Yayak Priasmara dan Nasib Seni Teater Tutur Kentrung

oleh : Y.E. Marstyanto*

Antonin Artaud mengatakan bahwa teater harus memberi kita segala sesuatu seperti yang ada dalam kejahatan, cinta, perang, atau kegilaan lain, jika teater masih ingin terus hadir bagi publik. Semangat itu sebenarnya juga penting dipeluk oleh seni sastra lisan atau teater tutur tardisional semacam kentrung.

Seni kentrung pernah berjaya di sepanjang pantai utara Jawa, dari Jawa Tengah sampai Jawa Timur pada abad ke-19. Bahkan seni kentrung juga masuk ke pedalaman seperti Grobogan, Kudus dan Blora di Jawa Tengah dan Kediri dan Ponorogo di Jawa Timur. Tetapi sebagaimana bentuk seni tradisional lain, maka kehadiran televisi perlahan tetapi pasti mengalihkan perhatian penonton dari kentrung. Di sisi lain, pelaku seni kentrung tidak berhasil melakukan inovasi dan regenerasi sehingga mereka semakin tenggelam oleh jaman.

Yayak Priasmara (jas hitam) bersama Komunitas Kentrung Kluntrang-Kluntrung Malang, Jawa Timur

Daerah-daerah Pantai Utara lain di mana menjadi tempat penyebaran kentrung mengalami nasib sama. Baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur, Jika masih ada seni kentrung di daerah-daerah, seperti Demak, Blora, Kudus, Blitar, Tulungagung, maka dipastikan para pendukungnya rata-rata sudah sepuh. Tetapi beruntung ada sedikit anak-anak muda (mungkin generasi millennial yang didukung generasi X hehehe) masih mencoba setia ngentrung dan mereka juga bikin acara untuk itu bulan Agustus 2017 ini.

Ya. Seni kentrung belum mati. Ada seorang anak muda masih tertarik menggeluti kesenian tradisional ini. Mereka bukan hasil pola nyantrik sebagaimana para senior seni kentrung melakukan alih kemampuan dan pengetahuan di jaman dulu.  Dia bernama Yayak Priasmara. Alumnus Universitas Negeri Malang ini memang jatuh cinta pada kentrung sejak masa kuliah. Ia bahkan menjadi salah satu pendiri UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Blero di kampusnya. UKM Blero ini khusus melestarikan seni kentrung. Selain itu lelaki kelahiran 21 Mei 1987 ini juga membentuk Komunitas Kentrung Kluntrang Kluntrung di Malang. Sedangkan di kota kelahirannya, Tulungagung, Yayak mendirikan Sanggar Seni Gedhang Godhog yang juga mengembangkan seni kentrung.

Yayak baru saja sukses mengadakan kegiatan bertajuk Kampung Seni Ngingas 1 pada 5 Agustus 2017 kemarin di Tulungagung. Dalam acara tersebut, Yayak menghadirkan kelompok kentrung remaja asuhannya, yaitu Sanggar Seni Gedhang Godhog dan juga penampilan Kentrung Sedya Rukun dari Tulungagung. Hal menarik adalah Sedya Rukun yang dipimpin dalang kentrung sepuh mbok Gimah tampil berkolaborasi dengan Orkes Keroncong Mahkota Buana Tulungagung.

Tulungagung memang salah satu kota di Jawa Timur di mana seni kentrung pernah singgah dan memiliki publik pendukung. Bentuk seni kentrung Jawa Timur dan Jawa Tengah tidak jauh berbeda. Peralatan musik perkusi, seperti terbang berbagai ukuran dan kendang menjadi ciri khas kesenian ini. Baik seni kentrung perorangan maupun kelompok menggunakan terbang (rebana). Tetapi khusus bagi bentuk perorangan tidak menggunaka kendang. Dalang kentrung adalah seorang aktor dengan kemampuan seni peran dan seni suara. Demikian pula para panjang atau penyenggak, yaitu pendamping Dalang sekaligus pemusik pendukung.

Mbok Gimah (kebaya hijau, berkacamata) pimpinan Kelompok Kentrung Sedyo Rukun, Tulungagung, Jawa Timur. Ia adalah satu diantara segelintir dalang kentrung sepuh yang masih bertahan.

Seni kentrung pernah memiliki pasar atau ruang pertunjukan luas dan beragam. Dalang kentrung dan personilnya bisa hadir di banyak acara, seperti sunatan, pernikahan, upacara tujuh bulanan wanita hamil, ruwatan dan sebagainya. Jika melihat jenis peralatan musiknya, orang bisa mengkaitkan pada seni yang berhubungan dengan Islam. Tidak mengherankan para dalang kentrung sering membawakan kisah-kisah nabi-nabi dan siar Islam. Tetapi kemudian seni kentrung menjadi milik semua kalangan. Kisah-kisah seni kentrung juga menyajikan cerita Panji, Babad atau legenda. Demikian pula alat musik kendang (Jawa) mulai menjadi salah satu perlengkapan. Seni Kentrung menjadi seni teater tutur atau sastra lisan Jawa.

Yayak menamakan komunitas kentrungnya di Malang dengan Kluntrang Kluntrung. Nama ini memang dianggap sebagian orang sebagai asal-usul istilah kentrung. Kluntrang-kluntrung artinya mengembara. Hal ini dikarenakan ada dalang kentrung melakukan pengembaraan dalam menjajakan ceritanya dahulu kala. Tetapi di Grobogan, Jawa Tengah, istilah kentrung konon bermula dari lek-lekan jentrung (begadang dengan sungguh-sungguh memperhatikan – Jawa). Selain itu masih banyak lagi asal-usul arti nama kentrung.

Yayak memiliki keyakinan bahwa kentrung akan terus hidup. Meskipun ayah satu anak ini melihat kenyataan bahwa kentrung semakin redup seiring berkembangnya jaman. Oleh karena itu, ia menjadikan Kampung Seni Ngingas 1 sebagai penegas bahwa kesenian-kesenian lawas harus terus dipertahankan. Ia hendak menebalkan atmosfer kentrung di Tulungagung. Kreatifitas menjadi jalan bagi Yayak membuat tegak seni kentrung.

“Bagi saya penting mengenalkan kentrung pada anak muda. Mereka dikenalkan indahnya cerita-cerita lama, bagaimana asyiknya mendongeng, asyiknya bermain tanpa sekat dengan penonton, asyiknya spontanitas, asyiknya ber-parikan, dan lain-lain,” imbuh Yayak.

Ia juga mengharap dukungan semua pihak untuk kerja kebudayaannya ini. Ia mengingatkan tentang tugas semua pihak dalam hal ini. Tugas masyarakat untuk menjadi penikmat dan sesekali menanggap, tugas pemerintah harus lebih dari menanggap. Pemerintah sebaiknya menggali lagi mengapa kentrung harus dipertahankan dan setelah itu mereka mengambil sikap. “Eman-eman kalo pemerintah hanya pada level nanggap, itupun jarang (ndak mesti tiap tahun),” imbuhnya..

Saat ini, masyarakat memang sudah sedikit bisa melihat kentrung, bahkan lewat media sosial semacam youtube. Banyak komunitas-komunitas mencoba menyajikan kentrung dengan gayanya masing-masing. Informasi dalam bentuk buku tentang kentrung memang terbatas dan tidak mudah dicari. Salah satu atau mungkin satu-satunya buku yang mengulas tentang seni kentrung adalah Cerita Kentrung Sarahwulan di Tuban karya Suripan Sadi Hutomo, terbitan Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa 1993.(ye)

*Y.E. Marstyanto. penulis lepas dan seniman teater dari Surakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *