, Suherman sang Ayah menggandeng tangan Ayu lalu membawanya untuk diperkenalkan pada saudara dan teman-teman sang Ayah yang juga hadir di pernikahn tersebut. Sejak itu Ayahnya mulai mengijinkannya untuk terus menari. Dari hasil menari itu pula Ayu bisa mencukupi uang jajannya sendiri selama sekolah.

Ayu sama sekali tidak terpikir untuk kuliah di jurusan tari selepas SMA. Dia bercita-cita menjadi bidan. Tetapi, pada hari dimana dia seharusnya tes di jurusan kebidanan, ternyata di tanggal itu juga, dia sudah terlanjur menyanggupi untuk menari di sebuah acara bersama sanggarnya. Gugurlah kesempatannya memasuki kuliah kebidanan. Lalu di lain hari, sahabatnya, Nabilla Kurnia Adzan meminta Ayu untuk menemaninya pergi ke Yogyakarta, mendaftar kuliah di ISI Yogyakarta. Daripada hanya mengantar saja, Ayu pikir lebih baik ikut mendaftar dan tes. Ketika hari pengumuman tiba, nama Ayu Permatasari dan Nabilla Kurnia Adzan tertulis dalam daftar calon mahasiswa yang diterima. Tetapi Nabilla akhirnya memilih mengundurkan diri, setelah ia juga diterima di Universitas Negeri Lampung. Sementara Ayu, memenuhi panggilan registrasi dan resmi menjadi Mahasiswa Jurusan Tari ISI Yogyakarta angkatan 2010.

Masa kuliahnya bisa dikatakan tidak mulus dan seindah bayangan. Mungkin karena pengalamannya di sanggar dan ragam tari yang pernah dipelajarinya terbatas, Ayu sedikit keteteran. Iapun hampir tidak pernah mendapat kesempatan untuk naik pentas baik di acara kampus maupun di luar kampus. Ketika satu persatu sebagian besar teman sekelasnya mendapat kesempatan, dia sama sekali tidak pernah memperoleh. Sampai akhirnya dia berkenalan dengan Ari Ersandi, kakak kelasnya di Jurusan Tari yang menjadi salah satu orang penting dalam perjalanan karir Ayu Permata Sari. Ari Ersandi yang kebetulan sama-sama orang Lampung selalu memberi semangat kepada Ayu. Ari mengajari Ayu olah tubuh, dan selalu mengingatkan Ayu bahwa orang Lampung harus punya piil, atau bisa disebut harga diri. Tidak boleh menyerah sebelum sukses dan membanggakan keluarga di rumah.

Dari pertemuan dan prosesnya bersama Ari Ersandi itu, Ayu mulai dikenal oleh beberapa seniornya yang sedang meniti gerbang menjadi koreografer muda dan mengajaknya berproses. Diantaranya Kinanti Sekar Rahina dan Mila Rosinta. Ayu menganggap orang-orang itu jugalah yang menginspirasinya. Sampai akhirnya dia berani membuat banyak keputusan-keputusan penting dalam hidupnya, seperti memproklamirkan kelompoknya sendiri bernama Ayu Permata Dance Company (APDC), membuat workshop ke berbagai daerah, dan kini mempersiapkan karya tunggalnya yang akan digelar pada bulan Oktober 2017 nanti. Memang, siapa yang ada di sekeliling kita sangat mempengaruhi bagaimana cara kita memandang hidup dan kehidupan, kata Ayu selanjutnya. Kalau kita bergaul dengan orang yang positif, kita juga akan menjadi positif, seandainya bersaingpun bersaing dengan positif.

Cita-cita di dunia tari ke depan

Ayu menambahkan bahwa sampai hari ini dia masih bergelut dan mencari terus hal baru apa yang dapat ia sumbangkan bagi kehidupan tari. Dia masih terus berekplorasi dan mencari itu untuk karya-karya selanjutnya. Dia sangat mencintai tari. Tari sudah dia anggap sebagai kehidupan. Segala yang dia lihat dia lakukan adalah tari. Di tari pula dia menemukan kebebasannya dan memberikan kebahagiaan dan kebanggaan bagi orang tuanya. Bagi dia meninggalkan tari adalah sebuah kekurang ajaran karena tari sudah hidup dalam dirinya sekian lama.

Cita-cita yang ingin dia wujudkan sekarang salah satunya adalah suatu saat dia memiliki studio, jadi ketika ada seniman-seniman lampung yang datang ke Jogja, dia adalah seniman yang pertama dicari. Dia berpesan bagi adek-adek yang sedang belajar berkarya di dunia tari, harus percaya diri, tidak cepat bosan, continue, latihan, perbanyak pentas dimanapun tempat, dibayar ataupun tidak jika kalian ingin menjadi seniman besar suatu saat nanti. Karena setiap panggung pasti akan mendapat perjalanan berharga untuk karya-karya selanjutnya.

 

Nia Agustin : Pendiri dan pengelola Paradance Festival, kurator muda Indonesia Dance Festival sejak 2016.

3 tanggapan untuk “Ayu Permatasari : Keras dan Disiplin

  • 10 Agustus 2017 pada 14:38
    Permalink

    Selamat ya buat ayu… Tp kenapa ayu tidak menyebutkan siapa nama Ayah, ibu apalagi kakaknya, padahal merekalah orang pertama dibalik kesucsesan ayu, baru kemudian teman2nya yg dia sebutkan tadi.ok yu smg sucses selalu bersamamu.tq

    Balas
    • 10 Agustus 2017 pada 16:37
      Permalink

      Yth. Ibu Tintin Sumarni di Bandar Lampung. Terima kasih telah membaca dan menanggapi artikel di website kami. Artikel di atas adalah ditulis oleh Nia Agustina, berdasarkan wawancara dan obrolan santai dengan Ayu. Sehingga sangat wajar Ayu tidak menyebut nama orang2 penting di keluarganya, namun hanya menyebut dengan “Ayahku”, “Ibuku”, “Kakakku” dsb. Sayangnya, Nia juga tidak menanyakan perihal nama-nama tersebut. Namun kita yakin, Ayu tentu tetap sadar bahwa keluarga lah pendukung terbesar dan terpentingnya. Kami akan coba meminta Nia untuk melanjutkan interview dan melengkapi hal tersebut segera. Mari, kita dukung dan doakan bersama untuk kesuksesan Ayu…

      Salam,
      Didik Adi Sukmoko – Redaksi

      Balas
  • 10 Agustus 2017 pada 18:27
    Permalink

    Salam, Atas saran dari Ibu Tintin Sumarni melalui kolom komentar, tim redaksi telah merevisi tulisan Nia Agustina di atas dan menyebutkan nama kedua orang tua Ayu Permatasari pada 10 Agustus 2017 jam 18.27 WIB. Terima kasih.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *