A Story of Wounds: Drama Dinamika Psikologis Korban dan Pelaku KDRT

Saya sangat menyukai film musikal dan juga drama musikal. Namun seingat saya, saya tidak banyak mendapatkan akses untuk menyaksikannya (atau memang jumlahnya terbatas, entahlah). Untuk film yang paling membekas yang pernah saya tonton adalah Evita, sebuah film musikal tentang Evita Peron, first lady Argentina pada tahun 1946 – 1952. Saya menonton film itu pertama kalinya ketika saya berusia 13 tahun, dan terus mengulanginya secara periodik hingga saya setua ini, karena menurut saya film itu bagus sekali. 95 % dialognya disampaikan dalam bentuk musik yang indah, saya suka sekali. Sungguh sebuah pengalaman menonton film musikal yang tidak akan pernah terlupakan.

Untuk pertunjukan drama musikal, tidak banyak yang pernah saya tonton. Beberapa di antaranya misalnya “Ngono Yo Ngono” yang dipentaskan oleh GMT Jogjadrama dan disutradarai oleh Ahmad Jalidu yang saya saksikan pada tahun 2015, dan A Story of Wounds yang baru saja saya saksikan kemarin, hari Sabtu malam tanggal 23 Maret 2019 di Auditorium Driyarkarya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kebetulan tema kedua drama musikal tersebut sama, yaitu Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di mana di dalamnya juga melibatkan peristiwa perkosaan dalam rumah tangga (marital rape).

Sebuah tema yang mengangkat hal yang sebenarnya banyak sekali terjadi di sekitar kita. Sayangnya masih banyak masyarakat yang memandangnya sebagai urusan domestik rumah tangga masing-masing yang tidak pantas dibawa ke publik. Padahal akibatnya bisa sangat fatal, dari mulai depresi berkepanjangan hingga cacat seumur hidup dan kematian. Sehingga KDRT ini merupakan hal yang sangat serius, apalagi data mengatakan bahwa 1 dari 3 perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan dikarenakan dia perempuan (kekerasan berbasis gender, termasuk KDRT). Hal ini membuat KDRT bukan lagi permasalahan domestik rumah tangga tetapi sudah merupakan tindakan kriminal, dan di negara kita hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UUPKDRT No. 23 Tahun 2004), sehingga tidak ada alasan lagi untuk membiarkan seorang perempuan mengalami KDRT tanpa mendapatkan pertolongan.

Ruben dalam keadaan mabuk mencekik istrinya. Foto : Priska Febrinia.

Demikian juga dengan perkosaan dalam rumah tangga (marital rape). Sedihnya masih banyak orang yang menganggap hal itu sebagai lelucon. “Lho kan suaminya sendiri”, “kan memang kewajiban istri melayani suami”, “lho kan hubungannya sudah halal”, dan lain sebagainya. Padahal semua hubungan seksual yang tidak dikehendaki oleh kedua belah pihak (baik itu waktunya, tempatnya, caranya, maupun hubungan seksualnya itu sendiri) adalah perkosaan! Mau suami-istri atau bukan, mau statusnya pacaran atau tidak, itu tetap perkosaan!

Nah tema inilah yang diangkat dengan sangat apik di kedua drama musikal yang saya ceritakan di atas, “Ngono Yo Ngono” dan “A Story of Wounds”. Tapi mungkin pada ulasan kali ini, saya akan lebih banyak menceritakan tentang “A Story of Wounds”, sebuah drama musikal berbahasa Inggris yang disutradarai oleh Stefanny Irawan, dan diselenggarakan oleh Petra Little Theater berkolaborasi dengan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

BACA JUGA:  Setelah Thanksgiving Ada Apa?

Pertunjukan drama yang berdurasi kurang lebih 90 menit ini dibagi ke dalam 2 bagian dengan jeda selama 15 menit. Hal yang paling saya sukai dari drama musikal berbahasa Inggris ini—sama dengan film Evita yang saya ceritakan di atas—95 % dialognya disampaikan melalui lagu yang dinyanyikan dengan sangat keren oleh para pemerannya dengan diiringi musik yang dimainkan secara live oleh satu orang perempuan yang memainkan keyboard dan satu orang laki-laki yang bermain gitar. Musik dalam pertunjukan drama ini diciptakan oleh Christian Xenophanes dengan a-play-with-music-nya oleh Jessie Monika.

Gedung tempat pertunjukannya, Auditorium Driyakarya Universitas Sanata Dharma, sangat representatif sekali menampilkan pertunjukan malam itu. Dengan setting panggung yang menarik, lighting yang oke, dan sounds system yang sempurna, saya rasa tidak ada kendala teknis sama sekali yang mengganggu pementasan A Story of Wounds malam itu. Selain itu, meskipun drama musikal ini 100 % menggunakan Bahasa Inggris, tetapi sangat mudah dipahami, dan pelafalan serta kelancaran berbahasa Inggris para pemainnya, tidak perlu diragukan lagi.

Okay, sekarang kita masuk ke bagian konten dan pesannya. A Story of Wounds menceritakan tentang seorang perempuan bernama Nina, seorang seniman rupa yang tengah mengembangkan karirnya di Bali. Nina dipaksa oleh orangtuanya untuk pulang ke kampung halamannya dan menikah dengan dengan seorang pengusaha kaya bernama Ruben. Pada awalnya Ruben ini tampak seperti eligible bachelor yang sangat sempurna sekali: ganteng, kaya, santun, lembut, well-mannered, dan sangat mencintai Nina. Sehingga semua orang yakin bahwa Ruben adalah laki-laki impian yang bisa diharapkan oleh semua perempuan, termasuk Nina.

Well, bukannya stereotyping, tetapi memang kebanyakan laki-laki pelaku kekerasan menampilkan dirinya sebagai sesosok laki-laki yang sempurna dan “dreamy”. Dan begitu pula dengan Ruben. Namun ternyata laki-laki “sempurna” itu kecanduan berat minuman keras dan setiap kali mabuk, dia akan melakukan kekerasan kepada Nina istrinya. Tidak hanya kekerasan fisik dan kekerasan psikis, Ruben juga berkali-kali memperkosa istrinya (kekerasan seksual). Selain itu, dia juga membatasi segala akses Nina untuk keluar rumah dan bertemu dengan keluarganya serta tidak mendukung karir Nina sebagai pelukis (kekerasan sosial).

KDRT selalu terjadi dalam siklus, demikian pula yang terjadi dalam rumah tangga Nina dan Ruben. Setiap kali habis memukuli dan memperkosa Nina, Ruben selalu meminta maaf dan bersikap manis pada Nina. Namun setiap kali ada pemicu lagi, Ruben kembali melakukan hal yang sama. Satu-satunya tempat pelarian Nina adalah studio lukisnya, di mana dia menghabiskan hari-harinya (siang dan malam) di situ untuk melukis. Baginya lukisan bisa “menyampaikan apa yang tidak terkatakan”. Karena awalnya—seperti kebanyakan korban KDRT lainnya—susah sekali bagi Nina untuk menceritakan apa yang dialaminya kepada orang lain termasuk keluarganya. Dia selalu membuat alasan luka-luka lebamnya itu karena dia terjatuh di tangga atau terpeleset di kamar mandi. Apalagi ibu mertuanya juga menutup mata atas kejadian tersebut dan mati-matian membela anaknya.

BACA JUGA:  The Amazing Suparman: Kosmopolitan Berbalut Kemiskinan
Galuh sang model, memberi Nina kekuatan untuk “melawan”. Foto: Priska Febrinia

Keberanian Nina mulai muncul ketika Galuh, seorang perempuan yang menjadi model lukisannya, memberikan dukungan dan kekuatan. Galuh kembali membuat Nina berpikir bahwa dirinya berharga, bahwa dia tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh siapapun. Titik balik selanjutnya adalah ketika ayah Nina sakit keras (dan akhirnya meninggal), Ruben melarangnya meninggalkan rumah untuk menemui ayahnya. Di situlah, Nina menemukan kekuatannya untuk mulai melakukan perlawanan.

Selain faktor internal dalam diri Nina, ada juga faktor eksternal yang mempengaruhi. Markus, adik kandung Ruben, yang sering menyaksikan perlakuan kasar kakaknya kepada Nina, akhirnya tidak tahan dan tergugah hati nuraninya. Markus tahu kakaknya itu sakit (dengan ketergantungan alkoholnya tersebut), namun meskipun demikian Markus berpikir bahwa Nina tidak pantas mendapat perlakukan seperti itu. Mau “sesakit” apapun kakaknya, perilakunya tetap tidak bisa ditoleransi. Akhirnya Markus menceritakan semua yang terjadi kepada ibu Nina dan kemudian mengantarkan Nina dan ibunya ke kantor polisi untuk melaporkan KDRT yang dialaminya.

Bagaimana respon polisi ketika mendengar laporan Nina dan ibunya? Yes, seperti sudah bisa ditebak. Polisi laki-laki itu mengatakan, bahwa itu adalah masalah rumah tangga biasa, bahwa biasa suami dan istri bertengkar. Nina harus bisa menjadi istri yang lebih sabar dan lebih baik lagi. Ketika Nina mengatakan bahwa suaminya juga kerap memperkosanya, polisi malah tertawa dan mengatakan, lho dia itu kan suamimu. Sedih sekali ya! Polisi juga meminta bukti untuk semua hal yang Nina laporkan, yang membuat ibu Nina sangat marah dan mengatakan, “apa bukti yang lebih baik dari semua luka-luka yang ada di tubuh anakku?” Apa yang terjadi kemudian pada Nina, pada Ruben, pada Markus, pada ibu Nina, pada Galuh? Well, no spoiler is always better for a review, yes, hehehe.

Menurut saya pertunjukan drama musikal A Story of Wounds ini sangat bagus sekali dan detail dalam menggambarkan bagaimana dinamika psikologis korban KDRT. Bagaimana KDRT melukai tidak hanya korbannya saja, tetapi juga keluarga korban dan orang-orang di sekitar korban. Dan juga bagaimana pelaku KDRT itu sebenarnya juga adalah korban. Korban dari konstruksi sosial yang menjadikannya pelaku kekerasan. Meskipun kita tetap tidak membenarkan perilakunya, tetapi pelaku juga adalah korban, dan dia juga membutuhkan pertolongan. Meskipun dalam sebuah peristiwa KDRT, yang paling dirugikan tetap korbannya, tetapi pihak-pihak yang lain pun juga ikut dirugikan: keluarga besar mereka, lingkungan masyarakat mereka, termasuk pelakunya. Tidak ada satu orangpun yang diuntungkan dalam sebuah peristiwa KDRT.

BACA JUGA:  “Jejak-旅 Tabi Exchange: Wandering Asian Contemporary Performance” Yogyakarta 2018
Nina dalam “Story of Wounds”. Foto: Priska Febrinia.

Hal selanjutnya yang saya suka dalam pertunjukan ini adalah karakter-karakter yang diperankan. Tokoh-tokohnya tidak ada yang hitam putih seperti kalau kita menonton sinetron, hehehe. Semuanya manusiawi saja, tidak ada yang 100 % baik dan tidak ada yang 100 % buruk. Selalu ada sebab dari sebuah akibat, selalu ada alasan dari sebuah tindakan dan keputusan. Tetapi tetap, kekerasan terhadap perempuan adalah sebuah kejahatan kemanusiaan, dan menjadi tanggung jawab kita semua untuk menghentikannya. Apapun alasannya, kekerasan terhadap perempuan tidak pernah bisa dibenarkan. Sehingga kita semua wajib menolong korbannya dan juga pelakunya, termasuk di dalamnya menghentikan perilaku kekerasannya.

Menurut saya sih pesan yang disampaikan sangat dalam dan sangat kena sekali. Perspektif kekerasan terhadap perempuan berbasis gendernya juga sangat clear. Sedikit hal yang mungkin agak mengganggu adalah ketika beberapa penonton masih menertawakan adegan-adegan atau dialog-dialog yang menyangkut kekerasan seksual, yang please deh, it’s not funny at all! Tapi overall drama musikal A Story of Wounds ini sangat saya sarankan untuk ditonton, a very highly recommended!

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Latest posts by Fitri Indra Harjanti (see all)

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: