The Amazing Suparman: Kosmopolitan Berbalut Kemiskinan

oleh : Ficky Tri Sanjaya
Lahirnya The Amazing Suparman

Sudah bukan barang baru jika kemiskinan menjadi pemicu seseorang hidup dalam keterpurukan. Tetapi tidak begitu  yang terjadi dengan Suparman, sebagai mana namanya yang mirip dengan tokoh super hero itu, ia tetap tidak mau kalah dengan nasib. Walau hidup berbalut kemiskinan, Suparman tetap berani menawar nasib yang menimpa si miskin sebagai daya hidup. Ia tidak mau tunduk dengan perubahan bahkan dalam keadaan melarat, secara kritis, penuh sinisme dan juga kelakar Suparman berani mempertanyakan kewarasan.

Sett panggung Amazing Suparman. Foto : Ajie Wartono

Begitu Suparman tetap merasa bersyukur warisan kemiskinan yang ia dapat dari nenek moyangnya justru semakin membuatnya menjadi manusia yang kuat lahir dan batin. Bahkan dengan warisan kemiskinan beserta ilmunya, justru warisan yang diterimanya dari leluhur tersebut mampu membawa impiannya menjadi pahlawan.  Ilmu ‘patiraga‘,  yang diwarisinya mampu menjadikannya manusia yang ampuh dibandingkan orang kebanyakan.

Suparman menjadi manusia yang kebal apapun. Kebal akan virus isu-isu kosmopolit yang tengah melanda bangsanya, termasuk juga kebal bacok senjata tajam. Suparman yakin warisan ilmu kebal  ‘Patiraga‘ yang diperolehnya itu adalah modal yang akan membawanya ke arah cita-citanya sebagai pahlawan bagi bangsanya.

Naskah monolog yang ditulis oleh Whani Darmawan tersebut nampaknya dikemas dengan bahasa lugas, tidak banyak metafora, penuh berjejalan informasi dengan kemasan ungkapan keseharian yang penuh sindiran lansung tanpa tedheng aling-aling. Dimainkan aktor Yustinus Yantoro atau lebih dikenal dengan Yan Jangkrik pengusaha sablon  yang  pernah bermain teater sejak 1976 bersama Teater Stemka dan Teater Arena.

Pertunjukan ini digelar Sabtu 25 November 2017 di Pendopo Art Space Jl. Prof. Dr. Wiryono Projodikoro (Ringroad Selatan) pukul 19.30.Disutradarai Oleh Andy Sri Wayudi dengan komposisi tim yang lengkap supervisor Ong Hari Wahyu, Pimpinan Produksi Erfianto Wardhana,  penata musik Bagus Mazasupa, Stage Manager Andree Surawan, Lighting Lintang Raditya, Saound Felix Blass dan Mc Annisa Hertami.

Pertunjukan monolog dengan formasi tim yang lengkap tersebut memang membuat pertunjukan tampak matang, serius, dan tertata baik. Sebab lokasi pertunjukan di Pendopo Art Space yang notabene bukan tempat pertunjukan teater dan tidak memiliki fasilitas fasilitas panggung konvensional membuat penyelenggara pertunjukan sudah semestinya bekerja lebih ekstra untuk mewujudkan ‘panggung’ dengan segala uba rampe agar tampak menarik secara artistik.

Malam itu lokasi pangung pertunjukan yang aslinya adalah ruang pamer lukisan telah disulap sedemikian rupa membentuk panggung berukuran lebar kurang lebih 8 meter, berlatar rumah gedhek (bambu) dengan level dan segala peralatan rumah seperti sebuah ruang ‘tamu’ namun lebih tampak seperti ruang apapun. Sebab senyatanya dapur, tempat menjemur pakaian, ruang tidur, tampak menjadi satu ruang campur baur dalam keseluruhan.

Ruangan tersebut berjejalan penuh benda-benda beraneka; selain meja kursi, juga terdapat peralatan dapur, gambar-gambar poster artis 70-80an, arit, sepeda, jemuran, dengan lampu plenthong di tengah.

Lampu temaram, Yan Jangkrik duduk di panggung memainkan gitar kecil melantunkan 2 bait lagu Semut Merah yang dipopulerkan oleh Obbie Mesakh menyambut mesra penonton yang masuk berombongan mencari duduk yang nyaman.

Ketika penonton mulai menempati ruangan dengan baik, Yan Jangkrik mulai mehentikan lantunan lagu memperkenalkan dirinya sebagai mana dikenal oleh umum, tetapi malam itu saat berdiri di atas panggung, di hadapan penonton dia berungkap tidak akan menjadi dirinya seperti yang dikenal oleh penonton dalam keseharian. Sambil berlari menyahut baju, menjemurnya ditali jemuran dalam rumah, diapun berlalu ke belakang panggung.

MC kemudian menyambutnya, memberi pengantar pertunjukan, peringatan larangan pada penonton dan menutupnya dengan teka-teki pada penonton tertuju pada siapakah Yan Jangkrik sebenarnya? Dan apakah yang akan tampil di atas panggung adalah dirinya? Seketika dari samping Yan Jankrik masuk kembali ke panggung kemudian meceritakan biografi tokohnya. Suparman.

Suparman mengendarai kuda kepang. Foto oleh Ajie Wartono
The Amazing Suparman, Tubuh priyayi dan Sebuah Akting Sebagai Orang Miskin

Menurut Rendra dalam buku Seni Drama Untuk Remaja ia menuliskan dengan sederhana peran seorang aktor. Menurutnya aktor yang baik ia harus dapat menjelmakan peran yang hidup sekali. Ia harus dapat memainkan tokoh sesuai karakter yang dimainkan dengan cara yang meyakinkan.

Menafsir pilihan kata Rendra yang sederhana menenai seorang aktor ternyata dibutuhkan kecermatan. Sebab sebagai penyair ternyata beliau memang juga cermat dalam menggunakan bahasa. Seumpama pilihan kata ‘menjelmakan’ yang dipilih sebelum kata peran ternyata memiliki arti mewujudkan diri/lahir kembali sebagai manusia.

Dalam konteks peran dan panggung ‘menjelma’ sebagai aktor yang baik ketika bermain peran di atas pentas tentunya sebagaiman pilihan kata ‘jelma’ di atas aktor dituntut untuk dapat lahir kembali sebagai manusia baru. Tentunya manusia baru yang dimaksud adalah peran manusia yang lain daripada pribadinya dalam keseharian. Sehingga meyakinkan pada orang lain (penonton) bahwa dirinya bukan seperti yang dikenal umum dalam keseharian memang bukan perkara mudah.

Dibutuhkan keyakinan yang kuat baik secara fisik yang tampak maupun non fisik. Sebagaimana yang tampak dalam pertunjukan tokoh Suparman yang seorang miskin dengan kondisi rumah yang campur baur,  ditambah kondisi kemiskinan akut, kesombonganya akan kehidupan yang ideal di tengah perubahan, membuatnya menunjukan sifat dan sikap yang ‘kemproh‘ dan Crobo, apa adanya, seenakanya sendiri, tidak tahu malu, sungguh gerak-geriknya  tampak di atas panggung.

Berkali-kali dia sering meludah sembarangan di dalam rumahnya, menggaruk-garuk ketiak, pantat, dan kemaluanya ketika sedang berbicara penting. Hal-hal ‘menjijikan’ atau aneh bagi sebagian orang tersebut sebenarnya memang lazim dilakukan manusia baik kaya maupun miskin. Hanya mungkin keanehan/ketidaklaziman sikap dan prilaku seseorang tersebut, hannya diketahui orang-orang yang dekat saja dan segelintir orang yang gemar memperhatikan.

Secara keseluruhan nampaknya garapan adegan berisi dialog yang padat. Sehingga sutradara tampak sekali bekerja ekstra keras mencoba memainkan dinamika emosi penonton dengan memasukan gaya bicara, gerakan, tempo peralihan adegan, musik dan lagu yang konteks dengan naskah.

Adegan cukup panjang dan terkadang ada dinamika permainan, sering juga datar. Pilihan lagu barat yang terdengar di saat adegan menegaskan suasana kosmopolitnya seorang Suparman di tengah kemiskinan. Bahkan ketika ia menari jatilan dengan suara irama tetabuhan dimixed dengan beat dangdut, musik-musik tersebut menyuratkan kehadiran Suparman dalam kondisi perubahan arus kontemporer zaman saat ini. Mungkin pilihan-pilhan musik, gerak-gerik ganjil, tarian,  dihadirkan  sutradara untuk menunjukan ke-Amazing-annya dunia Suparman dalam kontaks  naskah.

Sang aktor juga degan berani tampil total mengenakan kostum Superman ketat dan mencukur rambutnya hingga plontos menyisakan selincir rambut membentuk S di jidatnya. Nampaknya secara peran fisik (apa yang tampak) dalam laku, kostum, ucapan dan tidakan Yan Jangkrik di atas panggung mampu lahir menjadi Suparman menjelmakan peran manusia baru ketika berakting tidak sebagai dirinya. Tidak mudah memang memainkan peran Suparman dengan segala kompleksitas karakter yang melingkunginya

Dorongan ketulusan dan kejujuran lebih, terutama dari dalam menjelmakan peran Suparman yang Amazing dalam seluruh adegan-adegan yang dipenuhi tindak tanduk ‘njijiki’ (menjijikan) memang tak mudah. Oleh karenanya aktor dituntut  jujur dan tulus ketika bermain. Sebagai menjelmakan peran Adegan-Adegan yang ‘Njijiki‘  dengan penuh penghayatan bukan sebuah perbuatan dosa. Sebab adegan ataupun gerakan ‘Njijiki‘ sebagai suspend penghibur pertunjukan Suparman nampaknya diperlukan untuk memainkan dinamika emosi penonton. Tetapi sayang Suparman nampaknya berkali-kali gagal membangunnya karena tampak berhati-hati sekali menjadikanya kurang tulus.

The Amazing Suparman dengan sepeda mini. Foto : Ajie Wartono

Dinamika-Dinamika supend dari gerak-gerak kecil tubuh, gestur, pengucapan suara, interaksi dengan penonton tampaknya nanggung. Sehingga Suparman nampak berekting secara fisik menjadi ‘orang miskin’ namun tidak tanduknya yang tidak tulus dan penuh kehati-hatian sebagai ‘orang miskin’ yang nggaya plus ‘Njijiki‘ kurang tercapai. Nampaknya tindak tanduk seorang yang tidak tulus dan rasa ke kehati-hatian lebih-lebih menampakan watak milik seorang ‘priyayi’ bukan watak seorang The Amazing Suparman. Meski menarik, ternyata banyak hal-hal kecil-kecil yang kadang ‘njijiki‘ dan aneh tetapi dilakukan dengan kurang tulus tersebut jadi tampak menganggu. Pertunjukan kurang lebih 60 menit yang mungkin akan hidup jika dinamika suspen-suspen kecil tersebut jadi, justru tampak menjadi fisikal sekali tanpa arti karena tak terhayati motivasinya dari dalam.

Walau begitu salut buwat Yan Jankrik di usianya yang menginjak 60 tahun masih memiliki semangat, keberanian, dan produktifitas untuk sesalu bereksplorasi dalam setiap proses penciptaan karyanya. Salam Amazing.

Sedayu 29 November 2017

*Ficky Tri Sanjaya, aktor, pegiat mime dan aktivis anak-remaja. Tinggal di Bantul. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *